Heboh Komika Ngelawak Bawa-bawa Agama, 16 Komedian ini Tetap Lucu Tanpa Jadikan Agama Sebagai Bahan Lawakannya. Kangen Gak Sih?

colours.id

Gulalives.co – Pelawak atau komedian adalah orang yang menghibur penonton, terutama dalam membuat kita tertawa, karena melawak adalah usaha mereka untuk membuat orang lain tertawa, atau sekadar membuat orang lain gembira. Caranya bermacam-macam, tergantung si pelawak dan biasanya disesuaikan dengan kondisi orang yang akan dibuat tertawa, tergantung lingkungan. Cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan lelucon, dengan subjek lelucon orang lain, atau dirinya sendiri. Cara lainnya adalah dengan tingkah laku yang dibuat-buat hingga dapat terlihat lucu dan pentas mereka ditertawakan penonton.

Nah, baru-baru ini heboh dua komika yang terseret kasus karena dianggap melecehkan agama lewat caranya membawakan materi stand-up yang memang sama-sama kita ketahui agama adalah hal yang sangat sensitif, dan seharusnya masih banyak hal yang bisa kita ulas selain materi satu ini. Lepas dari membicarakan beberapa komika yang sempat melakukan hal serupa, mari kita bahas saja pelawak atau komedian zaman dulu yang sukses ngelucu tanpa pernah bawa-bawa agama ke panggung untuk ditertawakan. Siapa saja? Siap-siap kangen, ya!

Benyamin Sueb

Related image

Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak. Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat, menurunkan darah seni itu dan Haji Ung alias Jiung yang juga pemain teater rakyat pada zaman kolonial Belanda.

Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat Orkes Kaleng. Komedian ini adalah salah satu yang bisa dijadikan panutan, karena tanpa membawa materi keagamaan, ia tetap bisa membuat kita tertawa dan terhibur. Alm. telah berpulang karena mengidap sakit jantung 5 September 1995 lalu.

Taufik Savalas

Related image
muvila.com

Selain Bang Benyamin, komedian yang terlahir dengan nama Muhammad Taufik bin Muhammad Yusuf Masri di Jakarta, 9 Juni 1966 ini mempunyai nama panggung Taufik Savalas yang diambil dari nama seorang aktor Yunani yang dikaguminya, Telly Savalas (pemeran Detektif Kojak).

Perjalanan karier Taufik Savalas di dunia hiburan dimulai dengan menjadi penyiar Radio Humor Suara Kejayaan (SK) pada tahun 1990. Di radio ini, Taufik menyalurkan keinginannya sejak kecil untuk menjadi komedian dan menghibur orang lain. Di sini, ia berkenalan dengan grup komedi Warkop DKI (yang dipelopori Dono (alm), Kasino (alm) dan Indro), Dedi Gumelar (Miing), Mat Solar, Unang, Eman “Empat Sekawan”, Ulfa Dwiyanti, dan Eko Patrio.

Dari merekalah, Taufik banyak belajar terutama bagaimana menjadi seorang komedian yang hebat. Alm. juga telah kembali ke pangkuan Allah karena mengalami kecelakaan pada 11 Juli 2007 silam.

Leysus

Related image
idntimes.com

Mungkin tak banyak anak muda yang mengenal komedian yang lahir di Kepanjen, Malang, 28 Desember 1959 ini, mengawali karirnya sebagai seorang guru. Karier melawaknya dirintis di dunia komedi tradisional, yakni di Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung. Ia terjun ke dunia lawak lebih dulu, sebelum Topan; adiknya menyusulnya pada tahun 1992.

Setelah tidak lagi tampil dalam Ketoprak Humor, keduanya menjadi bintang beberapa acara yang populer, di antaranya Ronda, Pansus, dan Toples Show. Leysus juga pernah bergabung dengan grup lawak Srimulat. Alm. meninggal pada 3 Januari 2006 silam karena kanker mulut yang ia derita.

Kirun Bagio

Related image
youtube.com

Kirun atau pelawak yang mempunyai nama lengkap Haji Mohamad Syakirun ini merupakan salah satu pelawak Indonesia asal Madiun yang pernah berjaya pada era 90-an, bersama dengan grup lawaknya yang dikenal dengan sebutan Kirun CS yang beranggotakan Kirun, Kholik dan Bagio di mana Kirun sebagai pimpinannya. Kirun naik daun pada saat itu berkat salah satu program di TVRI bernama Depot Jamu Kirun yang pertama kali ditayangkan tanggal 1 Mei 1993 oleh TVRI Surabaya.

Di sini ia dipasang sebagai pemilik warung jamu yang berdialog dalam gaya Mataram dan didampingi dua pegawainya yaitu Bagio yang juga bergaya Mataram dan Kholik yang bertutur dalam dialek Jawa Timur dengan ceplas-ceplosnya yang khas. Siapa pun yang kembali menyaksikan aksinya di youtube pun CD yang mereka miliki, mereka pasti kembali tertawa, karena Alm. Kirun memang luar biasa lucu.

S. Bagio

Image result for S. Bagio
kumeokmemehdipacok.blogspot.co.id

Komedian yang lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 3 Maret 1933 ini memulai karirnya di bangku kelas empat sekolah dasar, Drajat (yang belakangan juga jadi pelawak), mengajaknya main sandiwara. Perannya sebagai barang dalam karung yang dibawa Drajat di kereta api. Di Yogyakarta pula, Bagio berhasil memenangkan kejuaraan melawak, bersama Eddy Sud dan Iskak, yang selalu menempati urutan di bawahnya.

Ini menentukan jalan hidupnya kemudian, meski ia terpaksa meninggalkan kuliahnya di FH UGM. Setelah bergabung dan berpisah enam kali, kelompok lawak yang awet dan akrab dengan Bagio justru Darto Helm, Diran, dan Sol Saleh. Alm. meninggal dunia di usia 60 tahun, tepatnya di tanggal 14 Agustus 1993 lalu.

Bambang Gentolet

Related image
tribunnews.com

Komedian yang lahir di Yogyakarta, 30 Juni 1941 ini mempunyai ciri khas yakni potongan rambutnya. Meski kurang dikenal di tingkat nasional, Bambang Gentolet telah menjadi pelawak yang sangat dikenal di Surabaya khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.

Pada hari Kamis tanggal 27 April 2017 silam, ia dilarikan ke R.S. Bakti Dharma Husada, Surabaya karena mengalami sesak napas. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Bambang Gentolet menghembuskan napas terakhirnya.

Mamiek Prakoso

Related image
kapanlagi.com

Lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 6 April 1961, komedian satu ini mengawali karier sebagai pelawak melalui grup lawak Srimulat. Ia juga kakak kandung dari penyanyi Campursari yaitu Didi Kempot.

Tahun 2013 dan 2014, Mamiek Prakoso pun menjadi calon dalam Pemilihan camat Tanah Sareal 2013. Hingga akhirnya Alm. Mamiek meninggal dunia pada 3 Agustus 2014 di usianya yang ke 53 akibat penyakit liver.

Timbul

Image result for Timbul
tempo.co

Komedian yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, 28 Desember 1942 ini mengawali karirnya dengan bergabung ke beberapa grup ketoprak untuk menimba ilmu. Tilmbul pun menguasai ketrampilan bermain wayang orang dan penyutradaraan ketoprak. Timbul bergabung dengan Srimulat pada tahun 1979 dan menjadi sutradara Srimulat pada tahun 1983.

Namun dia memutuskan untuk keluar pada tahun 1986 karena honor yang tidak mencukupi. Pada pertengahan 1998, bersama mantan anggota grup pelawak Srimulat, Timbul mendirikan Yayasan Paguyuban Kesenian Samiaji, beranggotakan 80 orang, yang salah satu produknya Ketoprak Humor. Pada 26 Maret 2009, Timbul menghembuskan napas terakhir akibat komplikasi penyakit stroke, vertigo dan diabetes yang dideritanya. Timbul menutup usia pada usia 66 tahun.

Basuki

Related image
108jakarta.com

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 5 Maret 1956, komedian ini mengidolakan bapaknya sendiri dan almarhum Benyamin S. Setelah berkarier di W.O. Sri Wanito, Basuki mencoba ikut berkarir dengan Srimulat. Melalui proses penyesuaian dan belajar beberapa lama, akhirnya ia diterima di Srimulat.

Maka, mulai 1981 – 1986 Basuki pun mengembangkan karier di gudang para pelawak itu. Setelah keluar dari Srimulat ia pernah membentuk grup Merdeka bersama Kadir, Timbul, Nurbuat, dan Rohana yang sayangnya tidak bertahan lama. Tiga orang yang tertinggal yaitu Basuki, Kadir, dan Timbul lalu membangun Batik Grup yang ternyata juga hanya bertahan 3 tahun.

Pada tahun 1992, Tino Karno menyampaikan tawaran Rano Karno pada Basuki untuk mendukung serial Si Doel Anak Sekolahan sebagai tokoh bernama Karyo. Berawal sebagai bintang tamu hanya untuk 2 atau 3 episode dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan I, akhirnya pada Si Doel III dan IV ia dipercaya sebagai pemain tetap.

Hingga Indonesia kembali berduka saat Alm. Basuki meninggal dunia pada tanggal 12 Desember 2007 silam, tepatnya saat bermain futsal dengan teman-temannya.

Dono

Image result for Dono
tribunnews.com

Komedian yang lahir di Solo, Jawa Tengah, 30 September 1951 ini adalah aktor dan pelawak Indonesia yang bertinggi badan 167 cm. Ia membintangi beberapa judul film komedi pada era 1970, 1980, dan 1990-an. Dono sukses menjadi pelawak bersama dengan Kasino dan Indro yang tergabung dalam Warkop DKI.

Lawakan mereka benar-benar tak termakan oleh zaman, baik orang tua pun anak muda pasti jatuh cinta dengan cara melawak Dono dan kawan-kawan. Duka mendalam pun tertanam saat Alm. meninggal akibat kanker paru-paru di Jakarta, 30 Desember 2001 lalu.

Kasino

Related image
papasemar.com

Kehadiran komedian yang lahir di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, 15 September 1950 ini mengembuskan angin segar. Kelompok Warkop mewakili generasi pelawak terpelajar, yang memiliki warna baru saat melakoni perannya. Karier dalam film yang mereka rintis pada akhir tahun 1970-an pun terus melejit.

Dalam film Maju Kena Mundur Kena, Kasino dan kedua kawannya yakni Dono dan Indro masuk dalam jajaran artis yang pernah dibayar dengan harga termahal. Ketika menjadi mahasiswa, Kasino banyak menghabiskan waktu di lereng-lereng gunung bersama Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).

Sebelum Kasino Wafat, Kasino sakit pada bulan November 1996. Sebagai bukti, Hasil Rontgen pada kepala Kasino menunjukkan bahwa adanya tumor di bagian otak di Rumah Sakit AdventBandung, dan karena itu Kasino disarankan untuk menjalankan kemoterapi. Hal ini pun membuat cerita di serial Warkop DKI hanya terfokus kepada Dono  dan Indro.

Pada tahun 1997, kesehatan Kasino sempat naik turun, tetapi ia tetap tak patah semangat. Kasino akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo bersama para sahabatnya pada bulan November 1997.

Dan pada akhirnya, Kasino wafat pada usia 47 tahun pada tanggal 18 Desember 1997 di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah beberapa tahun mengidap tumor otak. Kasino meninggalkan satu istri dan satu anak.

Jojon

Related image
tribunnews.com

Lahir di Karawang, Jawa Barat, 5 Juni 1947 ini mengawali karier dengan grup lawak Jayakarta Grup bersama Hasanuddin atau U’u, Suprapto atau Esther, Chaplin, dan Cahyono, yang eksis pada tahun 70 dan 80-an. Namun pada era 90-an, satu-persatu anggotanya hengkang.

U’u, Esther, Chaplin, dan Jojon memilih bersolo karier dengan menjadi pelawak tunggal. Ciri khas dari penampilannya adalah kumis kecil ala Charlie Chaplin/Adolf Hitler dan celana bretel menggantung sehingga mudah diingat oleh penggemarnya, termasuk saya.

Dia juga pernah mengeluarkan album lagu pop Sunda berjudul Pamali. Alm. Jojon meninggal dunia akibat serangan jantung pada pukul 06:10 WIB tanggal 6 Maret 2014 di Rumah Sakit Ramsey Premier Jatinegara, Jakarta.

Pepeng

Related image
bintang.com

Memiliki nama lengkap Ferrasta Soebardi, komedian ini lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, Indonesia, 23 September 1954. Namanya berhasil mencuat dan langsung bikin heboh. Pepeng muncul dengan gayanya yang ekstrem dalam membawakan sebuah acara kuis.

Padahal waktu itu seorang pembawa acara kuis selalu tampil dengan elegan. Kuis itu dikenal dengan nama Telekuis Jari-Jari, ingat selogannya? Sebuah program acara interaktif melalui telepon selama tiga menit di layar kaca RCTI.

Namun, Pepeng terkena penyakit langka dengan nama multiple sclerosis yang mengharuskannya memakai kursi roda. Hingga akhirnya Alm. Pepeng meninggal dunia pada 6 Mei 2015 di Rumah Sakit Puri Cinere, Depok, Jawa Barat, karena penyakit yang dideritanya tersebut.

Itulah deretan komedian atau pelawak yang sukses menciptakan tawa bagi masyarakat Indonesia, bahkan ada juga beberapa bagian dunia lainnya. Karena gaya lawaknya yang khas, dan materi yang gak sembarangan, mereka berhasil mencipta kenangan yang baik di hati para penggemarnya. Semoga mereka mendapatkan jalan yang lapang, dan diberikan tempat terindah di sisi-Nya. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here