Steve Jobs Berbagi Rahasia Sukses yang Bisa Kita Tiru

Gulalives.com, JAKARTA – Nama Steve Jobs sering diperbicangkan bahkan setelah ia meninggal. Pendiri raksasa teknologi Apple ini, semasa hidupnya pernah berbagi pengalaman hidup dalam sebuah pidato di Stanford University.

Jobs berbagi pengalaman hidupnya kepada mahasiswa lulusan kampus tersebut sebagai pelajaran yang dapat diikuti oleh siapa pun.

Apa saja pesan Jobs yang bisa kita tiru dalam menjalani kehidupan yang keras ini:

Ikuti kata hati dan percaya dengan yang kamu lakukan

Steve Jobs, pendiri Apple. Foto: Getty Images
Steve Jobs, pendiri Apple. Foto: Getty Images

“Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan dan tidak tahu bagaimana kuliah membantu saya. Di sini saya menghabiskan semua uang orang tua saya yang dikumpulkan sepanjang hidup mereka. Jadi saya memutuskan untuk drop out dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sangat menakutkan pada saat itu, namun juga merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat,” ujar Jobs.

Enam bulan di tahun pertamanya kuliah di Reed College, Jobs memutuskan untuk drop out karena beberapa masalah yang dihadapinya. Walau status mahasiswanya telah hilang, Jobs tetap berada di sekitar lingkungan kampus. Ia mengikuti mata kuliah yang menjadi minatnya, seperti kelas kaligrafi yang mengeksplorasi font yang berbeda, ruang variabel antara huruf, dan sebagainya.

Ternyata, setelah 10 tahun kemudian, tipografi yang dipelajari Jobs dituangkan ke dalam Macintosh sehingga menjadi komputer pertama dengan tipografi yang indah.

Keputusannya juga telah membawa dirinya menuju kesuksesan, bukan hanya karena kerja kerasnya. Karena ia mengikuti hatinya dan melakukan apa yang ingin ia kerjakan.

Ambil hikmahnya

Steve Jobs, pendiri Apple. Foto: Likesuccess
Steve Jobs, pendiri Apple. Foto: Likesuccess

“Saya bahkan berpikir untuk lari dari Sillicon Valley. Tetapi perlahan saya sadar bahwa saya masih menyukai pekerjaan ini dan memutuskan untuk memulai ulang dari awal,” urai Jobs.

Hal terburuk yang dialami Steve Jobs yaitu saat pemecatan dirinya dari Apple, 10 tahun setelah ia mendirikan perusahaan tersebut. Pada saat itu, Steve Jobs dipecat langsung atas perintah John Sculley, seorang eksekutif yang direkrut dan dipekerjakan sendiri olehnya.

Kejadian tersebut mungkin menjadi hal terburuk baginya, karena apa yang telah menjadi fokus dari seluruh kehidupan Steve telah hilang dan hancur. Akan tetapi, mungkin juga ini menjadi hal terbaik bagi hidupnya.

Akhirnya selama lima tahun setelah itu, Steve mendirikan perusahaan baru bernama NeXT lalu bertemu sekaligus jatuh cinta pada istrinya. Hal ini tidak akan pernah terjadi apabila ia tidak dipecat dari Apple dan ini adalah hal terbaik yang bisa terjadi dari hal terburuk yang menimpa dirinya.

“Kadang hidup memukul kepala kamu dengan batu bata. Jangan putus asa! Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Dan tugas kamu adalah menemukan apa yang kamu sukai,” tambahnya.

Lakukan sesuatu seolah kamu akan meninggal besok

Stave Jobs, pendiri Apple. Foto: Newyorker
Stave Jobs, pendiri Apple. Foto: Newyorker

“Jika kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan sukses,” saran Jobs.

Ketika berusia 17 tahun, Steve membaca sebuah catatan yang sangat mengesankan, isinya kurang lebih seperti di atas. Sejak saat itu, setiap hari Steve bercermin di depan kaca dan bertanya pada dirinya sendiri.

“Jika hari ini adalah hidup terakhir saya, Apa saya bisa melakukan apa yang ingin saya dapatkan? jawabannya selalu ‘Tidak’. Namun, setelah beberapa hari mengulang pertanyaan yang sama, akhirnya saya sadar bahwa saya harus mengubah sesuatu,” kata Steve.

Kemudian, Steve bercerita tentang hidupnya yang sudah tidak lama lagi karena ia didiagnosa menderita kanker pankreas. Bukan menjadi penghalang, hal ini justru menjadi motivasi terbesar bagi Steve untuk membuat keputusan terbaik dalam hidupnya.

“Karena hampir semua harapan, kebanggaan, rasa takut, malu, atau kegagalan akan tidak ada ketika menghadapi kematian, kecuali meninggalkan apa yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kita semua akan mati adalah cara terbaik untuk menghindari jebakan berpikir yang selalu tertuju pada kegagalan. Kamu sudah telanjang, tidak ada alasan untuk menyerah. Cukup ikuti kata hatimu,” ujar pendiri Apple dalam pidatonya.

Ikuti kata hati

Steve Jobs, pendiri Apple. Foto: Telegraph
Steve Jobs, pendiri Apple. Foto: Telegraph

“Jangan sia-siakan hidup untuk mengikuti hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma yang hidup dari hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan kebisingan pendapat orang lain menenggelamkan suara batinmu sendiri. Dan, yang paling penting, kamu harus memiliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi sendiri. Entah bagaimana, mereka sudah tahu apa yang benar-benar kamu ingin lakukan. Segala sesuatu yang lain adalah sekunder,” ujarnya.

Steve mengingatkan bahwa waktu yang kita miliki sangatlah terbatas, sehingga kita harus berhati-hati menghabiskannya dengan mengikuti kata hati.

Stay Hungry Stay Foolish

Ini adalah kalimat Steve Jobs yang fenomenal. Steve mengakhiri pidatonya dengan kalimat yang ia ambil dari sampul belakang edisi terakhir dari katalog Whole Earth Catalog. ”Stay hungry stay foolish!”, yang memiliki arti agar kita terus memiliki ambisi dan jangan pernah takut mengambil sebuah risiko dalam hidup.

Kemudian, di akhir kalimatnya, Jobs menyampaikan harapannya kepada semua lulusan Stanford untuk menjalani hidupnya yang lebih baik dengan percaya pada apa yang dikatakan oleh hati seperti apa yang dilakukan oleh Jobs hingga Apple bisa sesukses sekarang. (VW)

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY