Sarung Majalaya Rasa Broadway di IFW 2016

Shafira di IFW 2016

Gulalives.com, JAKARTA – Salah satu pergelaran busana yang ditunggu kalangan fashionista di perhelatan Indonesia Fashion Week 2016 adalah koleksi busana muslim Shafira. Suasana kota New York abad 20-an akan tersaji cantik dalam karya terbaru busana muslim Shafira, di ajang IFW yang berlangsung 10-13 Maret ini.

Nuansa Broadway yang penuh cahaya, jalanan dan pusat hiburan besar dunia dituangkan dalam 60 busana bermotif geometris dan art deco.

Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016
Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016

Harus diakui, setelah 27 tahun berkiprah di dunia fesyen, Shafira semakin matang dalam menghadirkan konsep terbarunya. Sisi-sisi modernitas dipadupadankan dengan sentuhan etnik nusantara menjadi sebuah karya luar biasa.

Pendiri sekaligys pemilik Shafira Corporation, Fenny Mustafa, kali ini mengeksplorasi sarung Majalaya dan songket Silungkang untuk dikreasikan menjadi busana bergaya ‘mafiosa androginy’.

Fenny mengatakan, Shafira setiap tahun selalu mengusahakan ada kejutan. Merek yang mengakar di Bandung ini selalu berupaya merilis koleksi yang keren, kekinian dan sebisa mungkin mengusung muatan local.

Warna-warna monokrom membuat koleksi Shafira terlihat lebih segar dan bisa keluar dari gaya khasnya selama ini.

Desainer Shafira, Shetyawan mengakui, tekstur kain sarung Majalaya yang kaku dan keras menjadi tantangan tersendiri. Keindahan motifnya, membuat Shetyawan tak menyerah untuk menjadikan rancangan-rancangan seperti boomber jacket dan blazer bergaya tuxedo.

Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016. Foto: Gulalives
Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016. Foto: Gulalives

“Temanya Twenties Metropolis karena mengambil budaya Amerika pada musim itu,” ujarnya.

Diakui Shetyawan, Shafira memang mencoba keluar dari busana-busana yang slim dengan tetap menjaga pakem busana muslim yang tidak membentuk lekuk tubuh serta tidak mencirikan busana yang kelaki-lakian.

“Kelihatan seperti jas laki-laki tapi dikasih bow (dasi kupu-kupu) biar tampilan lebih muda. Biar lebih Islami celana harem potongannya kita turunkan,” imbuhnya.

Tak hanya nuansa hitam putih, Shetyawan pun tertarik untuk bermain pada perpaduan warna-warna terang. Warna pink yang populer di era 20-an menarik perhatiannya untuk mendesain busana dengan kesan glamor dan elegan.

Songket khas Silungkang berwarna pink, berhasil disulap menjadi sebuah dres indah bertabur swarovski. Sehingga sangat tepat untuk dikenakan sebagai busana pesta malam hari. Dilengkapi dengan turban-turban mewah yang penuh dengan batu-batu mutiara berkilauan.

Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016. Foto: Gulalives
Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016. Foto: Gulalives

Bagian bawah dipercantik dengan kain berbahan organza dan chiffon silk yang dijahit dengan ketelatenan selama dua bulan. Perpaduan warna pink dan abu-abu menjadikan gaun-gaun tersebut nampak mewah.

Mengomentari pergelaran busana di Indonesia Fashion Week kali ini, Fenny mengatakan, IFW adalah ajang pergelaran busana di Indonesia yang paling besar.

Sebagai pendiri Asosiasi Perancang Pengusaha Mode (APPMI) yang merupakan penyelenggara acara tersebut, Fenny mengaku memiliki tanggung jawab.

“Kami bersama-sama desainer lain ingin memajukan industri mode. Kami berkolaborasi untuk mengambil hati konsumen. Bahwa produk Indonesia keren dan layak dijadikan pilihan untuk berbagai acara, mulai dari kegiatan sehari-hari sampai pakaian pesta,” ujar Fenny.

Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016
Shafira mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang di IFW 2016

Fenny memiliki alasan sendiri mengapa mengangkat sarung Majalaya dan tenun Silungkang. “Batik sudah banyak diangkat. Kita angkat songket silungkang dari Sumatera Barat dekat Sawahlunto Sumatera Barat,” jelasnya.

Sementara sarung Majalaya, sarung ini juga sudah hampir sirna. Karena sudah bersaing dengan sarung industri besar. “Sarung ini kita angkat dengan nuansa dunia,” tandas Fenny.

Fenny Mustafa berharap dengan diangkatnya muatan lokal ke dalam garis rancangan yang kekinian, masyarakat Indonesia akan lebih menyukai kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa indah dan bisa tampil modern. Gulalives setuju banget deh dengan pendapat ini. Kamu juga kan? (VW)

 

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY