Kecelakaan Mobil, Sastrawan NH Dini Meninggal Dunia

Gulalives.co – Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih dikenal dengan nama NH Dini adalah seorang sastrawan yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936 silam. Ia sempat mendapatkan perawatan di RS Elisabeth, Semarang, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di kota kelahirannya tersebut, 4 Desember 2018, pada usia 82 tahun, usai mengalami kecelakaan di ruas Jalan Tol Tembalang Kilometer 10.

Image result for kecelakaan nh dini

Sedikit mengulas kisah hidupnya, novelis berkebangsaan Indonesia ini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya pun penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Tulisan tersebut semacam pelampiasan hati. Sosoknya yang menginspirasi dunia sastra, memiliki banyak cerita menarik.

NH Dini menikah dengan seorang diplomat Perancis, Yves Coffin, yang dikenalnya pada tahun 1956. Ia pun meninggalkan Indonesia di tahun 1960, untuk pindah ke Kobe Jepang. Kemudian, ia terus berpindah dari satu negara ke negara lainnya, untuk menemani jejak karier sang suami.

Image result for nh dini

Kalau kamu mengenal Pierre Coffin (Pierre Louis Padang Coffin), yakni seorang kreator film Despicable Me, Despicable Me 2, dan Minions. Tidak lain adalah anak kedua dari NH Dini. Sebab, dari pernikahannya dengan Coffin, NH Dini dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya adalah Marie-Claire Lintang Coffin.

Related image

Sebelum menjadi sastrawan, NH Dini mengaku jika ia memiliki cita-cita awal yakni sebagai masinis kereta api. Namun, cita-cita itu harus ia ikhlaskan, karena pada tahun 1950-an, belum ada sekolah yang bisa mengantarkan ia untuk menjemput mimpi tersebut.

Setelah terbiasa menulis sejak di bangku sekolah dasar, bakatnya menulis fiksi pun semakin terasah saat sudah mengenakan seragam putih abu. Pada saat itu, NH Dini sudah mulai mengisi majalah dinding di sekolahnya dengan sajak dan cerpen. Ia menulis sajak dan prosa berirama, sejak usianya masih 15 tahun.

Bahkan, NH Dini juga berhasil membacakan karyanya di RRI Semarang. Hal tersebut membuatnya mulai rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Semarang, dalam acara Tunar Mekar. Penulis satu ini juga pernah meraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra, dari Pemerintah Thailand.

Baca Juga: Hijab Squad, Kumpulan Artis Muslimah yang Terus Menginspirasi, Gabung Yuk?

Dini mendirikan Pondok Baca di Sekayu-Semarang, pada tahun 1986 lalu, setelah berpisah dengan mantan suaminya. Pondok baca tersebut ia beri nama “Pondok baca NH. Dini”.

Mengisi kesendiriannya, ia terus menulis cerita pendek yang dimuat di berbagai penerbitan. Ia juga aktif memelihara tanaman dan mengurus pondok bacanya. Sebagai pencinta lingkungan, Dini telah membuat tulisan bersambung di surat kabar Sinar Harapan yang sudah dicabut SIUPP-nya, dengan tema transmigrasi.

Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun bukanlah hal yang mudah. Sebab, baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidupnya sehari-hari. Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya, ia mengaku masih banyak membebani orang. Ia banyak dibantu oleh teman-temannya untuk menutupi biaya makan dan pengobatan.

Bahkan, di tahun 1996 hingga 2000, ia sempat menjual-jual barang. Dulu, sewaktu masih di Prancis, ia sering dititipi tanaman, kucing, hamster, saat pemiliknya sedang pergi liburan. Ketika mereka pulang, ia mendapat jam tangan dan giwang emas sebagai upah menjaga hewan peliharaan tersebut. Barang-barang itulah yang ia jual untuk meneruskan hidup sampai tahun 2000.

Dini pun mengalami sakit keras, hepatitis-B, selama 14 hari. Biaya pengobatannya saat itu dibantu oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto. Karena ia sakit, ia juga menjalani USG, yang hasilnya menyatakan jika ada batu di empedunya. Biaya operasi sebesar tujuh juta rupiah dan juga biaya lainnya, memaksa ia harus membayar total sebesar 11 juta. Dewan Kesenian Jawa Tengah pun langsung mengorganisasi dompet kesehatan NH Dini.

Dan hatinya semakin tersentuh saat ia mengetahui jika ada guru-guru SD yang ikut menyumbang, entah sebesar 10 ribu, atau 25 ribu. Maka, setelah ia sembuh, Dini pun mengirimkan surat satu per satu untuk mereka. Karena, ia sadar bahwa banyak orang yang peduli kepadanya.

Di masa tuanya, NH Dini lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di panti Wreda. Ia tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Semarang. Keponakannya yang bernama Paulus Dadik pun mengatakan jika Dini tidak ingin merepotkan keluarga, dan suka dengan kebiasaannya hidup mandiri.

“Terakhir kumpul itu dua bulan yang lalu. Beliau orangnya tidak mau merepotkan keluarganya. Dia menjual aset dan memilih tinggal di panti jompo. Beliau ingin mandiri. Tekun juga, dan saya lihat suka berkebun,” jelas Dadik.

Beberapa karyanya yang terkenal adalah Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), dan belum termasuk dengan karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan. Ia telah menulis lebih dari 20 buku.

Related image

Selamat jalan, Bu. Terima kasih untuk semua karya yang sudah kau lahirkan, terima kasih juga untuk kisah hidup yang bisa kita jadikan sebagai acuan. Semoga kau tenang di sana. Amin.

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY