emotionalflutter.com

Gulalives.co – Kita sama-sama tahu jika pelayanan kesehatan merupakan hak dasar masyarakat yang harus dipenuhi, sekalipun mereka adalah rakyat yang kurang mampu, kesehatannya merupakan tanggungjawab negara. Hal ini harus dipandang sebagai suatu investasi, untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pembangunan ekonomi, juga merupakan peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan ke depannya. Sayangnya, negeri kita masih berkutat pada masalah utama pelayanan kesehatan yang itu-itu saja.

Related image
shutterstock.com

Berbagai permasalahan penting dalam pelayanan kesehatan antara lain, disparitas status kesehatan; beban ganda penyakit; kualitas, pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan; pelindungan masyarakat di bidang obat dan makanan; dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Beberapa masalah penting lainnya yang perlu ditangani segera adalah peningkatan akses pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin, penanganan masalah gizi buruk, penanggulangan wabah penyakit menular, pelayanan kesehatan di daerah bencana, dan pemenuhan jumlah serta penyebaran tenaga kesehatan secara merata.

Pelayanan kesehatan termasuk dalam hak azasi warga negara Indonesia. Perlindungannya ada dalam lingkup Undang-undang Dasar 1945, Pasal 28 H ayat (1), (2), dan, (3) serta Pasal 34 ayat (1), (2), dan (3).

Dalam Pasal 34 ayat (3) disebutkan bahwa negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Namun, pada prakteknya masih terdapat beberapa masalah utama pelayanan kesehatan di Indonesia. Menurut Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia, ada empat hal terkait dengan layanan kesehatan, yakni; Accessibility, Capability, Capacity, dan Affordability.

Image result for pelayanan kesehatan Accessibility
today.mims.com

“Untuk Accessibility, memang sekarang sudah banyak rumah sakit. Tapi hanya mengelompok di kota-kota tertentu saja, kota-kota besar, terutama pelayanan rumah sakit yang bentuknya spesialis,” ujar Suryo dalam forum Diskusi Philips HealthTech dengan tema ‘Peran Teknologi dalam Meningkatkan Akses Kesehatan’ di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

“Bayangkan orang di pedalaman, di mana orang harus tiga hingga empat jam naik perahu untuk menuju ke Rumah Sakit, ditambah harus menyambung lagi satu jam dengan naik kendaraan darat. Mereka terkadang punya biaya untuk berobat tapi tidak punya biaya untuk transportasinya,” tambah Suryo.

Untuk Capability adalah kendala di mana tenaga-tenaga dokter umum mungkin memang banyak, tapi tidak dengan dokter-dokter spesialis. Sedangkan menyoal Capacity, alat-alat medis dengan terobosan-terobosan inovatif yang belum dimiliki oleh banyak rumah sakit. Kalaupun ada, ketersediaannya sangat terbatas, hingga tidak mampu mengakomodir jumlah pasien yang banyak.

Affordability adalah apakah mereka (pasien) mampu berobat? Problem kita ada di empat area (Accessibility, Capability, Capacity, dan Affordability) itu,” lanjut Suryo.

Sedangkan menurut Fajaruddin Sihombing, selaku perwakilan dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia, apa yang dikatakan Suryo adalah realita yang terjadi di Indonesia. Keempat masalah inilah yang memang butuh perhatian khusus, agar pemerataan pelayanan kesehatan dapat terlaksana dengan nyata.

“Banyak faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pelayanan nantinya. Faskes dan subsistem lainnya harus bisa saling dukung,” ujar Fajaruddin saat berbincang di kesempatan yang sama.

Bentuk pelayanan kesehatan juga dapat ditingkatkan dengan kehadiran teknologi. Sebab, dengan teknologi nantinya akan membantu untuk meningkatkan efisiensi biaya pelayanan rumah sakit. Sebagai contoh adalah kerjasama antara dokter yang ada di Amerika Serikat dengan yang berada di India.

Baca Juga: Deretan Masalah Gizi yang Paling Sering Terjadi di Indonesia

Tenaga-tenaga ahli medis merupakan tenaga mahal di AS. Mereka berusaha memikirkan bagaimana cara menekan biaya jasa mereka dengan menggunakan teknologi dan bekerjasama dengan tenaga ahli kesehatan dari India. Dua negara yang memiliki beda waktu 12 jam ini kemudian saling bekerjasama dalam melakukan diagnosa.

Di waktu pagi AS, dokter melakukan tes radiologi, kemudian mereka pun mengirimkan hasilnya ke India untuk dibaca oleh ahli radiologinya. Ahli radiologi India pun mengirimkan hasil diagnosanya, untuk kemudian dokter di AS bisa mengambil tindakan medis selanjutnya, berdasarkan hasil diagnosa tersebut. Diharapkan inilah nantinya yang bisa diaplikasikan di Indonesia untuk mengatasi masalah utama pelayanan kesehatan kita.

“Dokter-dokter di pedalaman dapat melakukan tes-tes radiologi kemudian mengirimkan hasilnya ke dokter ahli di kota. Dan nantinya, hasil diagnosa bisa diberikan untuk tindakan medis selanjutnya,” ujar Suryo memberikan pengandaian.

Beberapa solusi teknologi yang diberikan Suryo bersama layanan kesehatan Phillips, Fajaruddin mengaku mendukung karena memang diperlukan sinergi antara para stake-holder untuk mengatasi masalah utama pelayanan kesehatan ini.

“Asosiasi Rumah Sakit Swasta saat ini sudah melakukan penghitungan biaya pelayanan rumah sakit yang mencakup tiga komponen, yaitu lama perawatan, ketenagaan medis yang terlibat dan komponen-komponen pendukung. Bila penggunaan teknologi mampu menjawab ketiga komponen tersebut maka memang teknologi kita butuhkan dan tidak akan bisa dielakkan,” tutup Fajaruddin.

Related image
viva.co.id

Semoga ke depannya masalah utama pelayanan kesehatan di negeri kita tercinta bisa benar-benar rampung, hingga tak perlu lagi kita memeluk kenyataan jika saudara kita di pedalaman harus kehilangan sanak saudaranya hanya karena tak mendapatkan hak yang sama seperti apa yang mudah kita dapatkan di kota-kota besar. Sudahkah kamu bersyukur dan mulai bergerak untuk membantu memecahkan masalah kesehatan ini bersama? Atau hanya berpangku tangan sembari berkomentar saja?

LEAVE A REPLY