Ini Hal yang Harus Diketahui Tentang Tahun Kabisat

Gulalives.com, SEMARANG – Ladies, tahun ini kita sama-sama mengetahui adalah tahun kabisat. Nah, apakah itu tahun kabisat? Mari kita cari tahu.

Tahun kabisat atau disebut Leap year adalah tahun yang mengalami penambahan satu hari dengan tujuan untuk menyesuaikan penanggalan dengan tahun astronomi. Dalam satu tahun tidak secara persis terdiri dari 365 hari, tetapi 365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik.

Tahun kabisat merupakan tahun yang mana tanggal pada bulan Februari ditambahkan satu hari. Hal ini dikarenakan Bumi membutuhkan waktu 365,2422 hari untuk mengitari matahari, sementara kalender masehi atau kalender Gregorian menggunakan 365 hari dalam satu tahun. Dengan demikian, setiap empat tahun sekali harus ditambahkan satu hari tambahan agar waktu revolusi Bumi terhadap matahari tetap akurat.

Ilustrasi tahun kabisat. (Foto: CNN)
Ilustrasi tahun kabisat. (Foto: CNN)

Nah, tahun kabisat terjadi setiap empat tahun sekali, selalu ada yang berbeda di bulan Februari seperti yang terjadi pada tahun 2016 ini. Pada umumnya bulan Februari hanya sampai tanggal 28, namun setiap empat tahun waktu di bulan Februari bertambah satu hari yaitu sampai tanggal 29. Penambahan satu hari ini berpengaruh pula terhadap penambahan hari dalam hitungan satu tahun dari 365 menjadi 366 hari. Hal inilah yang disebut tahun kabisat.

Secara umum, tahun kabisat bisa dimaknai sebagai tahun yang bisa dibagi dengan angka empat. Keunikan tahun kabisat ini ternyata sudah ada sejak ribuan tahun lalu pada zaman Julius Caesar yang memimpin Kekaisaran Romawi. Penentuan tahun kabisat ini bermula dari kebingungan soal penanggalan yang tidak tepat di mana bumi membutuhkan waktu yang tidak tepat 365 hari untuk mengelilingi matahari. Sebenarnya, bumi butuh waktu 365-seperempat hari.

Terdapat algoritma mudah untuk menentukan apakah suatu tahun termasuk tahun kabisat atau bukan, yakni jika angka tahun itu habis dibagi 400, maka tahun itu sudah pasti tahun kabisat. Kemudian, jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400 tetapi habis dibagi 100, maka tahun itu sudah pasti bukan merupakan tahun kabisat. Selanjutnya, jika angka tahun itu tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100 akan tetapi habis dibagi 4, maka tahun itu merupakan tahun kabisat. Terakhir, jika angka tahun tidak habis dibagi 400, tidak habis dibagi 100, dan tidak habis dibagi 4, maka tahun tersebut bukan merupakan tahun kabisat.

Februari Dapatkan Hari Tambahan

Julius Ceaser perintis Tahun Kabisat. (Foto: Mises)
Julius Ceaser perintis Tahun Kabisat. (Foto: Mises)

Alasan dibalik mengapa bulan Februari mendapatkan kehormatan untuk memiliki hari kabisat memang cukup unik. Awalnya, Februari memiliki hari yang sama dengan bulan lainnya, yaitu 30 hari. Namun, pada saat Julius Caesar berkuasa, ia ingin agar bulan dengan namanya, yaitu Juli, ditambahkan satu hari.

Nah, hal tersebut juga dilakukan oleh Augustus Caesar yang juga meminta menambahkan satu hari untuk bulan Agustus. Alhasil Februari lah yang menjadi “korban” dan untuk “menyeimbangkan” perhitungan kalender, maka tahun kabisat “dihadiahkan” ke bulan Februari.

Seperti sama-sama diketahui, bahwa penanggalan masehi dimulai ketika Julius Caesar meminta para astronom kerajaan Roma untuk membuat sistem penanggalan yang lebih akurat. Dari sana lahirlah penanggalan masehi dengan total penanggalan 365 hari dan kompensasi satu hari setiap empat tahun.

Pada tahun 1582, diketahu bahwa revolusi Bumi terhadap matahari tidak tepat 365,25 hari. Hal tersebut membuat Paus Gregory XIII meminta astronom untuk menghitung ulang penanggalan masehi. Sejak saat itu, sistem kabisat disempurnakan dengan tambahan aturan, yaitu tahun kabisat tidak berlaku untuk tahun yang tidak habis dibagi 400. Sistem tersebut masih digunakan hingga saat ini, namun harus dikalkulasi ulang setiap 10.000 tahun.

Mengenal Leap Second

Leap year tahun kabisat Google
Leap year tahun kabisat Google

Ladies, sistem Leap Second memang tidak berhubungan langsung dengan tahun kabisat, namun sangat berpengaruh pada sistem perhitungan waktu. Leap Second merupakan sistem untuk menghitung waktu perlambatan revolusi Bumi terhadap matahari, yang mana waktu revolusi tersebut setiap tahunnya melambat 0,002 detik.

Hal tersebut memang terlihat sepele, namun juga sangat penting karena jika dibiarkan akan berakibat waktu di Bumi tidak lagi sinkron dengan rotasi dan revolusinya. Sistem Leap Second sempat membuat berbagai layanan digital mengalami “crash” untuk beberapa waktu karena kebanyakan layanan tersebut menggunakan sistem waktu berdasarkan jam atom yang bersifat konstan. (DP)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here