Nur Asia, Sosok ‘Ceplas Ceplos’ Penyeimbang Sandiaga Uno

Nur Asia dan Sandiaga Uno. Foto: Facebook

Gulalives.com, JAKARTA – Di balik kesuksesan dan kehebatan seorang laki-laki, pasti ada perempuan hebat di belakangnya. Tidak percaya?

“Kalau boleh jujur, sebenarnya bukan saya yang paling sabar. Nur Asia-lah yang mengajarkan saya cara bersabar,” demikian kata Sandiaga Uno, pengusaha sukses yang kini menjadi Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra.

Sandiaga Uno dan istrinya, Nur Asia. Foto: Gulalives
Sandiaga Uno dan istrinya, Nur Asia. Foto: Gulalives

Ayah tiga anak ini menambahkan, “Yang sudah mengenal saya sejak dulu, pasti tahu karakter asli saya. Suka gak sabar dan marah kalau lihat sesuatu tidak perform sebagaimana harusnya.”

Sandiaga merasa beruntung memiliki istri yang dikenalnya dari remaja itu. “Nur yang sangat sabar ketika saya kehilangan pekerjaan. Dia bilang…Kamu pasti bisa cari lagi yang lebih baik! Kalau lagi marah, diem aja. Kalau masih ingin marah juga, ambil wudhu… itu dulu perkataannya yang terus diulang-ulang,” ujar Sandi yang menikah dengan Nur selama 20 tahun setelah 13 tahun masa pacaran putus sambung.

Perjumpaan Sandiaga Uno dengan istrinya, Nur Asia, bermula saat masih duduk di bangku SMP 12 Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, Sandi — begitu panggilan Sandiaga Uno — baru berumur 14 tahun. Sandi adalah teman sekolah kakak Nur.

Kebiasaan Baik Suami Nur Asia Uno Bagus Untuk Ditularkan

Nur Asia, sosok yang energetik namun selalu mengingatkan tentang kesabaran pada Sandiaga. Foto: Gulalives
Nur Asia, sosok yang energetik yang selalu mengingatkan tentang kesabaran pada Sandiaga. Foto: Gulalives

Nur sendiri duduk di SMP Al Azhar, satu tahun di bawah Sandi.  Pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, mungkin tepat untuk menggambarkan bagaimana proses bersatunya Sandi dan Nur Asia. Pepatah yang artinya jatuh cinta karena sering bertemu itu, memang benar-benar dialami pengusaha muda ini.

Kamu Sulit Melupakan Cinta Pertama? Mungkin Ini Alasannya

“Saya sering main ke rumah Nur untuk ketemu kakaknya. Tiap main saya sering melihat dia dan mulai jatuh hati. Nur adalah cinta pertama dan terakhir saya. Sekitar 14 tahun kami pacaran,” kata Sandi dalam bincang-bincang dengan sejumlah media gaya hidup di Jakarta, baru-baru ini.

Sandi menuturkan, selama tiga tahun di SMA, hubungan mereka sering putus sambung. Beberapa kali Rosan – teman akrab Sandi – berusaha mengenalkan Sandi dengan gadis-gadis lain saat putus itu, tetapi tidak pernah berhasil. “Akhirnya teman saya, Rosan, justru membantu memperbaiki hubungan saya dengan Nur,” ujar Sandi.

Ternyata Kenangan Masa SMA Sulit Dilupakan

Nur Asia sebagai penyeimbang suaminya, Sandiaga Uno. Foto: Gulalives
Nur Asia sebagai penyeimbang suaminya, Sandiaga Uno. Foto: Gulalives

Kisah asmara itu berlanjut saat berada di Amerika Serikat. Sandi kuliah di Wichita State University. Konsisten dengan ketertarikannya pada ekonomi, Sandi mengambil jurusan Akuntansi.

Mereka awalnya saling berkirim surat  hingga akhirnya Nur kuliah di Stillwater Oklahoma, yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Wichita. Setiap akhir pekan, Sandi meluangkan waktunya pergi ke Stillwater untuk bertemu dengan Nur.

Ibarat Bumi dan Langit

Sandi dan Nur Asia ibarat bumi dan langit. Sandi mengakui, dirinya nyaris tidak memiliki persamaan dengan Nur. Kepribadian mereka banyak yang bertolak belakang.

Nur cenderung bicara apanya, terkadang ceplas-ceplos. Sementara Sandi suka menahan diri, senantiasa berusaha terlihat tenang tanpa emosi. Dalam mengambil keputusan, Sandi selalu mengedepankan logika dan rasionalitas. Sementara Nur banyak menggunakan perasaan dan intuisi.

Nur Asia dan Sandiaga Uno, pasangan suami istri yang saling melengkapi. Foto: Gulalives
Nur Asia dan Sandiaga Uno, pasangan suami istri yang saling melengkapi. Foto: Gulalives

“Perbedaan-perbedaan ini justru adalah hal yang sangat mengikat diri saya dengan Nur. Terbukti kemudian dalam banyak keputusan penting dalam hidup saya, termasuk bisnis, intuisi istri banyak membantu,” papar Sandi.

Sandi dan Nur Asia menikah di Singapura pada 28 juli 1996. Mereka hanya mengundang keluarga dan sahabat dekat. Tidak ada acara mewah. Usai menikah, Nur tinggal di Singapura mengikuti karier Sandi yang tengah menanjak.

Pasangan muda usia ini mendapat hadiah bulan madu dari atasan tempat Sandi bekerja, yaitu William Soerjadjaja. Mereka berbulan madu ke Eropa selama seminggu.

Kebahagiaan bertambah karena tidak lama kemudian Nur Asia hamil dan melahirkan putri pertama mereka, Anneesha Atheera Uno pada 1997. Putri keduanya, Amyra Athefaa lahir pada 2 Desember 2011. Nur melahirkan anak ketiga, lelaki satu-satunya, bernama Sulaiman Saladdin Uno, empat tahun lalu.

Perjalanan Karier Berliku

Sandiaga Uno, Nur Asia dan anak bungsunya, Sulaiman. Foto: Gulalives
Sandiaga Uno, Nur Asia dan anak bungsunya, Sulaiman. Foto: Gulalives

Sandi bekerja di bank Summa. Tidak lama setelah bekerja, Bank Summa menawari Sandi beasiswa S-2 di Amerika. Ia melanjutkan pendidikan Master of Business Administration di George Washington University (GWU), Washington DC.

Suasana Washington jauh lebih nyaman dibanding Wichita karena lebih banyak pemukim Indonesia tinggal di sana. Di sini, Sandi mulai aktif dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia di Amerika (PERMIAS).

Dalam perjalanan waktu, tiba-tiba Bank Summa mengalami kesulitan likuiditas yang berujung pada kasus kredit macet. William Soerjadjaja turun tangan mengambil alih kepemilikan Bank Summa hingga kemudian menjaminkan kepemilikan sahamnya di aset paling berharga keluarga Soerjadjaja, Astra.

Tetapi semua usaha yang dilakukan oleh William Soerjadjaja, yang pada akhirnya kehilangan kepemilikan di Astra, tidak bisa menyelamatkan Bank Summa. Dampaknya, beasiswa S-2 Sandi pun berhenti di tengah jalan.

Di tengah kondisi buruk ini, Sandi nyaris tidak punya tabungan sebab semua uangnya sudah diinvestasikan. Sementara Atheera baru saja lahir. Tanpa gaji dan tabungan, Sandi memutuskan pulang bersama keluarga kecilnya ke Jakarta.

Cikal Bakal Recapital

Gedung Recapital di Jakarta Selatan. Foto: Wikimapia.org
Gedung Recapital di Jakarta Selatan. Foto: Wikimapia.org

Saat krisis keuangan menampar Indonesia pada 1997, Sandiaga dan Rosan sepakat untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi keuangan. “Dua anak muda berusia 28 tahun dengan pengalaman singkat di dunia keuangan menawarkan jasa konsultan keuangan di tengah-tengah krisis ekonomi yang hebat. Kenekatan itu jadi cikal bakal berdirinya PT Recapital,” kenang Sandi.

Kantor pertama mereka adalah sebuah ruangan bekas salon dengan cat warna pink. Tidak nyaman dengan kantor itu, Sandi dan Rosan selalu bertemu dengan klien di luar kantor dengan beragam alasan yang mereka kemukakan pada klien.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan klien. Keduanya kerap harus melakukan janji temu hingga uang di kantong pun menipis.

Saking tipisnya isi kantongnya ketika itu, pernah satu kali Sandi hendak meminjam uang untuk beli susu anaknya pada Rosan tapi ternyata Rosan juga sedang tidak punya uang dan juga berniat hendak meminjam pada Sandi.

Klien pertama Sandi adalah Jawa Pos Group. Pengalaman berkesan menangani Jawa Pos Group adalah ketika Sandi harus menunggu Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group) selama berjam-jam di lobi.

Namun ketika Dahlan keluar ruangan, ternyata dia tidak punya cukup waktu untuk mendengar penawaran Sandi secara lengkap. Maka jadilah Sandi menyampaikan penawarannya secara singkat selama tidak lebih dari tiga menit. Dasar rezeki, penawaran singkat Sandi tersebut disetujui oleh Dahlan Iskan.

Setelah itu mereka mendapat klien dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Sandi dan Rosan tidak menerima bayaran dalam bentuk uang dari GKBI tetapi mendapatkan ruangan kantor di wisma GKBI yang lebih memadai.

Dalam hal bekerja, Sandi pun berpesan, untuk menjadi seorang pengusaha jangan menjadi orang yang ingin cepat kaya. Dia membocorkan rahasia untuk menjadi pengusaha sukses seperti dirinya. “Kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas,” tandasnya. (VW)

 

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY