Apa yang Terjadi Pada Otak Ibu Saat Mendengar Bayinya Menangis?

amotherfarfromhome.com

Gulalives.co – Menangisnya bayi adalah cara mereka untuk berkomunikasi. Entah itu menangis untuk memberi tahu jika ia lapar, haus, ngompol, takut, atau berbagai situasi lainnya yang membuatnya tidak nyaman. Dan, sebagai ibu, biasanya akan lebih cepat merespon saat bayinya menangis, daripada si ayah. Ternyata, kecepatan reaksi ibu untuk bertindak menenangkan bayinya yang menangis ini dipengaruhi oleh aktivitas otaknya yang berbeda dari waktu lain.

Related image
klokanica.24sata.hr

Hubungan ibu dan bayi merupakan sebuah ikatan yang sangat kuat. Apalagi, ibu dan bayinya sudah berbagi perasaan selama 9 bulan saat di kandungan. Ketika mendengar tangisan sang bayi, ibu tentu akan langsung menghampiri anaknya. Namun, pernahkah kamu bertanya, apa yang terjadi pada otak ibu saat mendengar tangisan bayinya?

Sebuah penelitian baru-baru ini menyatakan, terlepas dari budaya, otak para ibu menunjukkan aktivitas yang sama saat mendengar bayinya menangis. Temuan yang dipublikasikan dalam Proceedings National Academy of Sciences ini menguatkan gagasan tentang naluri maternal biologis.

Dalam penelitian tersebut, para ibu baru dari 11 negara secara konsisten mengangkat, menahan, dan mengajak bicara bayinya, ketika mendengar mereka menangis. Para ibu yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari Argentina, Belgia, Brasil, Kamerun, Prancis, Israel, Italia, Jepang, Kenya, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Peneliti yang dikepalai Marc Bornstein, Kepala bagian National Institute of Child Health and Human Development, melakukan pemindaian MRI pada otak ibu saat mendengar tangisan bayinya. Para peneliti menemukan bahwa para ibu memiliki tanggapan yang konsisten terhadap bayi yang menangis.

“Dalam waktu yang sangat singkat sejak tangisan dimulai, lima detik, mereka lebih suka menggendong atau berbicara dengan bayi mereka,” kata Bornstein dikutip dari CNN.

Tujuan pemindaian MRI pada otak para ibu adalah untuk menemukan hubungan antara otak dan perilaku. Dari pemindaian MRI tersebut, tim peneliti menemukan tangisan bayi menyebabkan aktifitas otak serupa pada ibu baru atau yang telah membesarkan anak.

Tangisan bayi juga merangsang area otak yang berhubungan dengan gerakan dan pembicaraan. Pencitraan MRI menunjukkan suara tangisan bayi juga mengaktifkan daerah yang terlibat dalam produksi atau proses suara. Robert Froemke, ilmuwan syaraf dari New York University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut ikut menanggapi temuan ini.

“Area otak yang diaktifkan dalam penelitian ini digambarkan sebagai area ‘kesiapan’ atau ‘perencanaan’. Ada juga aktivasi bagian pendengaran dalam otak yang meluas. Ini masuk akal karena tangisan bayi adalah sebuah alarm,” jelas Froemke.

Hormon Oksitosin Berperan Sebagai Penentu Respon Ibu Saat Menanggapi Tangisan Bayinya

Related image
parents.com

Selain dopamin, hormon oksitosin berperan besar dalam mengatur respon ibu dalam menanggapi tangisan bayinya. Froemke menyatakan bahwa hormon ini memainkan peran penting dalam menjalin ikatan batin ibu dengan bayi setelah melakukan percobaan pada tikus.

Froemke sendiri sebelumnya mempelajari tentang oksitosin, hormon yang berperan penting dalam ikatan ibu dan bayi pada tikus. Ia juga memeriksa bagaimana oksitosin membantu membentuk otak ibu untuk merespon kebutuhan sang bayi. Ia juga mengatakan bahwa hormon oksitosin membantu membentuk otak ibu untuk merespon berbagai kebutuhan anaknya.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa ibu yang melahirkan normal dan menyusui memiliki respon otak yang lebih kuat saat bayinya menangis dibandingkan ibu yang melahirkan secara caesar dan memberikan susu formula untuk anaknya. Salah satu alasan kuat yang mendasari hal ini karena keterlibatan hormon oksitosin di kedua proses tersebut.

Pasalnya, ketika bayi didekatkan ke payudara untuk disusui, tubuh memicu oksitosin untuk membanjiri otak. Oksitosin berperan untuk meningkatkan ikatan, empati, dan rasa bahagia lainnya yang membantunya menjalin hubungan yang erat dengan bayinya. Dikarenakan menangis adalah satu-satunya alat komunikasi bayi, maka otak ibu terancang sedemikian rupa untuk memahami dan bereaksi secara khusus untuk merespon tangisan bayi.

“Pada manusia, seperti penelitian Bornstein di atas, oksitosin dan bahan kimia otak lainnya dapat memperkuat urgensi untuk menanggapi bayi yang menangis,” kata Froemke.

“Penelitian ini berkontribusi pada literatur yang ada mengenai otak ibu (manusia) dengan mengidentifikasi daerah otak yang sensitif terhadap suara tangisan bayi di seluruh budaya,” kata Pilyoung Kim, profesor psikologi dari University of Denver yang juga tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Secara keseluruhan, temuan tersebut menunjukkan tanggapan ibu terhadap tangisan bayi terprogram dan dapat digeneralisasikan di seluruh budaya,” tulis peneliti seperti yang dikutip melalui Dailymail.

Otak Ibu Bekerja Lebih Cepat dan Sensitif Saat Bayinya Menangis

Related image
me-to-we.nl

Bagi orang luar yang melihat respon cepat seorang ibu untuk menenangkan bayinya yang menangis dianggap sebagai naluri keibuan. Tapi sebuah studi di Journal of Neuroendocrinology menyatakan bahwa ada beberapa bagian otak ibu yang bekerja lebih aktif ketika mendengar bayinya menangis.

Bagian-bagian otak tersebut adalah suplementary motor, frontal inferior, temporal superior, otak tengah, dan striatum. Dan adanya perubahan fungsi otak pada ibu sebenarnya dimulai semenjak kehamilan. Perubahan fungsi otak ini juga turut dipengaruhi oleh peningkatan hormon dopamin selama hamil untuk mempersiapkan dirinya menjadi orangtua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here