Gulalives.com, JAKARTA – Beberapa waktu lalu banyak pemberitaan di media yang mengabarkan kasus penculikan dan penelantaran anak. Motif penculikan yang kita ketahui selama ini biasanya pelaku meminta uang tebusan. Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani yang akrab disapa Nina mengungkapkan, sekarang ini terjadi pergeseran tren penculikan anak.

“Dulu penculikan identik dengan pemerasan. Pelaku penculikan pasti meminta uang dalam jumlah tertentu untuk menebus korban yang disandera. Tapi sekarang, banyak penculik yang memang menyandera anak, karena gangguan jiwa,” kata Nina dalam Kelas Parenting TigaGenerasi bertema ‘Is Stranger Danger?’, Kamis (3/9) di Jakarta.

Sambung Nina, saat ini pelaku penculikan banyak yang memang mengalami gangguan jiwa, salah satunya mengidap pedofilia.

“Saya mengutip pernyataan kriminolog Andrianus Meliala. Kata beliau menculik anak di zaman sekarang lebih banyak ruginya. Misalnya nih, anak yang diculik harus dikasih makan, belum lagi kalau tertangkap bersiap memperoleh hukuman berat. Jadi menculik anak sekarang ini tidak lagi dijadikan cara untuk mencari uang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nina mengatakan, taktik untuk menculik pun bermacam-macam. Namun yang pasti para pelaku penculikan sering mengiming-imingi anak dengan sesuatu yang bisa menarik perhatian.

“Ada pula penculik yang berpura-pura menjadi teman atau orang terdekat orang tua si anak, sampai teknik hipnotis juga kerap dipraktikkan,” imbuh dia.

Di Indonesia, disebutkan Nina, kasus yang menimpa anak-anak jumlahnya cukup banyak. Data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), pada tahun 2010-2014 ada 472 kasus anak hilang dan penelantaran anak di Indonesia.

Tahun 2014-2015 terdapat 196 kasus penculikan dan anak hilang. Sementara di tahun 2015, kasus anak hilang sudah mencapai 40 kasus hingga Juni 2015. “Kasus penculikan anak yang di PGC beberapa waktu lalu, kasus yang ke-40,” kata Nina.

Menyoroti maraknya pelaku kejahatan yang mengintai anak-anak, orang tua dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaannya, agar anaknya terhindar dari bahaya. “Orang tua memang dituntut untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, ” tutupnya. (WI)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY