Benarkah Orang Sukses Lebih Rentan Depresi Hingga Bunuh Diri?

0
36 views
nationalpost.com

Gulalives.co – Hampir sekitar 800.000 orang dinyatakan bunuh diri setiap tahun, berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dan, tidak sedikit dari mereka adalah orang yang sudah sukses. Berprofesi sebagai selebriti atau pekerja seni contohnya. Namun, apakah benar jika orang sukses lebih rentan depresi hingga bunuh diri? Bagaimana penjelasannya? Simak di sini!

Related image
projectconquest.org

Depresi

Sebagian besar kasus, dorongan untuk bunuh diri mempunyai latar belakang gangguan jiwa kronis, yang tidak terobati. Lebih dari 90 persen orang yang bunuh diri, sebelumnya sudah memiliki gangguan mental, entah itu depresi, gangguan bipolar, atau diagnosis lainnya.

Baca Juga: 5 Bahaya Kebanyakan Tidur, Mulai dari Depresi Hingga Mati Muda

Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang sukses non-artis setaraf CEO, berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi daripada masyarakat biasa. Kemunculan gangguan jiwa bisa berakar dari banyak hal yang berbeda. Depresi bisa dipicu oleh trauma masa kecil, kurang tidur, hingga tuntutan pekerjaan untuk bisa terus menghasilkan karya sempurna setiap waktu.

Pengaruh Media

Bagi selebriti, paparan media massa terhadap citra diri dan ketenarannya, lambat laun bisa memicu seseorang yang sukses dan terkenal, mengalami stres berat dan depresi. Seperti dari gosip dan berita hoax, serta banjir komentar negatif dari netizen.

Berita-berita media massa tentang kesuksesannya juga bisa membuat mereka terus-menerus membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, atau terkenal.

Dan, lambat laun hal ini akan menggerogoti kesehatan mentalnya. Ia mengalami stres berat untuk berusaha memenuhi ekspektasi super tinggi dari orang-orang sekitar agar tidak mengecewakan penggemar pun dapat memupuk gejala depresi.

Alkohol

Gaya hidup glamor di kalangan papan atas yang rentan akan pengaruh minuman keras serta narkoba pun bisa memicu risiko depresi hingga bunuh diri. Alkohol dan narkoba dapat menyebabkan kecanduan jika terus dikonsumsi berlebihan, dalam jangka panjang.

Kecanduan itu berangkat dari coba-coba, yang kemudian dijadikan pelarian saat menghadapi tuntutan pekerjaan yang maha berat. Bahkan, remaja yang mengalami depresi berat bisa dua kali lebih rentan untuk mulai minum-minum miras, ketimbang remaja yang tidak menderita depresi.

Baca Juga: Salut! 9 Pemain Sepak Bola ini Tidak Minum Alkohol

Dan, dari total kasus bunuh diri di dunia, lebih dari lima puluh persennya berkaitan dengan kecanduan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Risiko percobaan bunuh diri bahkan diketahui 120 kali lebih tinggi dialami oleh orang dewasa yang kecanduan miras, daripada orang dewasa yang tidak.

Stigma Negatif

Profesi sebagai selebriti pun pekerja seni adalah sebuah ironi. Mungkin, mereka akan dikerumuni oleh banyak orang, mulai dari staf, pengawal pribadi, hingga penggemar yang membludak, tapi tetap tidak menutup kemungkinan untuk mereka merasa sendirian dan kesepian.

Selebriti, pada umumnya harus terus menjaga image, dan menyimpan sendiri kegundahan dan kesedihannya, agar tidak terlihat lemah. Dan, hal ini pada akhirnya bisa membuat mereka sulit untuk mengungkapkan emosi ketika harus menghadapi beratnya tekanan pekerjaan dan terpaan gosip kejam dari kanan dan kiri, meski ia sudah merasa benar-benar putus asa.

Tekanan besar untuk menjaga citra diri sesempurna mungkin ini juga yang pada akhirnya bisa membuat selebriti enggan mencari pertolongan ketika mengalami depresi atau masalah kesehatan jiwa lainnya.

Related image
youtube.com

Mungkin karena takut dan cemas akan diekspos oleh tabloid dan orang-orang usil, jika ia ketahuan mengunjungi psikolog. Akibatnya? Keputus-asaan ini akan terus menumpuk dan menjadi racun bagi jiwanya, hingga ia tidak kuat lagi untuk membendung.

LEAVE A REPLY