Remaja Putri Lebih Dipengaruhi Kelompok, Bukan Tokoh Idola

Gulalives.com, JAKARTA – Jika selama ini kita sangka sosok idola bisa memberi pengaruh kuat pada remaja, hal ini tak sepenuhnya benar. Pasalnya, menurut penelitian, para remaja putri ternyata lebih terpengaruh dengan kelompoknya.

Remaja putri, menurut studi terbaru, tak begitu peduli jika tubuh mereka lebih gemuk daripada model-model yang ada di televisi, majalah, dan media sosial. Mereka justru cenderung membandingkan dengan lingkungan sekitarnya, demikian menurut riset yang telah dipublikasikan di Journal of Youth and Adolescence.

Para remaja itu, kata peneliti, dipengaruhi pada tubuh, gejala gangguan, dan kenyamanan hidup secara umum dari teman sekelompoknya.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti melakukan survei terhadap 237 remaja putri berusia 10 hingga 17 tahun. Mereka diminta menyebutkan acara televisi favorit dan menilai seberapa menarik artis yang ada dalam tayangan tersebut.

Para ilmuwan juga mencatat berat dan tinggi tubuh para remaja tersebut, apakah mereka mempunyai perasaan inferior ketika membandingkan diri mereka dengan remaja lain (persaingan kelompok), dan bagaimana mereka menggunakan media sosial.

Para remaja itu juga ditanya mengenai perasaan mereka terhadap tubuh sendiri, apakah mengalami gejala gangguan makan dan seberapa nyaman mereka dalam kehidupan mereka.

Enam bulan berikutnya, para ilmuwan mengulang kembali pengukuran ini terhadap 101 remaja putri dari grup tersebut. Secara keseluruhan, pengaruh televisi dan penggunaan media sosial atas karakteristik tubuh ideal ternyata lebih kecil dibandingkan dampak jangka panjang dari tekanan kelompok.

Penelitian juga menemukan baik persaingan kelompok maupun penggunaan media sosial menurunkan kenyamanan hidup.

Penulis hasil riset, Dr. Christopher Ferguson dari Texas A&M International University di Amerika mengungkapkan, “Hasil riset kami menunjukkan bahwa hanya kompetisi kelompok, bukan televisi atau penggunaan media sosial, yang menyebabkan penilaian negatif atas citra tubuh.”

Namun, Dr Ferguson menambahkan bahwa media sosial seperti Twitter dan Facebook juga meningkatkan masalah tersebut sebab memberikan arena baru untuk terjadinya bullying (perundungan) di kalangan remaja. “Penggunaan media sosial menyediakan arena baru untuk kompetisi kelompok meskipun tidak secara langsung mempengaruhi penilaian tubuh yang negatif,” ujarnya. (VW)

LEAVE A REPLY