Seks Berisiko Sebaiknya Dihindari, Ini Alasannya

Gulalives.com, JAKARTA – Isu LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender) tengah menjadi topik yang hangat diperbincangkan di jejaring sosial juga media massa.

Kuatnya penolakan LGBT dari masyarakat Indonesia tentu beralasan. Para orangtua misalnya, tak bisa menerima apabila anaknya menjadi homoseksual atau gay yang bergaul dan melakukan hubungan sesama jenis. Selain hal ini dilarang oleh agama mana pun, perilaku seksual menyimpang yang dilakukan penganut LGBT juga bisa memicu penyakit, misalnya penyakit menular seksual, hingga kanker anus.

Mengapa sejumlah risiko kesehatan membayangi kaum homoseksual alias gay yang suka melakukan hubungan seks dengan sesama jenis – yaitu pria dengan pria? Gulalives akan mencoba memaparkan dalam tulisan ini.

Hubungan sesama jenis berisiko tertular penyakit. Foto: Theirishworld
Hubungan sesama jenis berisiko tertular penyakit. Foto: Theirishworld

Seks anal, alias hubungan intim yang dilakukan lewat ‘pintu belakang’ alias anus/dubur memang perilaku seks yang berisiko. Namun faktanya, diperkirakan 90 persen laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki dan sebanyak 5 hingga 10 persen wanita yang aktif secara seksual melakukan hubungan seks lewat anus atau seks anal (anal sex), demikian menurut laman Webmd.com.

Sering disebut dengan istilah seks anal, hubungan ini melibatkan penetrasi penis ke anus atau dubur. Orang mungkin mau melakukan hubungan seks anal, yang memiliki risiko kesehatan, karena anus penuh ujung saraf sehingga sangat sensitif.

Bagi beberapa penerima seks anal, anus bisa menjadi zona sensitif seksual yang merespon rangsangan seksual. Bagi yang memberikan seks anal, anus dapat memberikan sensasi ‘sesak’ yang menyenangkan di sekitar alat kelamin pria.

Pasangan sejenis. Foto: Rollingstone.com
Pasangan sejenis. Foto: Rollingstone.com

Sementara beberapa orang mungkin merasakan menemukan kesenangan dengan melakukan hubungan seks semacam ini, namun sejatinya praktik seksual ini memiliki kelemahan dan membutuhkan tindakan pencegahan keselamatan khusus.

Seks Anal Berisiko Tinggi

Pertanyaannya adalah seberapa jauh keamanan seks melalui anus ini? Ada sejumlah risiko kesehatan dengan seks anal. Seks melalui lubang anus adalah bentuk paling berisiko dari aktivitas seksual karena beberapa alasan, antara lain:

1.Anus tidak memiliki pelumasan alami seperti yang dimiliki vagina.
Penetrasi dapat merobek jaringan di dalam anus, yang memungkinkan bakteri dan virus untuk memasuki aliran darah. Hal ini dapat mengakibatkan penyebaran infeksi menular seksual termasuk HIV. Studi menunjukkan bahwa paparan dubur untuk HIV menimbulkan risiko 30 kali lebih untuk pasangan reseptif (penerima) dibandingkan hubungan seks melalui vagina.

Paparan human papillomavirus (HPV) akibat hubungan seks anal juga dapat menyebabkan perkembangan kutil dubur dan kanker dubur . Menggunakan pelumas mungkin dapat membantu meminimalkan risiko, namun tidak benar-benar mencegah robeknya jaringan.

LGBT (penyuka sesama jenis)
LGBT (penyuka sesama jenis)

2.Jaringan di dalam anus tidak juga dilindungi.
Jaringan eksternal kita memiliki lapisan sel-sel mati yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi. Nah, jaringan di dalam anus tidak memiliki perlindungan alami ini, sehingga rentan sobek dan memudahkan infeksi menyebar.

3.Anus dirancang untuk membuang tinja.
Anus ini dikelilingi dengan otot berbentuk cincin, yang disebut sfingter anal, yang mengencang setelah kita buang air besar. Saat otot mengetat, penetrasi anal bisa menyakitkan dan sulit. Seks anal berulang-ulang dapat menyebabkan melemahnya sfingter anal, sehingga sulit untuk menahan tinja hingga sampaidi toilet untuk buang air besar. Ltihan Kegel untuk memperkuat spingter dapat membantu mencegah atau memperbaiki masalah ini.

4.Anus penuh dengan bakteri.
Bahkan jika kedua pasangan tidak memiliki infeksi menular seksual atau penyakit, bakteri yang biasa berada di anus berpotensi dapat menginfeksi pasangan yang memberikan seks anal. Melakukan hubungan seks melalui vagina setelah seks anal juga bisa menyebabkan infeksi saluran kemih dan vagina.

Homoseksual rentan terinfeksi HIV-AIDS. Foto: Healthyblackmen.org
Homoseksual rentan terinfeksi HIV-AIDS. Foto: Healthyblackmen.org

Bukan itu saja. Seks anal dapat membawa risiko lain juga. Kontak oral dengan anus dapat menempatkan kedua pasangan berisiko tertular penyakit hepatitis, herpes, HPV, dan infeksi lainnya.

Bagi pasangan heteroseksual, kehamilan dapat terjadi jika air mani bertahan dekat pembukaan vagina.

Meskipun cedera serius dari seks anal tidak umum, namun hal itu dapat terjadi. Perdarahan setelah seks anal bisa disebabkan oleh wasir atau robeknya jaringan, atau sesuatu yang lebih serius seperti perforasi (lubang) di usus besar. Ini merupakan  masalah berbahaya yang memerlukan perhatian medis segera.

Pengobatan melibatkan rawat inap di  rumah sakit, operasi, dan pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi. Jadi jauhi hubungan seks berisiko ini. (VW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here