Pakar Indonesia Harus Mandiri Teknologi
Pakar Indonesia Harus Mandiri Teknologi

Gulalives.com, SEMARANG – Indonesia hari ini sedang dihadapkan pada sebuah permasalahan teknologi yang besar, yakni salah satunya adalah ketergantungan akan teknologi asing, terutama di wilayah teknologi cyber. Namun demikian, disisi lain, banyak anak bangsa kreatif di bidang ini malah terpinggirkan, dan justru dihargai oleh bangsa lain.

Hal itu disampaikan oleh pakar Teknologi Informasi (TI), Pratama Dahlian Persada dalam keterangan persnya kepada wartawan, Sabtu (5/9/2015) di kompleks gedung Prof Sudharto, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Menurut Pratama, saat ini Inondesia sedang dijajah dengan penjajahan model baru karena ketergantungan pada teknologi dan infrastuktur asing. “Kita ini dijajah, tapi malah bahagia. Sebagai contoh, mau membangun e-Government sampai harus ke Singapura, tentu hal itu akan sulit bagi kita apabila suatu saat terjadi masalah,” ujar pakar IT di bidang kriptografi ini.

Lebih lanjut, Pratama mengungkapkan, selain penjajahan teknologi, Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan kreatifitas teknologi anak bangsa yang tak dihargai di negeri sendiri. “Banyak contohnya, seperti Ricky Elson dengan mobil listriknya yang akhirnya dibeli negara tetangga, Dokter Warsito yang memiliki kreativitas memiliki alat penyembuh kanker, hingga yang sebelumnya, Khairul Anwar, penemu 4G yang memilih tinggal di Jepang,” ujar CEO lembaga IT Security CISSReC ini.

Selain itu, menurut Pratama, Indonesia juga sempat memiliki aplikasi karya anak bangsa yang malah justri dibeli perusahaan luar negeri. “Aplikasi KOPROL, tak mendapat dukungan pemerintah Indonesia, akhirnya dibeli Yahoo sebesar Rp 300 milyar, padahal selanjutnya oleh Yahoo dimatikan untuk mengurangi persaingan,” papar alumi Sekolah Sandi Negara ini.

Pratama juga menyoroti permasalahan web dan cyber yang marak terjadi akhir-akhir ini, sehingga banyak pekerjaan rumah di bidang IT yang harus segera diselesaikan bangsa Indonesia. “Hari-hari ini kita dihangatkan dengan banyaknya isu keamanan cyber, mulai dari web kementrian yang tidak standart (web www.revolusimental.go.id – red), aksi sadap antar pejabat dan infrastuktur cyber yang tidak memadai. Hal ini terjadi karena lemahnya regulasi,” kata Pratama.

Menurut Pratama, dalam era cyber, sebuah negara tidak bisa lari dari tanggungjawabnya, mengingat semakin besarnya ketergantungan penduduk dunia pada internet dan teknologi pendukungnya.”Negara bisa mulai membangun pertahanan cyber yang kuat dengan mendorong riset, sekaligus menjaga serta menumbuhkan industri keamanan cyber. Jika bisa mengurangi ketergantungan pada asing, niscaya pertahanan cyber Indonesia jauh lebih baik dari saat ini,” tukas pria asli Blora, Jawa Tengah ini.

Untuk itu, Pratama meminta kepada pihak terkait, untuk terus mendorong kemandirian bangsa di bidang teknologi. Mantan ketua tim IT Kepresidenan ini mendorong generasi muda untuk terus aktif dan berkreasi menciptakan teknologi baru untuk kemandirian bangsa.

“Anak muda punya peran penting dalam membangun keberlangsungan NKRI, dalam dunia cyber, peran anak muda tidak hanya menjadi konsumen, tapi mereka aktif menjadi creator sekaligus pengisi konten yang handal, selanjutnya tinggal kita arahkan,” jelasnya.

Pratama memandang, perlu sinergi antara mahasiswa, sebagai generasi muda dengan dosen serta pemilik modal. Jejaring sosial facebook menjadi contoh bagaimana suksesnya sebuah startup garapan mahasiswa.

“Kampus harus menjadi rumah yang ramah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan penelitiannya, terutama terkait keamanan cyber, karena tuntutan menggunakan produk buatan sendiri atau mandiri terus tumbuh subur. Bila hal ini terwujud, maka riset mahasiswa secara langsung memperkuat pertahanan cyber nasional,” pungkasnya. (DP)

LEAVE A REPLY