Mengapa Operasi Plastik bisa Menjadi Candu? Temukan Jawabannya di Sini!

0
4 views
extratv.com

Gulalives.co – Beberapa hari ke belakang, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kabar dari seorang publik figure berusia 69 tahun, yakni Ratna Sarumpaet, tentang pengakuannya yang dianiaya orang tak dikenal, hingga menyebabkan memar pada wajah.

Related image
tempo.co

Namun, akhirnya ia pun membuka suara mengenai klaim penganiayaan yang dialaminya. Dan mengakhiri polemik tersebut dengan mengakui cerita bohong yang ia buat, tentang hal apa yang sebenarnya ia alami.

“Saya meminta maaf pada pihak semua yang terkena dampak yang saya lakukan. Saya meminta maaf pada semua pihak yang selama ini saya kritik, dan kali ini berbalik ke saya,” kata Ratna di kediamannya, daerah Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu 3 Oktober 2018.

Seperti yang sudah dibahas di awal, beberapa hari sebelumnya, publik dihebohkan dengan munculnya potret wajah Ratna Sarumpaet yang mengalami bengkak, dan diakuinya akibat pengeroyokan sejumlah orang tak dikenal.

Namun, setelah dilakukan penyelidikan oleh polisi, ditemukan kejanggalan. Mereka menyebut, jika ditanggal 21 September, yang disebut sebagai tanggal penyerangan, Ratna Sarumpaet justru sedang menjalani operasi plastik di salah satu klinik. Berita ini pun berkembang cepat. Ratna yang sudah berusia lanjut, disebut-sebut memiliki ketertarikan untuk menjalani upaya medis tersebut.

Sebenarnya, sebagian besar dari kita pasti sudah tahu, jika operasi plastik yang dapat mengubah “ketidaksempurnaan” fisik menjadi sesuatu yang lebih baik, membuat sebagian kalangan berpikir jika bedah plastik estetik layak dijadikan gaya hidup.

Beberapa dari mereka pun tidak segan untuk menjalani tindakan tersebut lebih dari satu kali. Lantas, apakah hal ini berkaitan dengan bedah plastik estetik yang diam-diam dapat membuat orang “ketagihan” untuk terus melakukannya?

Bukan tindakan bedah plastik estetik yang membuat seseorang mengalami kecanduaan. Karena, biasanya orang yang berkali-kali melakukan operasi bedah plastik hanya ingin semata-mata menambah harmonisasi di wajahnya, yang sudah telanjur berubah akibat operasi sebelumnya.

Contoh, saat seseorang melakukan operasi hidung untuk menjadikannya lebih mancung, tapi setelah itu, dia justru merasa bibirnya menjadi kurang harmonis dengan hidung yang sudah ia permak. Akhirnya, dia memutuskan untuk melakukan operasi kembali pada bagian bibirnya.

Faktor lain yang mempengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan bedah plastik estetik untuk ke sekian kalinya adalah kenyamanan. Jika kebanyakan orang biasanya takut menjalani operasi bedah untuk pertama kali. Namun, saat prosedur operasi plastik yang dilakukan pertama kali ternyata jauh dari rasa sakit, maka orang tersebut akan cenderung mengulanginya lagi.

Baca Juga: Tips Memancungkan Hidung secara Alami Tanpa Operasi

Selain itu, keinginan untuk kembali melakukan operasi plastik adalah keberhasilan dalam mengubah bentuk tubuhnya, membuat pelaku mendapatkan hasil yang memuaskan, dan merasa jika penampilan menjadi jauh lebih muda. Namun, kita perlu waspada lho dengan apa yang namanya body dismorphic disorder (gangguan penafsiran tubuh).

Wawancara secara mendalam yang disertai dengan kosultasi, penting untuk dilakukan, sebelum dokter melakukan bedah plastik estetik. Karena, tidak selalu alasan seorang pasien melakukan tindakan ini masuk akal.

Tidak jarang, pasien hanya ingin terlihat lebih cantik, padahal sebenarnya sudah tidak ada lagi yang harus diperbaiki dari dirinya. Dan, kejiwaan pasien pun perlu dites, saat berencana melakukan bedah plastik estetika, jangan sampai pasien mengalami body dismorphic disorder (gangguan penafsiran tubuh).

Body dismorphic disorder adalah kondisi psikologis seseorang yang merasa dirinya sangat buruk, padahal sebenarnya tidak demikian. Seperti satu jerawat yang muncul di wajahnya, membuat ia merasa bagaikan sosok yang paling buruk rupa. Tentu, orang dengan gangguan ini akan jauh lebih baik jika tidak melakukan bedah plastik estetik, karena akan menimbulkan tindakan yang berlebihan di kemudian hari.

Sebab, perilaku ini memang memiliki potensi untuk menimbulkan adiksi (kecanduan). Jadi, tidak heran jika kebanyakan orang yang telah dikatakan kecanduan operasi plastik, akan melakukannya lagi, hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Karena, mereka merasa harus tampil cantik sepanjang waktu.

Otomatis, cara terbaik untuk mencegah kecanduan operasi plastik adalah dengan tidak melakukannya, jika tidak benar-benar harus melakukannya. Belajar mensyukuri bentuk tubuh bagian manapun yang kita miliki, Percaya jika pemberian Tuhan adalah yang paling baik. Kalaupun kita harus melakukan operasi plastik karena tuntutan kesehatan, siapkan dulu mental dan jiwamu untuk tidak hanyut ke dalam rasa candu di kemudian hari.

Jangan sampai, apa yang dialami oleh Alicia Douvall, terjadi pada kehidupanmu. Siapa Douvall? Ia adalah seorang model yang terobsesi memiliki wajah dan bentuk tubuh seperti Barbie, dan sudah membayar mahal untuk penuhi obsesinya tersebut.

Related image
thisisbigbrother.com

Tahukah kamu berapa banyak operasi plastik yang telah ia jalani? 350 kali! Ia melakukan 71 operasi dengan anestesi, termasuk 16 operasi payudara, 7 operasi hidung, dan 3 facelift. Juga 260 prosedur lanjutan.

Tercatat, Douvall telah menghabiskan dana hingga 1 juta poundsterling atau setara dengan Rp 17,5 miliar, untuk sejumlah operasi plastik yang ia jalani. Operasi pertama yang dilakukannya yakni operasi plastik payudara yang dilakukan saat usianya masih 17 tahun.

Ia juga menjalani 12 operasi di sekitar mata, pipi, dan mengangkat implan payudaranya. Ia juga melakukannya pada tulang rusuk yang dikecilkan agar tampak ramping, jari kaki yang dipendekkan agar terlihat cantik saat mengenakan sepatu hak tinggi, perut, dan implan di bokong serta bagian bawah dagunya.

Operasi pertama, kedua, dan ketiga inilah yang akhirnya membuat Alicia ketagihan. Namun, hasil yang didapatkan bukan makin sempurna, tapi justru membuat ia memperlihatkan banyak bekas luka. Ia menjadi kesulitan tersenyum, karena sarafnya ikut mengalami gangguan.

Pada pertengahan Juni 2013 tepatnya, dokter harus melakukan operasi rekonstruksi besar-besaran pada wajahnya, termasuk membuka rahang, memperbaiki jaringan otot, hingga memotong bagian telinganya. Selain kesulitan tersenyum, Douvall juga tidak bisa bernapas secara normal melalui hidungnya.

“Saya sampai tidak bisa merasakan apa-apa di perut, dada, dan di bawah lengan, karena terlalu sering melakukan operasi,” ujarnya pada The Independent.

Akibat obsesinya tersebut, ia didiagnosis menderita Body Dysmorphic Disorder (BDD). Bahkan, ia juga sempat dibawa untuk dirawat di panti rehabilitasi mental. Sebab, karena obsesinya, meski ia sudah secantik apa pun, penderita BDD akan tetap merasa tidak percaya diri.

Cermin seolah menjadi barang yang sangat mereka takuti. Karena, mereka khawatir terlihat jelek. Bahayanya lagi, dalam kasus yang ekstrem, penderita BDD bisa mengalami depresi. Seperti yang terungkap di Amerika Serikat, angka bunuh diri penderita BDD mencapai 45 kali lebih tinggi, daripada angka bunuh diri nasional.

Douvall juga mengakui jika ia telah kecanduan operasi plastik sejak remaja. Bahkan, jika ia mengaku mendatangi klinik operasi plastik tiap dua minggu sekali. Dan, ia juga merasa, obsesinya dipanas-panasi para ahli bedah plastik.

“Tidak satu pun dokter mencoba untuk menghentikan saya. Saya pikir mereka hanya ingin uang saya. Bahkan saya lebih memilih operasi plastik daripada pendidikan anak saya,” paparnya pada news.com.au

Kini Douvall pun menyesali kecanduannya akan operasi plastik. Ia pun tidak akan membiarkan putri semata wayangnya, Georgia, untuk melakukan hal serupa dengannya.

Related image
youtube.com

Belajar dari pengalaman orang lain memang jauh lebih baik, sebelum hal buruk tersebut menimpa diri kita pribadi. Jadi, kalau kecanduan operasi plastik memiliki bahaya yang tidak main-main, rasanya mensyukuri apa yang Tuhan beri, menjadi jalan terbaik, ya?

LEAVE A REPLY