10 Kesalahan yang Justru Dianggap Lumrah oleh Wanita Zaman Sekarang

0
131 views
rebelcircus.com

Gulalives.co – Menyedihkan memang, saat wanita zaman sekarang semakin hari justru semakin menganggap hal-hal yang salah menjadi sesuatu yang lumrah. Seolah dunia membuat mereka mengesampingkan akhirat, melupa jika akhir cerita (kiamat), tidak menunggunya untuk taubat. Kematian tetaplah rahasia, yang tak pernah bisa ditebak.

Related image
psmag.com

Mau sampai kapan asik dengan kesalahan-kesalahan yang nantinya justru menjadi tiket pengirim mereka ke neraka? Mau sampai kapan asik dengan dunia dan melupa jika tujuan akhir kita adalah surga? Teruntuk, wanita zaman sekarang pun wanita di manapun kalian berada.

Izinkan tulisan kali ini menjadi pengingat untuk kita semua, agar kita bukan bagian dari golongan mereka yang menghabiskan waktunya di neraka. Maka, ketahuilah 10 kesalahan yang kerap dilakukan oleh wanita. Jika masih ada yang kamu lakukan, hentikan sekarang juga. Jangan tunda, meski sedetik.

Berpakaian tapi Telanjang, dan Kepala yang Menyerupai Punuk Unta

Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya yaitu: sebuah kaum memegang cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk-cambuk tersebut, dan perempuan yang mengenakan pakaian tetapi seperti telanjang, bersolek diri untuk memperdaya laki-laki, kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang sudah miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium baunya, sebab sesungguhnya bau surga itu akan tercium dari jarak perjalanan ini dan itu.”

Istri yang Memamerkan Diri Saat Ditinggal Pergi oleh Suaminya

Hadits dari Fudhalah bin Ubaid Radhiyallahu ‘Anhu: “Tiga golongan tidak akan diminta pertanggungjawaban. Seorang laki-laki yang memisahkan diri dari kelompoknya dan mengkhianati pemimpinnya, lalu meninggal dalam keadaa berkhianat, hamba sahaya yang melarikan diri dari tuannya lalu meninggal, dan perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya dengan dibekali harta, kemudian ia pergunakan untuk berdandan dan memamerkan diri. Mereka tidak akan diminta pertanggungjawaban.”

Rambut Palsu

Related image
alodokter.com

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa seorang hamba sahaya dari Anshar menikah dalam keadaan sakit, sehingga rambutnya menjadi rontok, maka orang-orang ingin menyambung rambutnya yang rontok itu, lalu mereka menanyakannya kepada Rasulullah. Maka beliau melaknat perempuan yang menyambung rambut atau yang minta disambungkan. (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Muslim)

Tato

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, serta perempuan yang mentato dan minta ditatokan. (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Muslim dalam “Kitabul-Lisasi Wazzinati.)

Mengubah Ciptaan Allah yang Ada pada Dirinya

“Allah melaknat perempuan yang menato atau minta ditatokan, perempuan yang mencukur rambut di wajah, perempuan yang menambal gigi untuk keindahan dan mengubah ciptaan Allah …”

Baca Juga: 15 Ciri Wanita Ahli Neraka, Naudzubillah

Mengumbar Aurat

Kesalahan ini termasuk kesalahan wanita zaman sekarang yang paling besar, karena selain menjadi pelanggaran terhadap syariat Allah dan Rasul-Nya, ia juga akan menjadi penyebab datangnya mudharat, baik bagi wanita itu sendiri, pun bagi orang lain.

Seorang wanita yang tidak menutup auratnya saat hendak keluar rumah, atau ketika berhadapan dengan seorang yang bukan mahramnya, maka akan terangkat atau hilang harkat dan martabatnya.

Karena aurat adalah sesuatu yang aib (malu) untuk diperlihatkan, sehingga jika aurat seorang wanita nampak, maka akan nampak pula aibnya, dan ia akan merasa malu karenanya. Sayangnya, wanita zaman sekarang justru tidak lagi merasa malu untuk membuka auratnya, dan menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Menyedihkan.

Gemar Berkeliaran

Sebaik-baiknya tempat untuk seorang wanita adalah rumahnya. Tempat ia melaksanakan semua aktivitas. Rumah adalah medan jihad bagi kaum wanita, sama dengan peperangan yang menjadi medan jihad bagi kaum laki-laki. Namun, wanita masih diperbolehkan untuk keluar dari rumah, jika ada keperluan yang dibenarkan menurut syariat, misalnya untuk menuntut ilmu. Itupun dengan syarat:

  • Wajib menutup auratnya (mengenakan hijab syar’i),
  • Seizin suami atau walinya, dan
  • Disertai mahram (jika safar atau keluar rumah malam hari untuk keperluan darurat).

Seorang wanita mukminah sepatutnya menanamkan rasa malu pada dirinya, apabila ia keluar rumah terlalu lama apalagi untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu ia lakukan. Apalagi jika itu hanya sekedar untuk refreshing, jalan-jalan di mal, pergi ke tempat hiburan, dan lain sebagainya, seperti apa yang kerap dilakukan wanita zaman sekarang.

Ketahuilah jika saat seorang wanita keluar dari rumahnya, maka setan akan menjadikannya indah dalam pandangan manusia, sehingga ia rentan terhadap berbagai godaan dan fitnah.

Intinya, jika memang tidak ada suatu keperluan yang memang benar-benar penting, maka lebih baik berdiam dirilah di rumah, agar terjaga diri dan kehormatannya, dan terjaga pula sekitarnya dari kemungkinan perilaku amoral dan asusila.

Baca Juga: Ciri Wanita yang Tak Bisa Mencium Wangi Surga, Naudzubillah

Melakukan Perbuatan dan Perkataan Maksiat

Jika ada yang bertanya, apa yang suka dilakukan kaum wanita selain mengurus rumah tangga? Maka biasanya orang akan menjawab: “Ngerumpi”. Seolah ngerumpi sudah menjadi trend mark wanita zaman sekarang. Menyedihkan.

Sudah menjadi rahasia umum jika yang dibicarakan itu adalah isu pun gosip seputar masalah rumah tangga, perselingkuhan, dan kabar angin yang belum tentu kebenarannya. Luka lebih dalam tercipta saat wanita zaman sekarang seolah masa bodo dengan sekitar saat hendak melakukan maksiat. Meneriakan kata, “Tubuh gue hak gue!” Astaghfirullah.

Durhaka pada Suami

Related image
media.ihram.asia

Durhaka pada suami adalah menolak untuk melakukan apa yang diminta oleh suami (permintaan yang tidak menentang ajaran agama). Padahal, melaksanakan perintah suaminya selama itu dalam ketaatan pada Allah ‘Azza wa jalla adalah kewajiban istri.

Begitu besarnya kewajiban istri untuk mengikuti suami, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyampaikan bahwa, jika sekiranya beliau diperbolehkan memerintahkan seorang manusia untuk bersujud kepada manusia yang lain, maka beliau akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka.

Sayangnya, yang terjadi pada wanita zaman sekarang di masyarakat kita adalah adanya kecenderungan istri yang membangkang pada suami mereka, termasuk dalam hal kelalaian mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai istri pun ibu rumah tangga.

Mereka lebih senang sibuk dalam aktivitas di luar rumah, mengejar karir, hingga melupakan urusan rumah tangga, dan menganggap pekerjaan melayani suami sebagai pekerjaan yang merendahkan martabatnya, menyerahkan urusan merawat anak pada asisten rumah tangga atau baby sitter, sibuk dalam berbagai perkumpulan arisan atau klub lainnya.

Tidak heran jika kemudian keluarga yang terbentuk nantinya adalah keluarga yang jauh dari kriteria baiti jannati, rumah yang benar-benar menjadi tempat tinggal sesungguhnya bagi para anggota keluarga.

Kemudian yang terjadi, karena tidak mendapati istrinya di rumah, suami menjadi ‘jajan’ di luar, anak-anak yang mencari perlindungan dan tidak mendapatkannya, mulai terjerumus ke dalam narkoba, pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Naudzubillah.

Lalai dalam Melaksanakan Perintah Agama

Dari beberapa pemaparan di atas, dapat kita lihat bahwa semua kesalahan tersebut bermula dari kurangnya pemahaman sebagian besar kaum wanita (muslimah) terhadap syariat Islam.

Juga disebabkan karena kurangnya ilmu mereka tentang syariat, hingga menyebabkan sebagian besar muslimah beranggapan bahwa syariat ini terlalu mendiskreditkan wanita. Mereka berpendapat bahwa Islam hanya menempatkan wanita dalam posisi yang lemah.

Padahal sesungguhnya, jika mereka memahami Islam dengan baik, maka mereka akan mengetahui bahwa hanya Islam-lah yang mampu menempatkan wanita pada posisi yang paling proporsional, karena sesuai dengan fitrah dan kemampuan yang ada pada diri wanita itu sendiri.

Ya Allah, semoga tulisan kali ini mampu menyadarkan kita, mengingatkan kita, untuk kembali ke jalan yang benar. Berhenti melakukan kesalahan-kesalahan tersebut. Marah karena membaca hal di atas?

Tak apa, artinya hati kita belum mati, dan merasa tersindir. Selanjutnya, jangan berhenti pada rasa marah, tapi bicaralah dengan Allah lewat ibadah, insya Allah di sana akan kita dapati jawaban, syukur-syukur kita bisa menggapai hidayah. Aamiin.

*Ashaabu Halaaki wa Najaati An-Nisaa’ (Kehancuran dan Keselamatan Wanita), oleh Khalid Ramadhan Hasan

LEAVE A REPLY