RIBA & GHARAR: TRANSAKSI YANG DILARANG DALAM EKONOMI ISLAM

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3). Dengan turunnya ayat itu menandakan bahwa agama Islam sudah mencapai bentuk yang paripurna dari segala sisi baik dalam hal aqidah maupun muamalah. Sempurna artinya tidak memiliki kecacatan dan juga tidak lebih atau kurang melaikan dalam keadaan yang proporsional. Dalam islam ilmu yang menjelaskan berkaitan dengan aktivitas social antar manusia disebut Fikih Muamalah.
Sumber utama dalam fikih muamalah adalah Al-Quran, Al-Hadits, ijma ulama dan qiyas. Substansi dari adanya aturan-aturan yang telah Allah tetapkan untuk hamba-hambanya dalam melakukan aktivitas muamalah adalah keadilan untuk sesama agar tidak ada yang ter-dzholimi/dirugikan. Hal ini di jelaskan dalam firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 29). Karena itulah agama islam merupakan agama yang rahmatan lil’alamin (Kasih sayang untuk semua).
Dalam kegiatan bermuamalah khususnya dalam hal ekonomi setiap insan yang menjalankannya tentulah memiliki tujuan yakni untuk memperoleh keuntungan. Pedagang yang menjual dagangannya tentulah ingin memperoleh keuntungan dari harga barang atau jasa yang di tawarkan dengan cara memberikan sejumlah margin dari kedalam harga pokok barang atau jasa daganngannya, begitupula seorang konsumen tentu menginginkan keuntungan dengan memperoleh manfaat atau kepuasan yang lebih dari apa yang ia dapatkan dari transaksi dengan pedagang. Islam tidak melarang transaksi jual-beli antara pedagang dengan konsumen selagi ia tidak keluar dari koridor aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh syari’at islam.
Islam hadir untuk menjamin keadilan dan kesejahteraan untuk seluruh umat manusia oleh karena itu islam mengatur aktivitas manusia sedemikian rupa. “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 135) setiap muslim harus menegakan keadilan dalam hal apapun termasuk aktivitas ekonomi.
Allah SWT melarang beberapa unsur transaksi yang tidak boleh ada dalam kegiatan muamalah perniagaan untuk hamba-hambanya agar tidak merugikan dan mendzolimi hamba-hambaNya yang lain sehingga tegaklah keadilan dan kesejahteraan dan terwujudlah kedamaian. Transaksi yang dilarang oleh syari’ah islam adalah transaksi yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
A. Ar-Riba
a. Pengertian Riba
“Riba” menurut bahasa artinya adalah “al-numu wal ziyadah” yang artinya tumbuh dan berkembang, secara etimologi adalah tambahan atas sejumlah pokok pinjaman yang disyaratkan oleh peminjam kepada yang meminjam. Menurut Ibn arab al-farabi riba adalah keuntungan yang diperoleh tanpa adanya transaksi pengganti (perniagaan).
b. Hukum Riba
  • Firman Allah SWT:

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

  • Hadits Nabi SAW:

Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata,” Rasulullah mengutuk orang yang makan harta riba, pemberi harta riba, penulis akad riba dan saksi transaksi riba. Mereka semuanya sama”. HR. Muslim.

  • Ijma

Dalam hal ini para jumhur ulama sudah sepakat akan keharaman praktiknya. Diriwayat dari Umar, ia berkata,”Jangan seorang pun berdagang di pasar Madinah kecuali orang yang mengerti fiqh muamalat, bila tidak ia akan terjerumus dalam riba”. Karena itu setiap orang yang melakukan perdagangan wajib hukum nya untuk memahami fikih muamalah agar tidak terjebak dalam riba.

B. Gharar

a. Pengertian Gharar

Gharar menurut bahasa berarti: resiko, tipuan dan menjatuhkan diri atau harta ke jurang kebinasaan. Menurut istilah, gharar berarti: jual beli yang tidak jelas kesudahannya. Jadi, asas gharar adalah ketidakjelasan. Ketidakjelasan itu bisa terjadi pada barang atau harga.

Pengertian gharar menerut beberapa ahli:

  • Ibn Abidin: melakukan transaksi dengan mengambil risiko tanpa  mengetahui hasil yang akan didapat. (gharar terbatas hanya pada ketidakjelasan hasil yang didapat, seperti keberadaan barang)
  • Adh-dzhahiriyyah: membatasi gharar hanya pada ketidaktahuan antara dua pelaku transaksi jual beli (uncertain to both parties)
  • As-Sarkhasi dan mayoritas ulama fiqih: gharar mencakup dua hal:
  • Uncertain to both parties (ketidakpasatian informasi pada dua pelaku transaksi) & Ketidakjelasan hasil yang didapat dari transaksi

b. Hukum Gharar

  • Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (Al-Maidah : 90-91)

  • Hadits Nabi SAW:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa “Nabi melarang jual beli Hashah (jual beli tanah yang menentukan ukurannya sejauh lemparan batu) dan juga melarang jual beli Gharar”. HR. Muslim.

  • Ijma

Para jumhur ulama bersepakat bahwa gharar dalam transaksi perniagaan hukumnya haram sebab akan menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang transaksi.

Islam memberi kebebasan bagi hamba-hambanya dalam rangka berniaga dengan bentuk apapun asalkan didalam proses perniagaan itu diantara sebab-sebab keharaman nya atau tidak sah nya suatu transaksi di sebabkan karena adanya unsur Riba & Gharar.

Karena kaidah fikih nya dalam muamalah adalah Al ashlu fiil muamalatil al’ibaha hatta yadullu ala tamrimiha (pada dasarnya seluruh kegiatan muamalah di bolehkan kecuali sampai ada dalil yang melarangnya) kaidah ini lah yang menjadi pedoman dalam melakukan inovasi pada transaksi-transaksi muamalah. Selama tidak ada unsur yang dilarang dalam syari’ah islam pada transaksi muamalah tersebut maka dibolehkan untuk dilakukan.

Referensi

  • Rivai, H. A. (2008). Identifikasi Faktor Penentu Keputusan Konsumen Dalam Memilih Jasa Perbankasn: Bank Syari’ah VS Konvensional. Center For Banking Reaserch University Andalas.
  • Suaily, D. Y. (n.d.). Fiqih Perbankan Syari’ah: Pengantar Fiqh Muamalat dan Aplikasinya Dalam Ekonomi Modern . Riyadh: Universitas Islam Imam Muhammad Saud.

Penulis: Arif Setyawan
Mahasiswa STEI SEBI

Official:
Wa: 082311786593
Ig: @Arif_Setyawan01
Fb: Arif Setyawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here