Mengapa Seseorang Harus Berbohong?

0
3 views
movimento5stellefvg.it

Gulalives.co – Siapa yang tidak tahu, jika beberapa waktu kemarin, publik dihebohkan dengan kebohongan yang dibuat oleh seorang aktivis, Ratna Sarumpaet. Namun, tak lama berselang, ia segera mengadakan jumpa pers di kediamannnya, yakni kawasan Kampung Melayu Kecil V, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu 3 Oktober 2018, di sana Ratna menyampaikan klarifikasinya dengan jelas.

Related image
bbc.com

Ia yang mengaku dianiaya pasca melakukan operasi plastik, awalnya berbohong hanya untuk lingkup keluarganya saja, karena ia bingung bagaimana harus menjelaskan kondisi sebenarnya pada anak-anak, tentang memar yang terjadi pada wajahnya.

Namun, setelah kembali melakukan kegiatan di luar rumah, ia bertemu dengan banyak orang, dan meneruskan kebohongan yang telanjur ia buat. Lantas, sebenarnya apa alasan seseorang merasa harus berbohong? Dan, apakah tiap-tiap kebohongan dilakukan secara sadar? Simak penjelasannya berikut ini:

Suka atau tidak suka, harus diakui bahwa masing-masing dari kita pernah melakukan kebohongan, entah itu kebohongan kecil, pun kebohongan yang bisa menyebabkan kehebohan luar biasa, seperti yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet di atas. Bahkan pada sebuah riset di tahun 2014, ditemukan bahwa rata-rata orang berbohong 10 kali dalam seminggu. Namun, apa alasannya hingga seseorang melakukan kebohongan?

Menurut pengajar senior bidang psikologi tipuan, Paul Seager, salah satu alasan seseorang berbohong adalah untuk menjaga agar hubungan sosial tetap terjaga dengan baik.

“Agar kehidupan sosial tetap berjalan lancar, kita harus melakukan white lies. Jika pasanganmu datang ke rumah dengan karya seninya dan berkata, ‘Apa pendapatmu tentang ini,’ maka hal itu menunjukkan bahwa mereka menginginkan dukungan. Jadi, tidak peduli kamu suka atau tidak, kamu harus bilang itu bagus,” katanya seperti dikutip dari Thr Telegraph.

Ia juga menambakan jika terkadang manusia berbohong untuk melindungi dirinya, orang lain, dan juga untuk membesarkan egonya.

“Ada orang-orang yang berbohong karena mereka mendapat dorongan untuk membuat orang lain menangis, hal itu membuat mereka merasa memiliki kekuatan,” jelas Seager.

Sementara itu, psikiater asal Inggris, Cosmo Hallstrom, pun mengatakan bahwa perilaku berbohong tanpa henti bisa menjadi tanda adanya gangguan kepribadian, seperti psikopati, sosiopati, atau bahkan gangguan kepribadian ambang.

“Beberapa orang hidup di dunia fantasi, dan sama sekali tidak mengatakan kebenaran. Mereka orang-orang yang karena mengalami gangguan fungsi di psikologinya, merasa harus hidup dalam sebuah eksistensi palsu,” ujar Hallstrom.

“Psikopat misalnya, mereka tidak memiliki rasa bersalah atau hati nurani. Mereka fokus pada keuntungan jangka pendek, mereka hidup sesuka hati tanpa memikirkan konsekuensi tindakan mereka,” tambahnya.

Dijelaskan juga bahwa salah satu bentuk penyakit berbohong adalah Sindrom Munchhausen, yakni suatu kondisi di mana ada orang yang berusaha meyakinkan dokternya, bahwa mereka memiliki suatu kondisi medis yang serius.

Baca Juga: Mengapa Operasi Plastik bisa Menjadi Candu? Temukan Jawabannya di Sini!

“Setiap dokter pernah bertemu dengan orang-orang seperti itu. Mereka menjadi pusat perhatian selama beberapa saat, karena mereka memiliki kondisi kesehatan yang tidak bisa dipahami orang-orang,” kata Hallstrom.

“Mereka pergi ke rumah sakit, dan kadang-kadang mencampur darah dengan urine, kemudian mengatakan ke dokternya bahwa mereka mengalami pendarahan di kandung kemihnya. Kebohongan yang mereka buat, kerap kali menjadi semakin fantastis,” tambahnya lagi.

Dijelaskan bahwa orang dengan kondisi tersebut, berbohong dengan berlebihan untuk membuat diri mereka terlihat penting, tapi ada alasan lain, yakni mereka kesulitan untuk menerima kenyataan dan kesulitan yang terjadi dalam kehidupan mereka. Hallstrom mengatakan bahwa kondisi tersebut sangat sulit untuk diobati dan disembuhkan.

“Ahli terapi mungkin bisa membantu, tapi hal itu sangat sulit, karena apa yang mereka lakukan pertama kali adalah berbohong ke ahli terapinya sendiri,” kata Hallstrom.

Psikolog dari Universitas Sebelas Maret, Laelatus Syifa, juga memberikan gambaran tentang berbagai motif yang membuat seseorang berkata yang tidak sebenarnya.

“Manusia berbohong dalam konteks hubungan sosialnya, bisa memiliki tujuan untuk kebaikan atau keburukan, misalnya penipuan. Berbohong juga kadang digunakan sebagai sarana untuk menyelamatkan muka, agar kita tidak berada di posisi yang merugikan diri kita sendiri,” ucapnya.

Namun, terlepas dari motif yang dimiliki, berbohong merupakan tindakan manipulasi data yang dilakukan secara sadar, agar lawan bicara percaya dengan apa yang kita katakan. Menurut Laelatus, tidak ada kebohongan yang dilakukan dengan tidak sadar. Namun, yang ada hanyalah kebohongan yang sudah menjadi kebiasaan

“Berbohong sebenarnya adalah proses yang kompleks, karena pernyataan satu akan membutuhkan pernyataan yang lain,” ujarnya.

Maka dari itu, tidak heran jika satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang lain. Sebab, kebohongan adalah fakta baru yang coba dikonstruksikan oleh pelaku, yang butuh dikuatkan oleh fakta lain. Seseorang yang menyatakan sesuatu dengan tidak jujur, biasanya akan membutuhkan waktu lebih saat memberikan jawaban.

“Membuat kebohongan itu merupakan hal yang kompleks dan rumit. Jadi mereka tampak mikir dulu dengan menunda menjawab, butuh waktu jeda,” kata Laelatus.

Hal itu diiringi dengan raut muka atau intonasi kalimat yang menunjukkan ketidakyakinan, atau perasaan ragu. Karena itu, menurut Laelatus, ada satu celah yang harus dicari untuk mengetahui kebohongan seseorang. Celah itu terkait dengan pernyataan mereka, konsisten atau tidak.

Related image
lifehacker.com

“Hal yang paling bisa kita lakukan untuk melihat seseorang berbohong atau tidak adalah dari ke-konsistenan cerita mereka,” ucapnya.

LEAVE A REPLY