6 Pertanyaan Anak untuk Orangtua yang Bercerai

0
49 views
enamorando.me

Gulalives.co – Sepertinya tidak ada sepasang manusia yang saling mencintai kemudian menikah, hanya untuk bisa merasakan perceraian di akhir kisah mereka, ya? Namun, bagaimana jika perceraian memang benar-benar harus menjadi bagian dari sebuah pernikahan? Tentunya, bagi kamu pun pasangan ini bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk mereka, buah hati kalian berdua. Biasanya, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan anak pada orangtua yang bercerai, usia dan jenis kelamin anak pun menentukan hal ini. Apa saja pertanyaan yang paling lumrah dilontarkan anak? Dan, bagaimana cara kita menyikapinya? Berikut 6 di antaranya versi Gulalives:

Related image
imguramx.pw

“Bercerai itu artinya apa?”

Anak usia 3 sampai 7 tahun, mungkin tidak akan mengerti saat kamu menjelaskan perpisahan atau perceraian dengan pasangan.

Maka, saat terlontar pertanyaan ini dari anak, mungkin jawaban paling sederhana yang bisa kalian utarakan adalah, “Ibu dan Ayah tidak lagi tinggal bersama, tapi kami tetaplah orangtua yang menyayangimu sepenuh hati,” dan mungkin mereka tidak langsung mengerti, atau bahkan akan mencari tahu lebih jauh tentang perceraian di sekolahnya, bertanya pada teman atau guru.

Bayangan orangtua yang bercerai pada anak tentu berbeda-beda. Tapi yang jelas, mereka pasti akan menangis dalam hati tiap kali melihat orangtua dari anak lain hidup bahagia bersama. Perceraian bukanlah hal mudah, baik bagi kamu, pasangan, apalagi anak-anak. Namun, jika ini sudah terjadi, hadapilah dengan sabar dan penuh rasa ikhlas.

“Kenapa Ayah dan Ibu bercerai?”

Jangan ceritakan secara mendetil, karena akan membuat kamu kebingungan sendiri nantinya, pastikan saja kamu menjawab dengan, “Ibu dan Ayah sebenarnya tidak ingin ini terjadi, tapi kami terus bertengkar, hingga membuat kami lelah. Walaupun hidup tanpa Ayah atau Ibu akan terasa berbeda, tapi kami tetap orangtuamu, dan akan selalu menyayangimu.”

Hindari menjawab dengan, “Kami berdua tidak lagi saling mencintai,” karena anak akan menyalahartikan maksud dari ucapanmu. Bisa saja ia mengira bahwa kalian juga tidak lagi menyayanginya. Komitmen kamu dan pasangan dalam merawat mereka bersama pun diperlukan.

“Aku kangen Ibu” atau “Aku kangen Ayah”

Ini mungkin bukan pertanyaan, tapi lebih mengarah pada pernyataan, jelaskan saja “Kamu bisa menelepon Ibu atau Ayah setiap hari. Kamu juga boleh mengunjungi kami setiap pulang sekolah atau saat hari libur. Kamu bisa bicarakan ini kapanpun dengan Ibu Ayah,” tidak perlu takut anak akan memihak pada satu di antara kalian, sebab ini bukan kompetisi, yang terpenting adalah anak mendapatkan kasih sayang yang cukup.

Ketika ia dewasa nanti, ia bisa mengerti dengan sendirinya, apa yang terjadi di antara kamu dan pasangan. Namun, bagaimana jika anak sendiri yang tidak ingin mengunjungi Ibu atau Ayahnya?

Kamu tetap harus mencoba membujuknya, bagaimanapun mantan pasanganmu adalah orangtuanya. Jangan memaksa, cukup berikan pengertian perlahan, tapi mengena ke hatinya.

Baca Juga: Perpisahan Orangtua bisa Menyebabkan Depresi pada Anak?

“Di mana aku akan tinggal?”

Pertanyaan ini mungkin juga akan terlontar dari mulut mereka. Orangtua yang bercerai pasti melewati jalur hukum, dan tentu hukum di Indonesia memiliki beberapa pertimbangan untuk memutuskan hak asuh anak.

Jika anak masih kecil, biasanya hak asuh akan jatuh pada ibunya. Tapi tidak menutup kemungkinan anak bisa tinggal bersama ayahnya, saat ibu mereka dianggap tidak mampu menjaganya.

Maka, kamu dan mantan pasangan bisa membicarakan hal ini, ambil jalan tengah yang terbaik, tanpa harus berebut hak asuh. Ketika sudah sepakat, baru kalian bisa menjelaskan.

Namun, saat anak-anak beranjak dewasa, ia berhak untuk memilih, dengan siapa ia ingin tinggal. Jangan paksa anak untuk menentukan pilihan. Saat anak remaja tumbuh dengan orangtua yang bercerai, biasanya anak akan lebih memilih orangtua yang memberikan kebebasan padanya.

Mungkin kamu takut, sehingga memberinya kebebasan secara berlebihan, padahal harusnya tidak harus seperti itu. Atau justru kamu takut ia memilih mantan pasangan? Biarkan ia melewati fase itu, tugasmu adalah mengontrolnya, dan tetap memberikan apa yang menjadi hak anak.

Saat ia dewasa, ia akan mengerti sendiri mana yang baik untuknya, dan mana yang tidak. Bukan tidak mungkin ia justru adil, memilih untuk tinggal dengan kalian, secara bergantian.

“Apakah kalian akan kembali bersama?”

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Mungkin, kamu dan mantan pasangan akan kembali bersama, mungkin juga tidak. Meskipun hal ini terlihat tidak pasti, tapi jangan beri jawaban yang membingungkan, sebab hal itu mungkin terlihat seperti memberi harapan palsu pada anak.

Jelaskan saja dengan, “Ibu dan Ayah mengerti kamu ingin kita tetap bersama, tapi saat ini kami harus berpisah. Bukan karena kami tidak sayang padamu, tapi untuk menjadi orangtua yang baik untukmu, ini hal yang harus kami pilih. Kami tidak ingin saling bertengkar, dan akhirnya melukaimu saat mendengar perdebatan kami setiap hari. Kami akan tetap bersama, seperti teman.”

“Kenapa kalian tidak lagi saling mencintai?”

Terakhir, orangtua yang bercerai akan sepakat jika ini menjadi pertanyaan yang paling sulit. Tapi kamu tetap bisa menjawab tanpa terlihat saling menyudutkan. Mungkin perasaan mantan pasangan yang berubah menjadi penyebab perceraian kalian, tapi kamu tidak perlu menjelaskan itu pada anak dengan penuh kebencian.

Lebih baik jawab dengan, “Kami saling mencintai dari dulu, sampai hari ini pun kami masih tetap saling menyayangi. Kami hanya berhenti untuk saling menyakiti, karena kami juga tidak ingin menyakitimu. Kamu mungkin berpikir Ayah atau Ibu tidak lagi menyayangimu, tapi itu tidak benar. Karena, kamu adalah segalanya bagi kami, suatu saat kamu pasti akan mengerti, sayang.”

Related image
theconversation.com

Apa pun itu, semoga kita tidak perlu terlibat dalam perceraian. Semoga rumah tangga kalian terus berjalan dengan penuh cinta, dan tetap bertujuan sebagai ibadah kepada-Nya. Aamiin.

LEAVE A REPLY