Penjelasan Tentang Beberapa Pasien yang “Terlihat” Membaik Sebelum Meninggal

0
3 views
grid.id

Gulalives.co – Pasien dengan penyakit kronis yang kondisi sebelumnya sudah sangat lemah, bahkan tidak bisa mengenali anak-anak dan cucunya sendiri, tiba-tiba tampak sehat lagi dalam waktu beberapa jam atau hari sebelum ia menghembuskan napas terakhir?

Related image
infirmiere-domicile-thuisverpleegster.be

Pasien dapat mengenali anggota keluarga, bahkan sanggup berdiri atau duduk tegak, berbicara dengan normal, hingga makan tanpa bantuan alat kedokteran? Hal ini pastinya membuat keluarga pasien menjadi kembali optimis untuk kesehatan pasien memulih.

Namun, belum lama bahagia hadir, pasien justru pamit undur diri untuk selamanya? Bagaimana bisa orang yang sudah mau meninggal dunia, justru tampak segar dan membaik? Begini penjelasan yang para ahli ungkapkan.

Rupanya, fenomena pasien penyakit kronis yang membaik sebelum meninggal sudah diketahui sejak hampir tiga abad lalu. Fenomena ini dikenal dalam ranah medis sebagai terminal lucidity, yang secara harfiah artinya kejernihan menjelang ajal.

Seperti yang dijelaskan oleh seorang pakar biologi dan kesehatan jiwa, Michael Nahm, terminal lucidity dapat diartikan sebagai “munculnya kejernihan dan ketajaman mental pada pasien yang tidak sadarkan diri, mengalami gangguan kejiwaan, atau sangat lemah beberapa saat sebelum ajal menjemput.”

Menurut penelitian oleh Michael Nahm dan timnya dalam jurnal Archives of Gerontology and Geriatrics, kondisi ini bisa dialami pasien kira-kira beberapa hari, jam, atau menit sebelum akhirnya meninggal dunia.

Dikutip dari berbagai studi kasus di seluruh dunia, terminal lucidity paling banyak terjadi pada pasien yang mengidap berbagai penyakit yang menyerang otak. Mulai dari tumor otak, trauma pada otak, stroke, meningitis (radang selaput otak), Alzheimer, dan skizofrenia. Namun, tidak menutup kemungkinan pasien penyakit kronis lainnya juga seolah sempat “sembuh”, beberapa saat sebelum akhirnya meninggal.

Baca Juga: 4 Cara Menghadapi Kerabat yang Datang saat Kita sedang Berduka

Berbagai laporan yang dicatat secara medis, menunjukkan kondisi yang berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien lainnya. Dalam sebuah studi kasus dalam The Journal of Nervous and Mental Disease, seorang pengidap skizofrenia kronis sudah tidak menunjukkan gejala-gejala skizofrenia lagi selama dua hari sebelum ajalnya menjemput. Pasien tersebut dikatakan tampak normal, seperti orang pada umumnya.

Pengamatan lain yang dicatat para ahli menguak bahwa seorang pasien meningitis yang tadinya sudah linglung dan hanya bisa meracau, tiba-tiba pikirannya jadi segar dan berfungsi normal kembali. Pasien ini jadi mampu berbicara dengan jelas serta menjawab pertanyaan dengan baik. Sayangnya, kondisi ini hanya bertahan beberapa menit sebelum kematiannya.

Masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang sampai saat ini masih terus dipelajari oleh para ahli. Namun, polanya selalu mirip. Pasien akan tiba-tiba sembuh dari penyakitnya, seolah mendapatkan kejernihan pikiran dan sanggup melakukan hal-hal yang tadinya tak bisa dilakukan, misalnya bicara atau makan dengan lahap. Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Hingga saat ini, belum ada analisis ilmiah yang cukup kuat untuk menjelaskan mengapa fenomena ini sering terjadi dan apa penyebabnya. Namun, salah satu teori yang sedang diteliti lebih dalam, menduga bahwa saat pasien menderita penyakit kronis, volume otak akan sedikit menyusut. Ini karena jaringan-jaringan otak semakin melemah dan menyusut.

Maka, otak yang tadinya penuh tekanan jadi agak melonggar. Hal ini diyakini bisa mengembalikan macam-macam fungsi otak yang telah rusak. Seperti daya ingat dan kemampuan berbicara.

Related image
liputan6.com

Nah, dari penelitian-penelitian seputar terminal lucidity ini, para ahli berharap bahwa suatu hari nanti hasilnya bisa dipakai sebagai panduan perawatan terbaru bagi pasien dengan penyakit kronis. Harapan yang lebih ambisius adalah fenomena unik ini bisa dikembangkan jadi metode pengobatan khusus buat pasien dengan kerusakan atau gangguan fungsi otak.

LEAVE A REPLY