6 Orang yang Berisiko Terkena HIV/AIDS

news.un.org

Gulalives.co – HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang imun tubuh, dan menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Penyebarannya melalui cairan tubuh tertentu, dari orang yang mengidap penyakit tersebut, seperti darah, air mani, hingga air susu ibu. Namun, tahukah kamu jika ada 6 golongan orang yang berisiko terkena HIV/AIDS? Siapa saja mereka? Simak pembahasan Gulalives kali ini!

Image result for people living with hiv/aids
thenationonlineng.net

Bayi

Mungkin sudah tidak terlalu asing untuk kamu, jika ibu hamil yang menderita HIV, dapat menularkan virus tersebut pada buah hatinya. Penularan ini dapat terjadi ketika bayi masih di dalam janin, saat proses kelahiran, hingga menyusui. Penularan dari ibu ke bayi ini adalah penyebab yang paling sering, mengapa anak-anak bisa terkena HIV/AIDS. Namun, penularan tersebut nyatanya bisa dicegah, dengan cara:

  • Ibu yang terkena HIV/AIDS mendapatkan pengobatan selama kehamilan, dan saat proses melahirkan atau secara khusus menjadwalkan kelahiran melalui operasi caesar. Sebab, operasi caesar dapat menimalisir kemungkinan cairan-cairan tubuh ibu menginfeksi bayi selama proses kelahiran berlangsung.
  • Bayi yang dilahirkan seorang ibu penderita HIV, kemudian diberi obat HIV selama 6 minggu setelah lahir, dan tidak diberi ASI. Seperti di Amerika Serikat, ibu yang menderita HIV dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya, dan mengganti ASI dengan susu formula, sebagai salah satu cara untuk tetap bisa mencukupi kebutuhan gizi buah hati.
  • Obat-obatan HIV juga bisa mengurangi jumlah virusnya dalam tubuh. Berkurangnya jumlah virus ini secara langsung dapat menurunkan kemungkinan ditularkannya HIV pada bayi, baik selama di dalam kandungan, pun saat proses kelahiran. Sebagian kecil dosis dari obat-obatan ini kemudian bisa diteruskan ke bayi melalui plasenta.

Ibu Rumah Tangga

Menurut Kepala Badan Penanggulangan HIV/AIDS Bogor, pada 2016 silam, 60 persen orang yang terkena HIV/AIDS di Kota Bogor adalah ibu rumah tangga. Jumlah tersebut tentu lebih besar daripada tunasusila. Hal ini terjadi karena ibu rumah tangga yang ingin melakukan program kehamilan, enggan menjalani tes HIV/AIDS.

Baca Juga: Cegah HIV/AIDS dengan Cara-cara Berikut Ini

Pelanggan Barbershop

Untuk kamu pria yang gemar mencukur rambut di barbershop, mulai detik ini perlu hati-hati. Karena, penggunaan alat cukur atau silet yang tidak disterilkan, bisa menyebabkan seseorang terkena HIV/AIDS.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Oyedunni S. Arulogun dalam jurnal NCBI dengan objek para profesional barbershop di Negeria, disimpulkan bahwa HIV berpotensi besar menular melalui alat cukur.

Maka, bukan tidak mungkin di tempat lain juga bisa terjadi, kan? Jadi, kalau kamu ingin cukur rambut, ada baiknya tanyakan dulu apakah alat-alat yang digunakan sudah disterilkan, terutama pisau cukur.

Baca Juga: Waspada, Penularan HIV Melalui Facial

Penerima Transfusi Darah dan Transplantasi Organ

Transfusi darah dan transplantasi organ tidak bisa dilakukan secara sembarangan, ya. Karena perlu ada pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas darah atau organ transplantasi itu sendiri, untuk melihat apakah darah atau organ transplantasi aman untuk didonorkan pada pasien lain, atau tidak.

Pengguna Narkoba

Sudah jelas, HIV sangat rentan menjangkiti para pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik, karena digunakan secara bergantian. Mereka terbiasa menggunakan jarum suntik, dan secara tidak langsung memindahkan darah yang terjangkit HIV, pada seseorang yang sebelumnya sehat.

Petugas Kesehatan

Para pekerja kesehatan seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, hingga petugas pembersih limbah fasilitas kesehatan pun memiliki potensi terkena HIV/AIDS, yang berasal dari pasien. Darah pasien yang positif HIV, dapat menularkan HIV pada petugas kesehatan, melalui luka terbuka.

Misalnya, pekerja yang memiliki luka terbuka kemudian mengambil darah pasien yang positif HIV, maka bukan tidak mungkin jarum suntik atau benda tajam lainnya dapat menjadi perantara untuk mentransfer HIV. Berikut cara-cara yang bisa menularkan HIV ke petugas kesehatan:

  • Jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien positif HIV tidak sengaja tertancap pada petugas kesehatan (disebut juga needle-stick injury).
  • Jika darah mereka yang terkena HIV/AIDS mengenai membran mukosa, seperti mata, hidung, dan mulut.
  • Jika darah yang terkontaminasi HIV mengenai luka terbuka.

Namun, penularan HIV pada petugas kesehatan tetap bisa dicegah kok, dengan cara:

Image result for doctor hiv/aids
blog.compassion.com
  • Menggunakan pelindung diri, seperti masker, baju khusus rumah sakit, kacamata khusus, dan sarung tangan.
  • Selalu menutup luka terbuka dengan plester atau perban.
  • Selalu berhati-hati saat menggunakan benda-benda tajam.
  • Buang limbah rumah sakit yang berpotensi mentransfer HIV (seperti jarum suntik misalnya) ke tempat sampah yang solid atau keras (tidak hanya di dalam plastik), karena ujung jarum suntik yang tajam bisa saja menembus keluar.
  • Bersihkan juga darah yang berceceran sesegera mungkin.
  • Dan, selalu cuci tangan menggunakan cairan pembersih setelah melakukan kontak dengan pasien, terutama jika terkena darahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here