5 Penyebab Fobia Bisa Muncul, dan Cara Mengatasinya

0
60 views
medicalnewstoday.com

Gulalives.co – Fobia adalah ketakutan irasional terhadap sesuatu, entah itu binatang, buah, sayur, situasi, hingga objek tertentu. Namun, apa yang biasanya menjadi penyebab fobia? Begini, rasa takut ini bukan hanya membuat pengidapnya menghindari objek tertentu, tapi juga bisa membuat ia mengalami gejala fisik saat menghadapi objek yang ditakuti. Gejala fisik yang mungkin ditunjukkan orang dengan fobia adalah keringat dingin, sesak napas, pucat, cemas, hingga kehilangan kesadaran (pingsan).

Related image
youngisthan.in

Kebanyakan orang mungkin bisa mengatasi rasa takut yang dialaminya. Namun, tidak dengan sebagian lainnya, rasa takut akan menimbulkan gejala fisik dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Itulah sebabnya, kamu perlu waspada jika memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap objek tertentu. Dan inilah beberapa hal yang menjadi penyebab fobia:

Lingkungan

Lingkungan tertentu bisa menjadi penyebab fobia muncul pada diri seseorang. Misalnya, seseorang yang berada di lingkungan berkonflik, cenderung berisiko memiliki fobia pada suara keras, suara tembakan, ledakan, dan lain-lain.

Perubahan Fungsi Otak

Beberapa fobia spesifik bisa disebabkan oleh perubahan fungsi otak. Ini karena trauma pada otak bisa mengubah struktur dan zat kimia tertentu dalam otak, sehingga bisa menjadi penyebab fobia. Selain itu, orang-orang yang sedang menjalani perawatan mental atau mengalami cedera otak traumatis juga bisa mengalami fobia.

Psikososial

Fobia juga bisa disebabkan oleh ancaman atau rangsangan alami yang menakutkan. Misalnya dari kebiasaan orangtua yang menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang tidak masuk akal, seperti:

“Awas ada kucing, nanti digigit lho!”
“Ayo makan, kalau tidak Ibu panggil Polisi, ya!”

Dan perkataan negatif lain yang bisa memicu rasa takut dan terbawa hingga ia dewasa.

Riwayat Keluarga

Faktor penyebab fobia terbesar adalah riwayat keluarga. Karena seseorang yang memiliki riwayat keluarga, cenderung lebih berisiko untuk memiliki fobia jika dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga pengidap fobia. Dalam beberapa kasus, fobia juga bisa terjadi pada anak yang dibesarkan oleh orangtua pengidap gangguan kecemasan.

Trauma

Fobia umumnya terjadi sejak masa kanak-kanak, karena peristiwa traumatis, baik yang dialami secara langsung pun tidak. Misalnya, seseorang yang pernah terjebak di dalam lift cenderung takut saat berhadapan dengan lift, dan memutuskan untuk naik tangga saja daripada harus menggunakan lift.

Atau, mereka yang memiliki fobia naik pesawat karena pernah melihat tayangan TV yang menyiarkan berita kecelakaan pesawat terbang, sebisa mungkin akan menghindari diri agar tidak pernah terlibat perjalanan menggunakan pesawat.

Baca Juga: 7 Cara Ampuh Mengatasi Rasa Takut Naik Pesawat

Gejala Fobia

Related image
ravenousmonster.com

Selain mengetahui penyebab fobia, kamu juga perlu mengetahui tanda fobia pada diri seseorang, mudah untuk dikenali, mulai dari reaksi takut berlebihan yang diperlihatkannya ketika melihat objek atau menghadapi situasi tertentu, hingga serangan panik yang ditandai dengan:

  • Disorientasi atau bingung.
  • Pusing dan sakit kepala.
  • Mual.
  • Dada terasa sesak dan nyeri.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung meningkat.
  • Tubuh gemetar dan berkeringat.
  • Telinga berdenging.
  • Sensasi ingin selalu buang air kecil.
  • Mulut terasa kering.
  • Menangis terus-menerus dan takut ditinggal sendirian (terutama pada anak-anak).

Sebuah studi menyebutkan bahwa amigdala merupakan bagian otak yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa takut dan mempersiapkan diri saat menghadapi kejadian darurat.

Baca Juga: Inilah 12 Gambar Penyakit Kulit Berlubang, Nyata atau Ilusi?

Ketika respons ketakutan atau agresi dimulai, amigdala akan melepaskan hormon ke dalam tubuh untuk menempatkan tubuh manusia ke dalam keadaan “waspada”. Di fase inilah seseorang akan mempersiapkan diri untuk bergerak, berlari, melawan, dan lain sebagainya. Status dan peringatan “waspada” defensif ini dikenal sebagai respons fight-or-flight.

Selain untuk mengenali rangsangan atau isyarat tertentu yang berbahaya, amigdala juga berperan untuk menyimpan rangsangan yang mengancam ke memori otak. Itu sebabnya, otak akan mudah mengenali objek yang membuat kamu merasa takut dan terancam, hingga meresponsnya dengan respons fight-or-flight.

Penanganan terhadap fobia dapat dilakukan melalui terapi psikologi, salah satu yang efektif adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini membantu pasien mengubah cara pandang dan cara bersikap terhadap suatu masalah. Dalam kasus fobia, ahli terapi akan membantu pasien mengatasi rasa takut melalui teknik pemaparan atau desentisasi.

Dengan teknik pemaparan terhadap benda atau suasana yang ditakuti, rasa takut diharapkan dapat berkurang secara bertahap, hingga pada akhirnya pasien dapat mengendalikn fobia yang dialami.

Contohnya, pasien yang mengalami fobia terhadap ular, awalnya pasien akan diminta untuk membaca tulisan tentang ular, lalu diperlihatkan gambar hewan tersebut, dan tahapan berikutnya adalah dengan mengunjungi kandang ular, yang dilanjutkan dengan memegang reptil tersebut secara langsung.

Selain teknik tersebut, ahli terapi juga akan mengajarkan pasien teknik untuk mengendalikan diri. Misalnya, melalui teknik relaksasi untuk membantu mengatur ketenangan dan pernapasan, atau teknik visualisasi untuk membayangkan keberhasilan mengatasi situasi.

Hasil yang lebih efektif akan terlihat saat beberapa teknik terapi dipadukan dan ditunjang oleh penerapan gaya hidup sehat. Misalnya, dengan beristirahat cukup, mengonsumsi makanan sehat secara teratur, hingga rajin olahraga.

Selain melalui terapi, gejala fobia juga dapat diredakan dengan obat-obatan. Namun, obat biasanya hanya diberikan untuk jangka waktu pendek. Contoh obat yang kemungkinan diresepkan dokter dalam kasus fobia adalah:

  • Penghambat pelepasan serotonin (SSRIs). Obat ini bekerja dengan cara memengaruhi salah satu hormon transmiter di dalam otak, yaitu hormon serotonin, berperan dalam menciptakan dan mengatur suasana hati.
  • Penghambat beta (beta blockers). Obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi hipertensi dan gangguan jantung ini diberikan untuk menghambat reaksi-reaksi yang muncul dari stimulasi adrenalin akibat rasa cemas, seperti suara dan tubuh gemetar, jantung berdebar, atau tekanan darah meningkat.
  • Benzodiazepine. Obat ini diberikan untuk mengatasi kecemasan dalam tingkat yang parah. Biasanya pemberian benzodiazepine akan dikurangi secara bertahap seiring membaiknya kondisi guna menghindari ketergantungan.

Kamu sendiri memiliki fobia? Ketakutan akan apa? Coba sharing di kolom komentar tentang apa dan bagaimana cara kamu menghadapinya?

LEAVE A REPLY