Gulalives.com, JAKARTA – Masih ingat nggak, Kate Middleton, the Duchess of Cambridge, yang mengalami morning sickness parah, hingga harus dirawat di rumah sakit saat kehamilan anak pertama, Pangeran George? Middleton ketika itu mesti menjalani perawatan selama empat hari karena morning sickness yang parah, juga dikenal sebagai hiperemesis gravidarum.

Hiperemesis gravidarum mempengaruhi sekitar 1 persen dari wanita hamil, biasanya hilang selama paruh kedua kehamilan, dan umumnya tidak menyebabkan komplikasi serius pada ibu atau anak, menurut National Institutes of Health.

Beruntung Middleton pulih. Namun, kondisi tersebut dapat menyebabkan kekurangan gizi dan dehidrasi. Tiga risiko kesehatan yang mungkin timbul terkait mual muntah parah selama kehamilan menurut Myhealthnewsdaily antara lain adalah:

Berikut adalah tiga risiko kesehatan terkait dengan morning sickness yang parah:

1. Kelahiran prematur
Sebuah studi terhadap lebih dari 81.000 wanita menemukan bahwa mereka yang mengalami mual dan muntah selama kehamilan yang mengganggu kehidupan mereka, sebanyak 23 persen lebih mungkin untuk melahirkan bayi sebelum 34 minggu dibandingkan dengan perempuan yang mengatakan morning sickness mereka tidak secara langsung mempengaruhi aktivitas.

Seorang bayi dianggap prematur ketika ia lahir sebelum 37 minggu kehamilan. Alasan untuk kaitan ini tak dapat ditentukan dari studi ini, namun gizi buruk dan kenaikan berat badan terlalu sedikit dapat menyebabkan risiko, kata para peneliti. Penelitian ini dipresentasikan pada Society for Maternal-Fetal Medicine di Dallas, tahun ini.

2. Risiko gangguan psikologis pada anak-anak
Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu anak-anak menemukan anak yang lahir dari ibu yang mengalami hiperemesis gravidarum sekitar 3,5 kali lebih mungkin untuk memiliki masalah perilaku atau emosional, seperti kecemasan, depresi atau gangguan bipolar ketika mereka dewasa, dibandingkan dengan anak dari ibu tanpa gangguan tersebut.

Ibu dalam penelitian mengatakan mereka telah kehilangan setidaknya 5 persen dari berat badan ketika mengalami hiperemesis gravidarum. Para peneliti berspekulasi bahwa stres dan kecemasan selama kehamilan, serta gizi buruk, dapat mempengaruhi perkembangan otak janin. Wanita dengan kondisi tersebut mungkin mengalami masalah psikologis atau fisik setelah kehamilan mereka yang menghambat kemampuan mereka untuk menjalin ikatan dengan anak.

Namun, perempuan dalam studi itu telah bertahun-tahun hamil lalu, ketika pengobatan hiperemesis gravidarum tidak umum, sehingga risiko untuk anak-anak hari ini mungkin lebih rendah, kata para peneliti.

3. Gangguan otak
Seorang wanita hamil berusia 25 tahun di India mengalami kondisi otak yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke setelah tiga bulan muntah, yang mengakibatkan penurunan berat badan, menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan Mei lalu di Journal of the Association of Physicians of India.

Perempuan itu mengalami kehilangan penglihatan dan masalah dengan keseimbangan dan berjalan. Sebuah pemindaian di otaknya menunjukkan perubahan yang konsisten dengan gangguan, kata para peneliti. Ensefalopati Wernicke disebabkan oleh kekurangan vitamin B1 (tiamin), menurut National Institutes of Health. Pasien dapat mengalami kebingungan, masalah dengan koordinasi otot dan perubahan visi.

Hal ini paling sering terlihat pada pecandu alkohol, tetapi dapat berkembang pada orang yang memiliki masalah penyerapan makanan, seperti individu yang telah menjalani operasi bypass lambung. Laporan ini menggambarkan kasus hanya satu perempuan, dan kondisi ini tidak diketahui umum di kalangan wanita dengan hiperemesis gravidarum. (VW)

 

LEAVE A REPLY