Ria Miranda. Foto: Dailymoslem

Gulalives.com, JAKARTA – Muda dan sukses, bukan predikat yang gampang diraih. Sejak remaja, Ria Miranda sudah membayangkan dirinya berdiri di panggung pergelaran busana, tampil sesaat setelah mementaskan koleksi rancangannya.

Di Padang, kota tempat ia lahir dan dibesarkan, ia memupuk mimpi itu dengan buku gambar yang dipenuhi sketsa baju rancangannya. Bahkan dia mengaku, saat SMA, buku sketsanya pernah laku dibeli teman.

Di Kampus Universitas Andalas, Padang, tempat ia kuliah pada 2002-2006, gaya berhijab perempuan kelahiran Padang, 15 Juli 1985 yang memiliki nama lengkap Indria Miranda ini kerap mengundang komentar karena dianggap tak biasa.

Ria Miranda, desainer busana muslim yang dikenal dengan rancangan bernuansa pastel. Foto: Kompasmuda
Ria Miranda, desainer busana muslim yang dikenal dengan rancangan bernuansa pastel. Foto: Kompasmuda

“Selama masih dalam batasan sopan, sebenarnya kan boleh-boleh saja berbusana kreatif. Waktu itu, menurut saya, kebanyakan gaya berjilbab masih rada monoton, enggak seru,” kata desainer yang merilis lini busana atas namanya, riamiranda.

Selepas dari studi di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang (lulus 2006), Ria melanjutkan studi ke sekolah mode ESMOD demi mengejar kecintaannya pada dunia mode. Dia ulus ESMOD pada 2008

Tamat dari sekolah mode ESMOD, Jakarta, Ria tidak langsung membangun label. Ia memulai dengan menjadi fashion stylist di majalah Noor. Di situ, ia menangani padu-padan busana, dan pemotretan mode.

Di majalah muslimah Noor inilah Ria bergaul dengan kalangan industri mode. Setahun menggali pengalaman sebagai pengarah mode, barulah Ria membulatkan tekad menjadi desainer busana muslimah dengan label namanya sendiri.

Desainer busana muslim Ria Miranda. Foto; riamiranda
Desainer busana muslim Ria Miranda. Foto; riamiranda

Ria menemukan karakter yang menjadi ciri rancangannya, justru ketika membaca buku tentang desain interior Shabby Chic, karya Rachel Aswell. Gaya desain interior ini mengolah barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, juga barang klasik untuk direkondisi dengan sentuhan feminin.

Dari situ ia belajar bahwa ketidaksempurnaan bisa terlihat menarik dengan sentuhan feminin yang cantik. Gaya ini juga memungkinkan Ria menggunakan warna-warna pastel lembut yang hingga kini menjadi ciri rancangannya.

Pada 2009, Ria memulai dengan menggali ide untuk koleksi pertama, lalu menuangkannya dalam puluhan sketsa, lengkap dengan pilihan warna, teknik jahitan, dan detail.

Pulang berbelanja kain, seorang pengendara motor berteriak, mengisyaratkan ban mobil Ria bocor. Ia pun menepi dan turun memeriksa ban. Saat itulah, tas-tas yang ada di kursi belakang diangkut maling, termasuk tas berisi sketsa-sketsanya.

Desainer busana muslim Ria Miranda. Foto; riamiranda
Desainer busana muslim Ria Miranda. Foto; riamiranda

Baru saja memulai, aral sudah merintang. Namun Ria tak patah semangat. Sketsa boleh hilang, namun ide di kepalanya tak bisa dicuri. Ia menggambar ulang.

Berikutnya, membentuk tim produksi, termasuk penjahit berkualitas. Ia juga memikirkan label, logo, rencana promosi, penjualan, pemotretan, mencari model, fotografer, hingga aksesori.

Ketika koleksi sudah diluncurkan dan disambut amat positif oleh pasar, sandungan berikutnya menghadang. Ria mendapat asisten kepercayaannya justru “bermain” sendiri di belakang.

Ketika model blus kasual menyatu dengan penutup kepala (hoodie) yang ia desain melejit, desain itu juga laris dibajak. Dari sinilah Ria mengaku belajar ikhlas.

Ria lahir dari keluarga besar yang kebanyakan berprofesi pebisnis. Ayahnya, Syahrial Syarief, adalah pengusaha di Padang sekaligus pengajar di Universitas Andalas. Namun, Ria punya mimpi sendiri: jadi perancang mode.

Empat tahun setelah merampungkan kuliah ekonomi, Ria meminta sang ayah mengizinkannya belajar mode di Jakarta. Izin pertamanya hanya untuk kursus tiga bulan membuat sketsa. Itu pun sudah membuatnya senang luar biasa. “Rasanya sudah seperti anak kecil dikasih permen, senang banget,” ujarnya.

Ria Miranda bersama suami yang juga pasangan bisnisnya, dan buah hatinya. Foto: riamiranda
Ria Miranda bersama suami yang juga pasangan bisnisnya, dan buah hatinya. Foto: riamiranda

Setelah kursus, ia “menawar” lagi agar diizinkan meneruskan ke program studi mode satu tahun. Dengan bantuan para tante yang ikut membujuk sang ayah, Ria bisa meneruskan studi mode lagi. Di kampus ESMOD Jakarta, tempat ia belajar itu Ria antara lain bersahabat dengan Dian Pelangi yang kini juga dikenal sebagai desainer busana muslim papan atas.

Bersama Dian dan beberapa sahabat lainnya, Ria membangun komunitas yang kini dikenal sebagai Hijabers Community.

Sampai saat ini, komunitas “hijaber” terus berkembang dan menjadi pasar tersendiri bagi produk mode, khususnya busana muslimah.

Ria merasa sangat beruntung. Selain orangtua dan keluarga yang mendukung, ia juga menemukan a lifetime partner, tak lain suaminya, Pandu Rosadi. Pada usia 25 tahun, Ria menikah dengan Pandu.

Menjelang kelahiran putri mereka, Juni 2012, yang diberi nama Katyaluna, sang suami memberinya “kado”. Kado apakah itu? Yaitu keputusan Pandu mundur dari pekerjaan yang sudah mapan dan total mendukung Ria mengelola rumah mode “riamiranda”.

Dengan begitu, Ria bisa lebih mengerahkan energi untuk menggarap aspek kreatif, sedangkan sang suami lebih banyak menangani bisnis. Ini memang kemitraan seumur hidup, demikian kata desainer yang identik dengan rancangan nuansa pastel ini. (VW/berbagai sumber)

LEAVE A REPLY