Tayangan Mendidik akan Membangun Kualitas Anak Bangsa

gambar via: mobdecor.com

“Itu remote bom atau vibrator?”

gambar via: wordpress.com
gambar via: wordpress.com

Itu salah satu dialog di akhir film Comic 8 Part 2.
Remote bom dalam film tersebut dirancang berbentuk panjang seperti kemaluan pria, hingga pertanyaan itu muncul, “Itu remote bom atau vibrator?”

Salah satu penontonnya beropini “Setahu saya, belum pernah ada film Indonesia bahkan film barat umum non blue, apalagi film segala umur, yang memperkenalkan vibrator. Dan itu ditonton oleh jutaan anak Indonesia dan gadis berjilbab, anak-anak kita. Pak vibrator itu apa sih? Tanya seorang anak di sebelah saya kepada Bapaknya. Yang ditanya tertunduk malu, bingung harus menjelaskan apa.”

Ia pun (penonton tadi, red.) juga mengkritisi adegan lain saat bom meledak. Satpam terlempar dan jatuh dalam posisi di atas tubuh Indro yang sedang jatuh juga. Keduanya nungging dan menumpuk seperti posisi seperti anjing kawin.
Lalu Indro yang tertindih dari belakang berujar, “Kamu biasa posisi dari belakang, ya?”
“Apakah ini merupakan kesengajaan Propaganda LGBT? Astaghfirullah” ujarnya.

gambar via: colourbox.com
gambar via: colourbox.com

“Pada adegan lain, Nikita Mirzani melahirkan dengan blak-blakan dipertontonkan auratnya, bagian paha.
Apakah adegan ini layak ditonton anak-anak?”
Tambahnya lagi “Berikutnya adegan Sophia Latjuba di kolam renang. Penonton dibiarkan membayangkan sang bintang mandi tanpa busana. Lalu ketika Panji datang Sophia naik dalam kolam renang. Penonton dibiarkan membayangkan sang bintang keluar (maaf) tanpa busana, tapi hanya Panji yang bisa lihat karena kamera terhalang oleh badan Panji.
Panji kaget karena ternyata Sophia masih punya kemaluan pria (tampilannya saat itu hanya disiratkan). Lalu sang ratu berkata bahwa dirinya adalah King Kong – pria yang dulu suka dengan sang dokter (gay) tapi kini berubah menjadi wanita tapi tetap membiarkan kemaluan pria agar tetap ingat dari mana ia berasal (wanita dulunya pria).
Bukankah ini sebuah propaganda transgender?”

Gulalives.com mengutip poin penting yang disampaikan penonton tadi yaitu tidak untuk mengkritisi film ini sebagai mana orang lain yang menganggap film tersebut sebenarnya kurang bermutu, humornya garing, cerita yang tidak jelas, dll.

Tetapi ia hanya khawatir semakin banyak yang menonton film ini, maka jutaan anak Indonesia akan semakin percaya bahwa pornografi adalah hal biasa, perilaku menyimpang adalah hal biasa dan transgender adalah hal biasa. Seharusnya kita bisa bahagia melihat film Indonesia yang satu ini begitu sukses di pasaran. Sayangnya semakin sukses film tersebut, mungkin demoralisasi bangsa makin marak. Moral anak-anak Indonesia makin terancam.
Menurutnya juga, film ini menyelipkan begitu banyak unsur pornografi, LGBT dan pesan demoralisasi.

gambar via: momtastic.com
gambar via: momtastic.com

Penutupnya ia sampaikan “Saya hanya kasihan dengan orang tua yang begitu sulit menjaga anaknya dari isu LGBT – tiba-tiba ketika anaknya ingin mendapatkan hiburan tapi justru mendapat pendidikan dini pornografi. Begitu juga adik adik berjilbab yang dididik menjaga aurat oleh orang tua dan guru, di film ini justru dididik untuk terbiasa melihat buka-bukaan adalah hal yang wajar. Jadi pertanyaannya apakah kita rela anak-anak kita, remaja diracuni moralnya?”

Apakah Sobat sependapat dengan penonton tadi? Adakah film produksi dalam negeri saat ini yang bisa direkomendasikan untuk ditonton oleh anak-anak Indonesia? Berikan opini sobat Gulalives.com yaa.

gambar via: 123rf.com
gambar via: 123rf.com
SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY