source : voa-islam.com

Gulalives.com, JAKARTA – Semenjak Presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk pemberian vonis mati kepada para terpidana kasus narkoba, hukuman mati menjadi salah satu hal yang sering dibahas di berbagai kalangan. Yang terbaru, sembilan terpidana mati kasus narkoba yang dikenal dengan bali nine akan dieksekusi pada Selasa (28/4) malam atau Rabu (29/4) dini hari.

Kesembilan terpidana mati itu terdiri atas Andrew Chan (warga negara Australia), Myuran Sukumaran (Australia), Raheem Agbaje Salami (Nigeria), Zainal Abidin (Indonesia), Rodrigo Gularte (Brasil), Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa (Nigeria), Martin Anderson alias Belo (Ghana), Okwudili Oyatanze (Nigeria), dan Mary Jane Fiesta Veloso (Filipina).

Sebenarnya, bagaimana sejarah hukuman mati ini mulai ada di dunia?  hukuman mati resmi diakui bersamaan dengan adanya hukum tertulis, yakni sejak adanya undang-undang Raja Hamurabi di Babilonia pada abad ke-18 Sebelum Masehi. Saat itu ada ada 25 macam kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Kemudian, pada tahun 2005 lalu, setidaknya 2.148 orang dieksekusi di 22 negara, termasuk Indonesia. Dari data tersebut 94% praktik hukuman mati hanya dilakukan di beberapa negara, misalnya: Iran, Tiongkok, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Dukungan hukuman mati didasari argumen di antaranya bahwa hukuman mati untuk pembunuhan sadis akan mencegah banyak orang untuk membunuh karena gentar akan hukuman yang sangat berat. Namun demikian, berbagai studi ilmiah gagal menunjukkan adanya bukti yang meyakinkan bahwa hukuman mati membuat efek jera dan efektif dibanding jenis hukuman lainnya. Survey yang dilakukan PBB pada 1998 dan 2002 tentang hubungan antara praktik hukuman mati dan angka kejahatan pembunuhan menunjukkan, praktik hukuman mati lebih buruk daripada penjara seumur hidup dalam memberikan efek jera pada pidana pembunuhan.

Selain itu, tingkat kriminalitas berhubungan erat dengan masalah kesejahteraan dan kemiskinan suatu masyarakat, maupun berfungsi atau tidaknya institusi penegakan hukum. Hingga saat ini, tercatat hanya 68 negara yang masih menerapkan praktik hukuman mati, termasuk Indonesia, dan lebih dari setengah negara-negara di dunia telah menghapuskan praktik hukuman mati. Sementara, 88 negara yang telah menghapuskan hukuman mati untuk seluruh kategori kejahatan, 11 negara menghapuskan hukuman mati untuk kategori kejahatan pidana biasa, 30 negara negara malakukan moratorium hukuman mati, dan total 129 negara yang melakukan penghapusan terhadap hukuman mati.

Dokumentasi hukuman mati

Selain kontroversi seputar pelaksanaan hukuman mati, dokumentasi pelaksanaan hukuman mati di era modern nyaris tidak pernah ada. Indonesia misalnya, melarang jurnalis dan masyarakat menonton proses eksekusi regu tembak. Alasan itu pula yang menyebabkan foto hukuman mati yang beredar kebanyakan berupa ilustrasi atau situasi penjara sebelum dan sesudah eksekusi.

Namun, di negeri Paman Sam, Tom Howard, seorang fotografer muda asal Kota Chicago berhasil mengabadikan saat-saat terakhir terpidana meregang nyawa di kursi listrik pada tahun 1928.

Sebagaimana dilansir dari Time, foto eksekusi Ruth Snyder merupakan satu-satunya rekaman gambar paling detail dan dramatis dari sebuah hukuman mati sepanjang sejarah. Ruth dieksekusi melalui kursi listrik. Tahun 1927, Ruth merupakan ibu rumah tangga asal Kota New York dinyatakan bersalah karena melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya sendiri, Albert Snyder. Dalam aksi busuk untuk merebut harta suaminya tersebut, dia dibantu selingkuhan bernama Judd Gray. (DP)

 

LEAVE A REPLY