Pria Juga Suka Palsukan Orgasme, Kenapa Ya?

0
230
Menurut penelitian, pria suka memalsukan orgasme.

Gulalives.com, JAKARTA – Bukan hanya perempuan yang suka memalsukan orgasme, karena ternyata menurut penelitian, laki-laki juga hobi melakukannya.

Dalam sebuah studi terhadap lebih dari 200 mahasiswa, sebanyak 25 persen laki-laki dan separuh perempuan dilaporkan suka melakukan orgasme palsu saat bercinta. Motivasinya? Agar aktivitas seks cepat selesai tanpa menyakiti hati pasangan, demikian menurut penelitian yang telah dipublikasikan di Journal of Sex Research.

Alasan pria palsukan orgasme bertujuan agar aktivitas seks cepat selesai tanpa menyakiti hati pasangan
Alasan pria palsukan orgasme bertujuan agar aktivitas seks cepat selesai tanpa menyakiti hati pasangan.

Berbagai studi secara konsisten menunjukkan bahwa antara setengah hingga duapertiga perempuan memalsukan orgasmenya.

Namun karena sulit buat pria memalsukan ejakulasi dibandingkan perempuan yang butuh beberapa saat untuk ‘bersuara seksi’ seperti saat mencapai klimaks, hanya sedikit peneliti yang mengamati berapa banyak pria yang suka pura-pura orgasme.

Studi tersebut dilakukan oleh para psikolog di University of Kansas, yang menanyai 180 mahasiswa laki-laki dan 101 mahasiswi mengenai sejarah seksual mereka. Masing-masing responden ditanya apakah mereka pernah pura-pura orgasme.

Berapa persisnya pria yang suka memalukan orgasme, datanya tidak diketahui.
Berapa persisnya pria yang suka memalukan orgasme, datanya tidak diketahui.

Untuk mengakomodasi mereka yang terlalu malu untuk mengakui aksi pura-pura itu, partisipan juga ditanya apakah mereka pernah melakukan ‘sesuatu yang mirip’ dengan pura-pura orgasme.

Hampir 100 persen mereka yang disurvei pernah mengalami rangsangan seksual bersama pasangan, apakah manual atau oral. Hanya di bawah 70 persen dari perempuan dan 85 persen laki-laki yang dilaporkan melakukan hubungan intim (penetrasi penis ke vagina).

Senggama menjadi prediktor utama apakah seseorang memalsukan orgasmenya. Sekira 10 persen laki-laki dan 19 persen perempuan yang melakukan kontak seksual namun tidak sampai senggama mengaku pura-pura orgasme, dibandingkan dengan 28 persen laki-laki dan 67 persen perempuan yang melakukan hubungan intim via penetrasi.

Memalsukan orgasme dilakukan agar pasangan tidak tersinggung.
Memalsukan orgasme dilakukan agar pasangan tidak tersinggung.

Mereka yang pura-pura orgasme sudah terbiasa melakukan seks, dan pernah merasakan orgasme sejati, baik melalui masturbasi atau senggama.

Senggama adalah jenis aktivitas seksual yang paling banyak memicu orgasme palsu. Sebanyak 86 persen laki-laki dan 82 persen perempuan mengaku pura-pura orgasme saat melakukan hubungan badan dengan pasangan.

Alasannya mereka melakukan itu, kata penulis, kemungkinan yang bersangkutan mengharapkan orgasme sungguhan saat senggama. Sejumlah laki-laki mengaku pura-pura orgasme karena tak ada acara lain untuk mengakhiri aktivitas seksual tanpa melukai perasaan pasangan.

Pria palsukan orgasme agar hubungan intim lekas selesai.
Pria palsukan orgasme agar hubungan intim lekas selesai.

Bagi laki-laki, alasan utama mereka memalsukan orgasme adalah tampaknya mereka tak bisa mencapai hal itu atau aktivitas seks terlalu lama dan mereka menginginkan hal ini segera usai.

Sebanyak 4/5 perempuan memalsukan orgasme untuk menghindari konsekuensi negatif, misalnya menyakiti perasaan pasangan. Setengah dari responden laki-laki dilaporkan memiliki motivasi yang sama.

Para partisipan yang memalsukan orgasme memiliki skrip seksual yang sama, kata penulis, di mana harus mencapai orgasme saat senggama, dengan skenario perempuan harus mencapai klimaks terlebih dulu.

Riset menunjukkan seskali pria dan wanita suka memalsukan orgasme untuk menjaga perasaan pasangan.
Riset menunjukkan seskali pria dan wanita suka memalsukan orgasme untuk menjaga perasaan pasangan.

Studi menemukan bahwa 20 persen pura-pura orgasme karena tampaknya pasangan mereka melakukan hal yang sama, atau mereka menunggu saat yang ‘tepat’ untuk mencapai klimaks.

“Sejumlah perempuan mengaku mereka sesungguhnya bisa mencapai orgasme, namun mereka memilih pura-pura orgasme pada sekuens yang tepat, sebelum atau selama orgasme pria, ketimbang mencapai orgasme sungguhan namun di saat yang salah,” kata peneliti seperti dilansir laman LiveScience.(VW)

LEAVE A REPLY