tribunnews.com

Gulalives.co – Kali ini kita akan membahas tentang review dari film tanah air yang berjudul Chrisye. Tentu saja film ini menceritakan tentang musisi legenda tanah air yakni Alm. Chrisye yang berganti nama menjadi Chrismansyah Rahadi setelah memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Pria yang lahir di Jakarta, 16 September 1949 dan sudah kembali berpulang ke pangkuan Allah SWT, 10 tahun yang lalu, tepatnya Jumat, 30 Maret 2007 ini sudah lama berjuang dari kanker paru-paru yang dideritanya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini meninggalkan Istri dan keempat anaknya.

Image result for film chrisye
youtube.com

Dari awal diumumkan berita bahwa akan dibuat film tentang Chrisye, saya sudah berjanji untuk menontonnya. Karena musik Chrisye hadir di tengah-tengah tumbuh kembangnya keluarga saya di rumah. Mulai dari Ibu, Bapak, dan semua anggota keluarga pasti menyukai lagu-lagunya. Apalagi saya, selalu mendalami tiap-tiap lirik dari lagu-lagunya, terlebih untuk lagu berjudul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Film ini dibuka dengan kegiatan manggung Chrisye (diperankan oleh Vino G. Bastian) dengan band-nya Gipsy. Malam itu ada sepasang mata yang tersenyum memperhatikannya, tidak lain dan tidak bukan ia adalah perempuan bernama G.H. Damayanti Noor (diperankan oleh Velove Vexia) yang kemudian menjadi istri dan ibu dari keempat anak Chrisye.

Air mata saya menetes pertama kali saat Chrisye jatuh sakit, karena mimpinya yang seharusnya membawa ia terbang tinggi, terhalang oleh ayahnya yang menganggap musisi tak bisa bertahan hidup karena pada masanya memang tak dihargai di Indonesia. Baru sebentar menghapus air mata, saya harus kembali menangis saat kabar duka menghampiri Chrisye yang saat itu berada jauh dari rumah. Ia harus kehilangan orang yang selama ini paling percaya jika mimpinya akan menjadi nyata untuk selamanya.

Vino memainkan perannya dengan sangat apik! Film ini seolah membawa kami para penonton untuk mengetahu perjalanan karir seorang Chrisye, yang kemudian memilih untuk bersolo karir dan keluar dari Gipsy. Jalannya yang tak mulus, tak serta merta membuatnya menyerah, karena ia berhasil bangkit dengan lagu Aku Cinta Dia. Lagu yang mengharuskan Chrisye pun Vino berlatih menari “Patah-patah”.

Related image
palingbaru.com

Film ini memang lebih fokus dalam menceritakan kehidupan pribadi Chrisye, jadi jangan mengharapkan Vino untuk hadir di atas panggung selama satu jam lebih untuk menyanyikan lagu-lagu Chrisye, ya. Karena dari segi suara mereka jelas jauh berbeda. Makanya film ini lebih menceritakan bagaimana Chrisye di mata sang istri.

Tentang dia yang mulai memberanikan diri untuk mendekati wanita idamannya, hingga suatu malam ia berucap pada Damayanti, “Jadi orang tua kamu gak masalah nih anaknya pacaran sama musisi?” yang membuat suasana di dalam mobil membeku seketika. Salah tingkahnya berasa! Film ini juga menghadiahkan tawa ketika Chrisye menjawab pertanyaan Damayanti tentang alasan mengapa Chrisye mengajaknya menikah pun begitu lucu sekaligus menyentuh, “Kamu orang yang bisa saya ajak susah.” Hal ini Chrisye ungkapkan setelah Ibu dari Damayanti meninggal dunia, maka Chrisye merasa perlu untuk selangkah lebih dekat dalam menjaga Yanti.

Hangatnya keluarga begitu terasa di film ini, meskipun banyak yang berkata jika harapan untuk film ini hancur, saya tetap dapat menghargai karya layar lebar satu ini. Karena tiap kali Velove bicara, saya selalu berhasil membayangkan Damayanti, sangat lekat dalam ingatan tentang Yanti yang memang begitu tegas saat bicara. Dan, Velove sukses untuk yang satu ini. Kekurangan dalam bagian Yanti adalah hampir tak ada perubahan pada wajahnya selama cerita berjalan. Saat Chrisye sudah semakin menua, Yanti masih begitu-begitu saja. Aslinya pun Damayanti Noor masih tetap cantik, namun jika tak ada sama sekali perubahan, agak janggal rasanya.

Image result for film chrisye band gipsy
itjeher.com

Film ini juga menceritakan tentang anak-anaknya secara singkat. Bagaimana Chrisye merasa gagal menjadi seorang ayah yang membanggakan, hingga akhirnya istri dan keempat anaknya mampu membuktikan jika Chrisye salah, karena mereka selama ini selalu ada. Terjawab juga kekhawatiran-kekhawatiran Chrisye di awal merajut rumah tangga, hidup mereka yang dirajut dari bawah, perjuangan mereka, kekuatan Yanti sebagai seorang istri yang terus menguatkan Chrisye dalam kondisi apa pun.

Scene di makam Ibu dari Yanti pun benar-benar menyayat hati. Bagaimana Chrisye yakin akan keputusan besar dalam hidupnya. Disusul dengan adegan mengocok perut setelah Chrisye resmi menjadi seorang mualaf, bagaimana ia akhirnya mendapat nama barunya. Semua berhasil menghibur penonton di dalam studio sore itu.

Meski Chrisye sempat jenuh dengan jalan hidupnya, akhirnya ia memutuskan untuk kembali berkarya. Dan, kali ini ia mengalami pergolakan batin yang sangat hebat, saat membuat sebuah lagu yang tak pernah mampu ia selesaikan sendiri liriknya. Ia pun meminta bantuan Pak Taufik Ismail untuk menyelesaikan lagunya yang satu itu, yakni Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Image result for chrisye ketika tangan dan kaki berkata
islampos.com

Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lagi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Ke mana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba …

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
Hamba-Mu
Yang hina

Image result for film chrisye band gipsy
duniaku.net

Lagu itu benar-benar berarti besar untuk seorang Chrisye. Tangisannya pecah berkali-kali dalam studio saat rekaman dilakukan.

Related image
batok.co

Meskipun banyak yang kecewa dengan film ini, entah kenapa saya tidak sama sekali merasa menyesal telah membeli tiket dan menyaksikan film ini sampai habis. Kamu bisa melihat jenakanya Dwi Sasono yang sukses membuat studio pecah saat memerankan Guruh Soekarno Putra. Juga seorang rocker yang berperan sebagai Jay Subijakto, aktingnya total banget! Tiap kali kibas rambut, penonton langsung ketawa ngakak. Ada juga Erwin Gutawa yang kali ini harus diakui agak miss ya, karena terlalu jauh dari aslinya. Addie MS muda yang diperankan oleh aktor pendatang baru pun terlalu ganteng, jadi gagal tiap kali mau membayangkan Addie MS asli lagi ngomong.

Dan, untuk kamu yang belum nonton film ini, buruan berangkat ke bioskop, isi hari libur kamu, saksikan film ini. Tapi, ingat, jangan berharap film ini akan menggambarkan tentang konser atau nyanyian Chrisye di atas panggung, ya. Karena, “Ini adalah Chrisye dari sudut pandang saya.” klarifikasi Damayanti Noor. Jadi, ia memang ingin mengangkat sisi lain dari seorang Chrisye yang selama ini kita sudah kenal dengan begitu baik dalam dunia musik tanah air.

Jangan buru-buru keluar dari bioskop saat film hampir mencapai akhir, agar kamu gak kehilangan potongan suara Alm. Chrisye di akhir film. Potongan suara ini membuat saya semakin merasa tidak menyesal telah menonton, karena hal tersebut membuat ingatan saya membawa pulang cerita yang sangat bisa diambil nilai positifnya. Selalu dukung perfilman tanah air ya, guys!

LEAVE A REPLY