Gulalives.com, YOGYAKARTA – Masih punya sisa waktu libur Lebaran? Mungkin bisa mampir ke Yogyakarta. Berkunjung ke Yogyakarta identik dengan Malioboro, yang kental dengan nuansa jajanan lesehan serta pernah pernik yang memikat mata. Saat berkunjung ke Malioboro, jangan lupa untuk mampir juga ke pasar tradisional, yang terkenal dengan sebutan Pasar Beringharjo. Letaknya bersebelahan persis dengan Jalan Malioboro.

Saat saya berkunjung ke Pasar Beringharjo hari kedua Lebaran, juragan batik yang biasa berjualan, masih libur. Namun lapak atau kios yang biasa dipakai bakul yang biasa mangkal tetap ramai, karena digantikan oleh bakul batik musiman yang mencoba mengais rezeki orang luar daerah yang hendak belanja batik sebagai oleh-oleh.

Aneka macam batik digelar di Pasar Beringharjo. Banyak pedagang batik luar daerah yang kulakan di pasar ini. Harganya variatif, mulai dari Rp10.000 per potong untuk baju anak-anak, hingga jutaan rupiah untuk batik tulis yang mulai langka, alias lawasan.

Saya belanja oleh-oleh batik mulai dari kaos batik, rok panjang, daster juga blus. Juragan batik yang biasa saya sambangi kebetulan libur, jadilah saya harus berburu ke penjual batik yang lain dengan memanfaatkan keahlian tawar menawar yang tampaknya cukup manjur. Beberapa potong rok panjang batik, sebagian batik tulis, berhasil berpindah tangan dengan transaksi yang lumayan alot.

Inilah seninya belanja batik di Pasar Beringharjo. Kita masih bisa tawar menawar dengan penjual, meski harga yang ditawarkan tidak bakal turun jauh. Namun namanya perempuan, rasanya tidak afdol jika membeli tanpa menawar bukan?

Buat kamu yang tidak jago menawar, di Pasar Beringharjo ada sejumlah kios yang menawarkan harga pas. Cukup bayar dengan harga yang tertera di tag, batik-batik cantik bisa dibawa pulang.

Menikmati Pecel

Kuliner-di-yogyakarta
Berjalan-jalan di Pasar Beringharjo cukup membikin kaki pegal dan perut lapar. Saat keluar pasar, mengarah ke area depan pasar, yang langsung berhadapan dengan Jalan Maliorobo, banyak pedagang makanan a la angkringan yang mangkal. Posisi penjual makanan ini berdekatan dengan tempat parkir sepeda motor.

Jika pernah ke Malioboro pasti paham, betapa untuk berjalan santai, merupakan suatu ‘kemewahan’ karena area pejalan kaki banyak dipakai untuk berjualan.Namun tampaknya semua maklum. Semua orang butuh mencari makan bukan?

Saya putuskan memesan pecel bumbu kacang kepada penjual makanan yang pemiliknya kakak beradik, perempuan rupawan dengan hidung ‘mbangir’ yang murah senyum. Sebungkus pecel bisa dinikmati seharga Rp5.000 per porsi. Namun jika ditambah ati ampela, telur burung puyuh atau bahkan usus, tinggal hitung saja berapa tusuk. Satu tusuk lauk pauk yang semuanya berbumbu manis ini dihargai Rp5.000.

Kalau ngidam burung puyuh goreng juga ada. Porsi satu burung puyuh berikut nasi putih Rp18.000, lengkap dengan sambal tomat. Lengkapi dengan segelas es cendol yang segar dan wangi, yang dibandrol Rp5.000 saja per gelasnya.

Selamat menikmati Yogya dengan kemacetan dan romansanya. Meski macet, panas, dan sulit dapat parkir, khususnya jika musim liburan, namun yang pasti Yogya selalu ngangenin. Yogya memang istimewa! (VW/SY)

LEAVE A REPLY