Kumandang Azan Menyentuh Relung Hati Seorang Jurnalis, Sarah Price

0
40 views
twitter.com

Gulalives.co – Bagi wanita asal Australia ini, hal terbaik yang ia dapatkan sebagai jurnalis adalah kesempatan untuk menciptakan perubahan bagi dunia, memberikan suara bagi orang yang lemah, serta mengenal manusia dan dunia di sekitarnya. Sarah Price mengaku bersyukur atas hal-hal tersebut.

twitter.com

“Menjadi seorang jurnalis membuat saya belajar tentang Islam,” tuturnya.

Islamis, jihadis, ISIS, larangan mengemudi untuk perempuan di Arab Saudi, burqa, dan peristiwa 11 September, kata-kata itu mengintai dalam setiap diskusi tentang Islam. Namun, bagi Sarah Price, Islam adalah agama yang terhubung pada beberapa konotasi negatif dan sering menjadi pihak yang disalahkan di media massa.

Ia juga mengaku jika banyak orang yang bingung, saat berjumpa dengannya. Tidak sedikit orang Australia yang bertanya, dari negara mana ia berasal? Dan, mereka akan terkejut setelah mendengar jawaban, Australia. Benarkah dari Australia? Australia dan Muslimah? Rasanya ini kombinasi yang tidak pernah terpikirkan, bagi sebagian orang di sana.

Baca Juga: Ini yang Membuat Roger Danuarta Memantapkan Diri untuk Menjadi Mualaf

Sarah Price pun menjelaskan jika pengakuannya menjadi Muslim tidaklah mudah. Dia berulang kali diselidiki, ditolak, dipecat dari pekerjaan, kehilangan teman-teman, dan mendapat tantangan berat dari keluarga.

Sebab, mereka sulit menerima perubahan yang terjadi pada Sarah. Bahkan, ia juga mendapat banyak komentar yang keras dan kasar tentang perpindahan agama yang ia putuskan. Beberapa orang menganggap jika ia rela dikonversi, hanya demi seorang pria.

Padahal, ketertarikan Sarah Price pada Islam adalah hidayah yang datang lewat momentum. Saat itu, gadis ini berkesempatan mewawancarai Marina Mahathir. Marina adalah putri mantan perdana menteri Malaysia, Tun Mahathir Mohammad, penyabet gelar UN Person of the Year 2010, dan tokoh SIS (Sisters in Islam), penulis, sekaligus pendukung hak-hak perempuan. Pertemuan Sarah dengan Marina inilah yang memengaruhi pandangannya tentang Muslimah dan Islam secara umum.

“Saya masih ingat bagaimana telapak tangan saya berkeringat. Ini wawancara pertama saya dengan orang ternama,” kenangnya sembari bercerita.

Sikap Marina yang tenang tapi tegas, membuat Sarah semakin terkesan. Wawancaranya pun berlangsung lancar. Marina menjawab begitu banyak pertanyaan yang sudah ia siapkan sejak tiba di Malaysia.

Baca Juga: Putuskan Masuk Islam, Sinead O’Connor Mengaku Bersyukur dan Bahagia

Sarah Price merasa mendapat pemahaman baru yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia pikirkan sebelumnya. Wawancara itu menjadi salah satu yang terpenting, dan mengubah hidupnya. Keyakinannya pada Islam pun kian mantap.

Sarah sepenuhnya sadar, jika memijak jalan yang benar memang tidak selamanya mudah. Terlepas dari betapa sulitnya masa-masa itu, Islam tetap membawa rasa damai yang luar biasa dalam hidupnya. Membuatnya semakin bahagia.

“Yang bisa saya katakan, saya menemukan kedamaian bersama Allah. Saya tahu saya tidak pernah sendiri dalam setiap sujud saya. Benar bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” ungkapnya lagi.

Pertama kalinya Sarah melangkahkan kaki ke sebuah masjid di Malaysia, ia mengaku merasa tenang dan damai dalam sekejap waktu. Kumandang azan yang keras tapi bersahaja, menyentuh relung jiwanya, mencipta perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Saat pertama kali menundukkan kepala ke arah Ka’bah, dia seolah menemukan rumah di dalam hatinya, tempat yang selama ini belum pernah ia rasakan. Sarah memang tidak masuk Islam di Malaysia, ia baru bersyahadat setahun kemudian.

twitter.com

Namun, pengalamannya di Malaysia inilah yang sudah membuat Sarah mengenal Islam, dengan cara yang indah. Dan, seusai kembali ke Australia, Sarah merasa ada sesuatu yang hilang. Dia mulai meneliti konsep-konsep kunci dalam agama Kristen. Hingga akhirnya ia semakin mantap memutuskan untuk hijrah, sampai detik ini.

LEAVE A REPLY