Sentuhan Batik Ningrat ala Itang Yunasz di IFW 2016

Gulalives.com, JAKARTA – Pergelaran fesyen terbesar Indonesia Fashion Week 2016 yang berlangsung 10-13 Maret lalu menghadirkan koleksi desainer senior Itang Yunasz.

Itang merilis tema ‘Kanjeng’ untuk koleksi label Itang Yunasz ‘ Ready To Wear’. Koleksi ningrat ini menghadirkan busana muslim dengan sentuhan batik ala bangsawan yang memikat mata.

Koleksi Itang Yunasz di Indonesia Fashion Week 2016. Foto: Dream.co.id
Koleksi Itang Yunasz di Indonesia Fashion Week 2016. Foto: Dream.co.id

Beragam keindahan motif batik dituangkan desainer senior ini dalam potongan busana muslim khusus untuk perempuan yang suka tampil feminin dan memancarkan aura elegansi yang tidak norak.

Itang tanpa ragu mengkreasikan gaun panjang dipadu dengan selendang batik  yang menjuntai indah.

Desainer yang dulu juga menjadi penyanyi ini masih memakai ciri khasnya dalam pegelaran busana kali ini yakni, dengan memakai kain sutra ke dalam semua koleksi busananya.

Filosofi Kanjeng dalam Karya Itang Yunasz

Itang menjelaskan, dalam budaya Jawa, ‘Kanjeng’ merupakan gelar yang diberikan kepada seseorang berkedudukan tinggi di Jawa (setara dengan bendoro). Sebutan ini juga kerap digunakan untuk orang setingkat bangsawan di lingkungan istana.

Sesuai tema yang diangkatnya, Itang  memang menghadirkan aura elegan dan glamor layaknya perempuan ningrat.

Motif batik hokokai
Motif batik hokokai

Di IFW 2016, Itang memamerkan delapan set busana yang  didominasi gaun dengan rok melebar, dilengkapi selendang batik sebagai pelengkap keanggunan.

Itang banyak menampilkan motif batik klasik seperti  motif Babon Angrem, Bunga Hokokai, Parang Rusak, Parang Besar dan dan Parang Kecil yang dikreasikan pada garis tepi busana, ornamen emblem maupun pita. Palet sogan cokelat, kuning keemasan dan hitam semakin menambah kesan elegan pada busana dari kain batik tulis ini.

Siluet dibuat melebar berpotongan A-line juga H-line dengan material ringan seperti sifon, crepe, organza dan katun. Tak hanya dalam bentuk gaun, desainer yang sudah lebih dari 25 tahun berkarya ini juga mengaplikasikan batik klasik pada blouse, jaket, coat, kemeja dan rok panjang sebagai alternatif padu-padan.

Filosofi Batik Babon Angrem

Motif batik lawas babon angrem
Motif batik lawas babon angrem

Sebagai informasi, motif batik Babon Angrem ini termasuk “semenan” dari kata “semi”. Maksud dari nama “babon-angrem” adalah ayam betina yang sedang mengerami telur.

Batik motif Babon Angrem biasa digunakan pada saat upacara tujuh bulanan pada ibu hamil, yang melambangkan kasih sayang dan kesabaran seorang ibu agar sifat tersebut dapat menurun atau ditiru oleh anaknya kelak.

Motif tersebut melambangkan bahwa seorang ibu yang sedang mengandung hendaknya memiliki rasa kasih sayang dan kesabaran, agar sifat tersebut dapat diwarisi oleh si anak kelak jika telah lahir.  Sedangkan makna kultural dari batik ini adalah permohonan keturunan sebagai penyambung sejarah.

Batik Babon Angrem tergolong ke dalam motif batik geometris, yaitu batik yang berbentuk flora atau fauna.  Isen (isian) yang terdapat pada batik Babon Angrem adalah ukel yang diselingi dengan gambar dua unggas yang sedang berhadap-hadapan.

Karya Ida Royani di IFW 2016
Karya Ida Royani di IFW 2016

Batik ini termasuk semen-latar hitam yang dipakai untuk orang dewasa dari semua golongan dan status. Batik Babon Angrem tergolong batik tengahan artinya berkembang pada pertengahan abad XVIII.

Itang menjadi salah satu penampil dalam rangkaian fashion show yang dipersembahkan Badan Ekonomi Kreatif, bertema ‘Menuju Indonesia Menjadi Pusat Fashion Muslim Dunia’ di Plenary Hall Jakarta Convention Center.

Selain Itang, tampil pula koleksi dari Ida Royani yang mengusung tenun Nusa Tenggara Timur dalam deretan busana muslim bernuansa cokelat.

Karya Amalina Aman di IFW 2016
Karya Amalina Aman di IFW 2016

Pergelaran busana ini juga menghadirkan dua desainer mancanegara. Salah satunya Amalina Aman asal Australia. Amalina menampilkan busana muslim berpalet nude dengan siluet longgar, ringan melayang yang diperkaya aksen draperi serta printing.

Sementara Stephen Tach dari Jepang mengusung busana casual bernuansa oriental. Koleksinya hadir dalam palet hitam-putih dengan berbagai motif floral yang dikreasikan secara geometris. Potongan busana dalam bentuk gaun pas badan, jaket, rok pensil, celana pipa selutut dan setelan jas serta rok cocok untuk berpenampilan formal maupun ke kantor. (VW)

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY