Razan Najjar, Perawat Palestina yang Ditembak Mati Pasukan Kejam Israel!

0
152 views
tribunnews.com

Gulalives.co – Ribuan orang di Gaza, Palestina mengantar jenazah Razan Najjar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Almarhumah tak pernah gentar maju ke zona merah, menghadapi semburan gas air mata atau muntahan peluru yang ditembakkan tentara Israel, demi melaksanakan tugas sebagai perawat.

Related image
dream.co.id

Namun, peluru yang ditembakkan sniper Israel pada Jumat 1 Juni 2018, mengakhiri hidupnya. Kala itu, ia sedang menolong para demonstran yang terluka di perbatasan Gaza dan Israel.

Ayah Razan Najjar yang bernama Ashraf al-Najjar, dulu memiliki toko suku cadang sepeda motor, tapi hancur karena serangan udara tentara Israel saat perang antara Israel dan Hamas pada 2014. Sejak saat itu ayah Razan menjadi pengangguran.

Razan lahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara. Menurut ayahnya, Razan Najjar tidak memiliki nilai yang cukup bagus saat ujian sekolah menengah atas untuk masuk ke universitas. Namun, ia ikut pelatihan paramedis di Rumah Sakit Nasser, di Khan Younis, kemudian menjadi relawan di Lembaga Bantuan Medis Palestina, sebuah organisasi kesehatan non-pemerintah.

Baca Juga: Subhanallah, Cerita Melly Goeslaw yang Berikan Bantuan Langsung ke Palestina ini Penuh Haru dan Menginspirasi

Kesedihan dan air mata pun memenuhi jalur Gaza, saat Razan al Najjar ditembak oleh pasukan militer Israel tepat di dadanya. Saat itu, Najjar masih menggunakan rompi paramedis, tak bersenjata, tak melakukan ancaman apa pun, dan hanya sibuk menolong para demonstran yang terluka. Ayah dan ibu Najjar membawa seragam medis berlumuran darah yang dia kenakan saat tertembak.

“Dia sering pulang dengan pakaian putih yang berubah jadi merah. Itu darah para korban yang dia tolong hari itu. Tapi merah kali ini adalah darahnya sendiri,” kata Ashraf.

Sementara itu, dilansir dari Middle East Eye, ibunda Najjar, Sabreen mengungkap fakta baru mengenai kematian putrinya.

“Mereka (pasukan Israel) tahu Najjar. Mereka tahu dia adalah paramedis yang bertugas sejak 30 Maret. Peluru itu bukan peluru acak. Israel memang menargetkan Najjar dan itu peluru ledak langsung ditembak ke dadanya, itu ulah para penembak jitu Israel,” ujar Sabreen.

Terungkap pula bahwa sebelumnya, Najjar mungkin telah membuat geram para pasukan Israel. Karena, dua minggu sebelum kematian Najjar, seorang petugas medis bernama Mousa Abu Hassanein juga ditembak mati oleh militer Israel.

Kematian Mousa menyisakan duka yang mendalam serta kemarahan para sukarelawan medis di jalur Gaza, termasuk Najjar. Namun, Najjar bukan tipe orang yang hanya diam, dia justru melakukan wawancara yang dipublikasikan ke media sosial. Ini salah satu sikap yang menarik perhatian Israel pada dirinya.

Dalam wawancara tersebut, Razan Najjar berkata, “Kami menyaksikan banyak serangan oleh pasukan Israel, termasuk paramedis dan wartawan yang menjadi sasaran. Padahal seharusnya mereka dilindungi. Saya ingin seluruh dunia melihat, mengapa pasukan Israel menargetkan kami yang hanya paramedis ini? Kami bahkan tidak melawan, tidak menyerang, dan tidak melakukan apa pun yang membahayakan. Kami hanya menyelamatkan orang yang terluka, mencoba menyembuhkan luka mereka. Jadi, tolong jawab kenapa mereka menargetkan kita juga?”

Ayah dan ibunya terus menangisi kepergian sang buah hati, yang tewas hanya beberapa ratus meter dari rumah mereka di Khan Younis. Mereka memeluk rompi berlumuran darah yang dikenakan Razan di hari terakhir hidupnya.

“Anak saya memang bertubuh kecil, tapi ia gadis yang kuat. Satu-satunya senjata yang dimilikinya adalah rompi yang menunjukkan bahwa ia adalah petugas medis,” kata sang ibu.

Semasa hidup, Razan yakin, rompi itu akan melindunginya. Di tengah situasi paling barbar sekalipun.

“Rompi ini akan melindungiku,” itu yang ia ucapkan ke ayah dan ibunya sebelum berangkat tugas. “Allah bersamaku. Aku tidak takut.”

Keluarga dan rekan-rekan Razan Najjar menduga bahwa ini merupakan salah satu alasan kuat kenapa sniper Israel menargetkan Najjar. Mengutip dari cuitan akun resmi Twitter pasukan militer Israel, @IDFSpokesperson pada tanggal 31 Maret 2018 (yang sekarang telah dihapus), pasukan militer itu tak pernah meluncurkan peluru acak tanpa kontrol. Mereka selalu tahu target mereka, dan tahu di mana peluru itu akan bersarang.

Melihat kesaksian keluarga dan rekan Najjar, ada kemungkinan bahwa kematian Najjar telah ditargetkan sebelumnya, dan bisa saja rekaman wawancara tersebut jadi salah satu pemicunya.

“Menjadi petugas medis bukan hanya pekerjaan untuk pria. Ini untuk wanita juga. Kami punya satu tujuan, untuk menyelamatkan orang-orang dan kami melakukan ini untuk negara saya. Tentara Israel bisa menembak sebanyak yang mereka bisa. Ini gila dan saya malu jika tidak ada di sana bersama rakyat saya.” tutur Razan yang menjadi gelombang pertama tim medis dalam demonstrasi Gaza.

Razan telah bergabung menjadi relawan sejak 30 Maret 2018, dan dia hampir setiap hari datang merawat warga sipil yang terluka. Dia bekerja sejak jam 7 pagi hingga 8 malam, sekitar 13 jam per hari. Dalam sehari, Razan al Najjar bisa membantu mengobati 70 orang yang terluka.

“Wanita sering dicibir, tapi masyarakat harus menerima kami. Jika mereka tidak mau menerima pilihan kami, mereka harus dipaksa menerima kami karena kami memiliki kekuatan lebih besar daripada pria manapun. Kami melakukan ini karena mencintai negara kami. Ini pekerjaan kemanusiaan.” tegas Razan Najjar.

Sejak bertugas sebagai relawan aksi protes di Jalur Gaza, Najjar benar-benar total dalam bekerja. Menurut ibunya, Razan bahkan sering tetap tinggal di perbatasan hingga semua demonstran kembali pulang. Seragam medisnya selalu dipenuhi darah saat dia pulang ke rumah. Itu darah dari para korban luka yang telah ditolong Najjar hari itu.

Najjar adalah sosok anak yang kuat, dan berani. Saudarnya, Dalia al-Najjar mengenang sosok Razan sebagai teman bermain yang baik hati dan menyenangkan.

“Aku tidak percaya dia telah dibunuh. Aku sangat bangga bagaimana dedikasinya untuk negara. Dulu waktu kecil, dia sering datang ke rumah nenek dan kami bermain bersama,” ungkap Dalia al-Najjar.

Razan dimakamkan pada hari Sabtu, 2 Juni 2018, dan pemakamannya dihadiri ribuan orang. Mulai dari warga sipil, keluarga, dan kerabat, juga rekan-rekan relawan medis yang turut berjuang bersama Razan saat hidupnya.

Kematian Razan juga meninggalkan kesedihan bagi begitu banyak orang yang terlibat di konflik jalur Gaza. Semoga Allah menerangi jalannya, menerima amal ibadahnya, dan semakin menguatkan kita yang masih bernapas untuk bersatu memerangi kezaliman. Aamiin.

LEAVE A REPLY