konfrontasi.com

Gulaives.co – Tak akan ada seorang muslim beriman yang ingin mati dalam keadaan su’ul khatimah. Maka itu, kita pasti terus berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan seseorang bisa meninggal dengan kondisi yang demikian. Karena pada kenyataannya, memang ada sebagian orang yang terlihat sebagai muslim, rajin beribadah, tapi akhir hayatnya? Tetap ditutup dengan su’ul khatimah. Sungguh kami berlindung kepada Allah, dari kondisi ini. Lantas, apa saja yang menjadi penyebab seseorang bisa meninggal dalam keadaan su’ul khatimah?

Rusaknya Aqidah

Related image
wordpress.com

Seseorang dengan aqidah yang rusak dan meyakininya, cepat atau lambat akan terkuak kebatilan akan keyakinanya, saat sakaratul maut datang. Walaupun dalam dirinya terdapat keyakinan yang hak dan yang batil. Terungkapnya kebatilan akidahnya, menjadi penyebab hilangnya sisa akidahnya yang lain.

Karena sesungguhnya, keluarnya nyawa orang tersebut sedang dalam kondisi ini, dan ia belum sempat mengecap kebenaran, pun kembali pada pokok iman, maka akhir hayatnya ditutup dengan su’ul khatimah, dan ia meninggalkan dunia tanpa iman. Termasuklah ia di antara orang-orang yang disebutkan oleh Allah Ta’ala,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya,” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Siapapun, jika meyakini akidah yang berseberangan dengan akidah yang shahih, baik atas penalarannya sendiri pun mengambil dari orang yang berakidah batil, maka ia tetap berada di dalam lingkup berbahaya. Karena kezuhudan dan keshalihan tidak sedikitpun membawa manfaat baginya. Naudzubillah.

Sesungguhnya yang bisa mendatangkan kebaikan pada dirinya adalah akidah yang benar, yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena akidah dalam Islam tidak dianggap, kecuali yang berasal dari keduanya.

Terus Menerus Melakukan Maksiat

Related image
kisahikmah.com

Mereka yang terbiasa melakukan maksiat, maka akan terekam hal tersebut di dalam batinnya. Dan, semua tindakan yang terekam selama hidupnya itu, akan teringat kembali saat kematian menjemput. Jika ia cenderung dekat pada ketaatan, maka yang akan terngiang dalam benaknya saat ajal datang adalah amal-amal ketaatan.

Namun, sebaliknya jika ia cenderung dekat pada perbuatan maksiat, maka yang akan muncul dalam ingatannya saat maut menjemput adalah kemaksiatan. Dan, boleh jadi keinginan berbuat kemaksiatan itu mendominasi dirinya saat kematian menghampirinya, hingga hatinya merasa candu dengan hal nol manfaat ini. Akibatnya? Muncul hijab antara dirinya dengan Rabb-nya, dan akan menjadi sebab kesengsaraan baginya di akhirat. Sebagian ulama salaf pun berkata,

الْمَعَاصِيْ بَرِيْدُ الْكُفْرِ كَمَا أَنَّ الْقُبْلَةَ بَرِيْدُ الْجِمَاعِ وَالْغِنَاءَ بَرِيْدُ الزِّنَا وَالنَّظَرَ بَرِيْدُ الْعِشْقِ وَالْمَرَضَ بَرِيْدُ الْمَوْتِ

“Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran sebagaimana halnya ciuman pengantar menuju jimak, nyanyian adalah pengantar menuju zina, pandangan adalah pengantar menuju kerinduan, dan sakit pengantar menuju kematian,”

Dan, siapa yang tidak pernah melakukan kemaksiatan atau pernah melakukannya lalu bertaubat, maka dia jauh dari bahaya ini. Sedangkan orang yang banyak melakukan dosa, hingga jumlahnya lebih banyak daripada ketaatannya, dan dia tidak bertaubat darinya, bahkan terus menerus melakukannya, maka ini akan menciderai dirinya sendiri.

Karena banyaknya goresan dosa tersebut menyebabkan ukiran kelam dalam hatinya, sehingga ia kecanduan terhadap hal nol manfaat ini. Maka, ketika nyawanya dicabut dalam kondisi tersebut, ini akan menjadi sebab akhir hidupnya yang buruk (su’ul khatimah).

Contoh mudah dari hal ini adalah seseorang yang memimpikan kondisi di mana ia jalani selama hidupnya, hingga orang yang menghabiskan waktunya untuk berkecimpung dengan ilmu yang bermanfaat, akan memimpikan kondisi-kondisi yang berkaitan dengan ilmu dan ulama. Sebaliknya, jika seseorang yang menghabiskan waktunya dalam menjahit, maka dia akan memimpikan jahitan, para penjahit dan pelanggannya.

Kenapa seperti itu? Karena tidak akan hadir dalam mimpi seseorang kecuali sesuatu yang memiliki kesan dalam batinnya, semakin sering ia berkecimpung dengan hal itu, semakin dekat pula ia dengannya. Sedangkan kematian tak ada yang tahu kapan datangnya. Saat ruh dicabut dalam kondisi buruk, maka seseorang telah mengakhiri hidupnya dengan su’ul khatimah.

Imam al-Dzahabi berkata dalam al-Kabaair, Mujahid berkata, “Tidak ada satu orang yang meninggal kecuali terbayang olehnya teman-temannya yang sering duduk bersamanya, sehingga datang seseorang yang biasa bermain catur bersamanya. Lalu dikatakan padanya, “Ucapkan Laa Ilaaha Illallaah”, maka dia menjawab, “Sekak” lalu dia mati. Maka yang banyak terucap oleh lisannya adalah yang biasa dikerjakanya saat bermain catur. Lisannya mengucap “Sekak” sebagai pengganti dari kalimat tauhid.

Dan datang lagi seorang laki-laki kepada laki-laki lain yang biasa menenggak minuman keras. Dia mendekatinya, lalu mulai menuntunnya dengan kalimat syahadat. Maka, dia berkata kepada orang yang menjenguknya tadi, “Minum dan tuangkan untukku”, lalu dia mati. Laa Haula wa laa Quwwata Illaa Billaahi al-‘Aliyyi al-‘Adzim.”

Orang yang terbiasa melakukan maksiat, maka akan terekam dalam batinnya. Dan semua tindakan yang terekam selama hidupnya akan teringat kembali saat kematian menjemput. Astaghfirullah.

Sengaja Tidak Istiqamah

Related image
asysyariah.com

Jika seseorang sebelumnya istiqamah, lalu berubah kondisinya dan meninggalkan keadaan tadi, maka hal itu menjadi sebab dia mengalami su’ul khatimah. Contohnya, Bal’am bin Ba’ur yang telah Allah berikan kepadanya ayat-ayat-Nya, lalu dia sengaja melepaskan diri darinya, dikarenakan cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah, akhirnya dia menjadi orang yang sesat dan celaka.

Contoh lainnya, pendeta Barshisha, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang dibujuk syaitan, “Kufurlah”. Dan, saat ia telah kufur maka syaitan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Rabb, Tuhan semesta alam.” Dia telah ditipu syaitan untuk kufur. Maka, ketika dia telah kafir, syaitan melepaskan diri darinya, karena takut akan menyertainya dalam adzab. Tapi hal itu tidak bermanfaat baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

“Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang dzalim,” (QS. Al-Hasyar: 17)

Lemah Iman

Related image
satujam.com

Jika iman seseorang lemah, maka begitu juga dengan rasa cintanya kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, saat cinta pada dunia menguat dalam hatinya, hingga menguasai dirinya. Dan tidak tersisa lagi tempat untuk mencintai Allah Ta’ala. Akibatnya, jiwa tidak lagi bisa terpengaruh atas penyimpangan dirinya.

Larangan berbuat maksiat tidak lagi berguna, anjuran untuk taat tidak lagi memiliki tempat dalam dirinya. Hingga ia terjerembab dalam kubangan syahwat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat. Kegelapan dosa telah menutupi hatinya, hingga cahaya iman selalu dipadamkan olehnya.

Dan, saat datang sakaratul maut, maka kecintaan kepada Allah melemah dalam hatinya, ketika dia tahu akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Sedangkan, kecintaannya pada dunia mengalahkan dirinya sehingga berat untuk meninggalkannya.

Tingkatan Su’ul Khatimah

Related image
wordpress.com

Su’ul khatimah memiliki dua tingkatan:

  • Sangat berbahaya, yakni saat muncul keraguan dan penentangan ketika sakaratul maut datang. Sehingga nyawanya dicabut dalam kondisi demikian. Maka hal itu menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala untuk selama-lamanya. Dan, hal itu menjadikannya kekal dalam siksa yang abadi.
  • Tingkatan di bawah itu, tapi masih berbahaya. Ketika sakaratul maut datang, dalam hatinya didominasi oleh kecintaan pada dunia dan kesenangannya. Hal itu tergambar jelas dalam benaknya, sehingga tidak terpikir olehnya selain dari itu. Maka, kondisi tercabutnya nyawa semacam ini sangatlah mengkhawatirkan. Karena seseorang mati dalam kondisi yang biasa ia jalani, dan hal itu menjadi kerugian yang sangat besar.

Jika pokok iman seseorang dan cintanya pada Allah Ta’ala telah memenuhi hatinya dalam waktu cukup lama, kemudian dikuatkan dengan amal-amal shalih, maka iman dalam hatinya tergolong kuat, Allah Maha Tahu, maka saat dia harus dimasukkan ke dalam neraka untuk membersihkan dosa-dosanya.

Dia akan dikeluarkan darinya dalam waktu dekat. Dan, jika imannya ada di bawah itu, maka tinggalnya di neraka akan lebih lama lagi. Tapi jika iman dalam hati hanya sebesar biji, maka ia pasti dikeluarkan dari neraka walaupun setelah beribu-ribu tahun.

Setiap orang yang memiliki sedikit saja keyakinan terhadap Allah dalam sifat dan perbuatan-Nya yang menyimpang dari akidah yang benar, baik karena taklid atau hasil pencariannya sendiri, maka dia berada dalam kondisi yang membahayakan.

Kezuhudan dan keshalihannya tidak cukup untuk menghilangkan bencana ini. Bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya, kecuali keyakinan yang benar, yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah muthahharah.

Seorang ulama pun berkata, “Sebab-sebab seseorang mendapat su’ul khatimah (akhir yang buruk) meliputi empat hal, yakni:

  • Meremehkan shalat, artinya bermalas-malasan dalam mengerjakannya,
  • Minum khamr,
  • Mengganggu kaum muslimin, dan
  • Durhaka kepada orang tua.”

Semoga Allah melimpahkan kepada kita husnul khatimah. Menjadikan kuburan kita sebagai bagian dari taman-taman surga dengan ampunan, rahmat, dan kemurahan-Nya. Aamiin.

LEAVE A REPLY