Perjuangan PLN untuk Terangi Pedalaman Papua, Begini Komentar Warga …

0
33 views
sureplus.id

Gulalives.co – Membangun infrastruktur jaringan listrik di pelosok bukan hal mudah, termasuk di desa-desa yang ada di pedalaman Papua. Seperti apa yang dialami PT PLN (Persero) dalam menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Enem, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Direktur Bisnis PLN Regional Maluku dan Papua Ahmad Rofiq, menyampaikan kesulitan akses jadi tantangan tersendiri dalam membangun PLTS berkapasitas 100 kwp di Desa Enem.

Image result for pln desa enem
kabarpapua.co

“Kehidupan di sana salah satunya terisolasi, aksesibilitasnya sulit, sehingga untuk mencapai daerah sana, karena aksesnya sulit, yaitu pasti ada kesultanan bawa peralatan, kesulitan buat bawa sparepart, bahan bakar, bawa peralatan,” katanya di Merauke, Papua, Selasa 24 Juli 2018, silam.

Namun, kondisi di Enem, pedalaman Papua terbilang lebih mudah dibandingkan desa di pelosok Papua lainnya. Tapi tetap saja, butuh upaya yang tidak sedikit.

“Kalau Enem sebenarnya relatif lebih mudah dibandingkan desa desa di Papua yang lainnya. (Tantangan di Enem) ya lewat sungai. Bahkan kita ada yang bawa peralatan pakai pesawat. Mau tidak mau kita harus lakukan itu. Kalau tidak, tidak akan pernah bisa melistriki,” ujarnya.

Selain itu, investasi infrastruktur kelistrikan di desa pedalaman Papua dan pelosok jauh lebih mahal.

“Memang berat sekali melistriki seluruh pelosok negeri. Sebagai gambaran untuk listriki satu desa di Papua butuh biaya 10 kali lipat dibandingkan di kota kota tanah Jawa atau Sumatera,” sebutnya.

“Di Jawa kita butuh mungkin Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta untuk satu rumah. Kalau di Enem itu sekarang totalnya hampir 300 rumah. 300 rumah anggaran yang kita habiskan di sana hampir Rp 5 miliaran, dibagi saja Rp 5 miliar dibagi 300 rumah,” paparnya.

Dan, setelah puluhan tahun gelap gulita, akhirnya warga Desa Enem, dapat tersentuh listrik. Sudah diresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 kwp oleh PLN.

Perjalanan dimulai dari Bandar Udara Mopah Merauke dengan menggunakan pesawat perintis. Sekitar pukul 10.30 WIT, disambut oleh cuaca cerah, pesawat lepas landas menuju Bandara Kepi, Kabupaten Mappi, Papua.

Baca Juga: PLN Gerak Cepat Atasi Gangguan Akibat Hujan Es di Bandung

Perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam. Tiba di Bandara Kepi sekitar 11.30 WIT. Satu jam di udara dengan Pesawat Perintis terbilang menantang. Pasalnya, guncangan lebih kuat dibanding pesawat komersial pada umumnya. Beruntungnya cuaca sedang bersahabat.

Setiba di Bandara Kepi, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan roda empat menuju Dermaga Mur. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit, dengan kondisi jalan yang belum mulus-mulus amat. Masih ada jalan berlubang yang membuat kendaraan harus melambat.

Dan, dari Dermaga Mur ini lah perjalanan menantang yang sesungguhnya. Menuju Desa Enem harus ditempuh lewat jalur sungai menggunakan speed boat. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit. Perjalanan dimulai sekitar 12.00 WIT, dan tiba sekitar 12.30 WIT.

Meski hanya memakan waktu 30 menit, perjalanan sangat memacu adrenalin. Speed boat yang melaju kencang ditambah gelombang air, membuat tubuh sulit menjaga keseimbangan. Namun, pengemudi tampak lihai menghindari gelombang tinggi sehingga meminimalisir guncangan. Selain itu, para penumpang juga dibekali dengan jaket pelampung.

Tiba di Desa Enem, rombongan PLN langsung disambut oleh warga setempat, ala adat Papua. Anak-anak hingga orangtua tampak antusias menantikan hadirnya listrik di desa mereka.

Usai acara peresmian, rombongan meninggalkan Desa Enem menggunakan speed boat sekitar 14.30 WIT, dengan waktu tempuh sama dengan saat berangkat, sekitar 30 menit. Di perjalanan pulang sempat terjadi sedikit masalah, speed boat yang ditumpangi Bupati Mappi Kristosimus Agawemu mogok. Namun akhirnya bisa melaju kembali.

Akhirnya sekitar 15.00 WIT tiba di Dermaga Mur, dan langsung bertolak menuju Bandara Kepi. Istirahat sejenak di sana, baru sekitar 14.00 WIT perjalanan dilanjutkan dengan Pesawat Perintis. Perjalanan berakhir di Bandara Mopah sekitar 16.40 WIT.

“(Dengan adanya listrik) senang, (karena) sudah lama gelap, hari ini baru terang,” kata Maria, di Desa Enem.

Maria mengatakan selama ini rumah mereka tidak ada lampu karena belum ada listrik untuk menyalakan lampu. Dan, kini desa tersebut sudah teraliri listriki, maka rumah-rumah mereka pun kini terang saat malam.

“Iya (sebelumnya) tidak ada lampu. Baru kali ini kita dapat terang,” ujar Maria.

Selama tidak ada lampu, aktivitas sehari-hari, khususnya di malam hari warga mengandalkan pelita atau biasa dikenal dengan lampu teplok. Lampu teplok digunakan misalnya saat anak belajar malam hari di pedalaman Papua ini.

“(Anak belajar) pakai pelita, (sekarang sudah) 1 SMP,” ujarnya.

Dia sudah 20 tahun tinggal di desa tersebut. Selama itu, tidak ada listrik yang menerangi rumah. Bahkan untuk menonton televisi pun tidak bisa.

“(Sudah tinggal di sini) 20 tahun lebih. (Masuk listrik) baru kali ini. (Nonton televisi) tidak ada,” jelasnya.

Image result for pln desa enem
papuatoday.com

Salut, jangan lelah untuk terus terangi Indonesia!

LEAVE A REPLY