Teguran Untukmu yang Kerap Menyepelekan Kata Insya Allah

wordpress.com

Gulalives.co – Kita perlu paham dengan baik, bahwa insya Allah bukan ucapan basa-basi, atau dijadikan sebagai tempat berlindung dari ketidakteguhan janji. Insya Allah mengandung pendidikan tentang sikap tawadhu.

Related image
fiqhmenjawab.blogspot.com

Perintah atau anjuran mengucapkan insya Allah, ada di dalam firman Allah SWT, yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi kecuali dengan menyebut insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa, dan katakanlah: mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini,” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Ayat ini turun sebagai peringatan terhadap Nabi Muhammad SAW, atas ucapannya terhadap orang-orang Quraisy yang menanyakan kepada beliau tentang roh, kisah Ashabul Kahfi, dan kisah Zulkarnaen.

Saat itu, Rasulullah mengatakan, “Besok akan aku kabarkan kepada kamu atas pertanyaanmu itu,”

Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak memuji atau menyebut nama Allah, dan mengucapkan insya Allah. Maka turunlah ayat 23 dan 24 tersebut, yang mengingatkan kita untuk tidak boleh mengatakan atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain, kecuali mengaitkannya dengan kehendak Allah, atau mengucapkan insya Allah.

Namun, sayangnya zaman sekarang kata insya Allah justru seperti dianggap sepele. Banyak dari mereka yang tidak menganggap insya Allah menjadi sebuah janji yang besar, kebanyakan dari mereka justru menggunakan kalimat ini untuk menghindari janji, atau sengaja ingin tidak menepati janji.

Baca Juga: 10 Cara Mendidik Anak Perempuan dalam Islam

Allah memang menyuruh kita untuk mengucapkan insya Allah, tapi bukan semata-mata untuk dipermainkan. Kebiasaan buruk ini pun berdampak pada masyarakat luas, hingga kini mulai tidak percaya pada setiap orang, termasuk yang sungguh-sungguh mengucap kata insya Allah.

Padahal, sebagai seorang muslim, janji adalah hutang yang harus ditunaikan. Dan, ucapan ini pun bukan sekadar kalimat alternatif untuk menolak secara halus permintaan pihak yang ingin kita jaga hatinya.

Kita sama-sama tahu kan, jika seseorang mengucap insya Allah, berarti dia sedang bersumpah atas nama Allah? Artinya, dia harus benar-benar mengupayakan diri untuk berkomitmen menepati janji yang sudah ia ikrarkan.

Allah menegur keras perbuatan seperti ini, “Dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu),” (QS. An-Nahl: 91)

Jika seseorang tidak menyebut insya Allah, kemudian ia tidak menepati janjinya, maka ia digolongkan sebagai pendusta. Namun, jika ia menyebut insya Allah, kemudian nyatanya dia tidak melakukannya setelah berusaha semaksimal mungkin, maka ia tidak digolongkan sebagai pendusta, karena Allah belum menghendakinya untuk melakukan hal tersebut.

Bagaimana jika kata insya Allah seolah dijadikan tameng untuk memperdayakan sesama manusia, atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab? Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa, yakni:

Related image
hijaz.id
  • Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya, dan
  • Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri, karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan rekan, kawan, relasi, atau bahkan keluarga sendiri.

Wallahu a’lam.

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY