arabic.rt.com

Gulalives.co – Menjadi masalah yang sangat kompleks dan penting untuk segera ditangani, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi paling lengkap. Fakta yang menyedihkan ini terungkap lewat beberapa penelitian, yang menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia cenderung terus meningkat, dan tidak sebanding dengan beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Related image
motherandbaby.co.id

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, perkembangan masalah gizi di Indonesia bisa dibagi ke dalam tiga hal, yakni masalah gizi yang sudah terkendali, masalah yang belum bisa diselesaikan (un-finished), dan masalah gizi yang justru semakin meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging).

Masalah Gizi yang Sudah Terkendali

Anemia

Related image
zonaherbal.net

Anemia adalah kondisi di mana tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen pada jaringan tubuh. Masalah kesehatan ini paling banyak ditemukan pada ibu hamil dengan gejala berupa rasa lelah, lemah, pucat, detak jantung tidak beraturan, dan sakit kepala. Berdasarkan data yang diambil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, lebih dari 15 persen balita dan 37 persen ibu hamil mengalami anemia.

Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami anemia memiliki risiko meninggal dalam proses persalinan hingga 3,6 kali lebih besar, akibat pendarahan dan atau sepsis. Dan, untuk mencegah terjadinya anemia, ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi paling sedikit 90 pil zat besi selama kehamilannya. Zat besi yang dimaksud adalah semua konsumsi zat besi selama masa kehamilannya, termasuk yang dijual bebas pun multivitamin yang mengandung zat besi. Kamu salah satu yang mengalami ini?

Kurang vitamin A (KVA)

Related image
indianexpress.com

Kekurangan vitamin A (KVA) merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia yang paling umum terjadi pada anak-anak dan ibu hamil. Meskipun ini termasuk masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan, tapi kekurangan vitamin A tetap bisa berakibat fatal bila tidak segera ditangani. Pada anak-anak, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan, dan meningkatkan perkembangan penyakit diare juga campak.

Sementara untuk ibu hamil yang kekurangan vitamin A berisiko tinggi mengalami kebutaan, hingga kematian saat persalinan. Tapi tak perlu khawatir, karena kekurangan vitamin A sangat bisa dicegah dengan konsumsi kapsul vitamin A. Di mana kapsul vitamin A ini diberikan setahun dua kali, pada bulan Februari dan Agustus, sejak anak berumur enam bulan. Kapsul merah (dosis 100.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.000 IU) untuk anak umur 12-59 bulan.

GAKI

Related image
mynewshub.cc

Tubuh kita membutuhkan sejumlah iodium untuk membuat zat kimia yang dikenal sebagai hormon tiroid. Di mana hormon tiroid inilah yang nantinya mengendalikan metabolisme dan fungsi penting tubuh lainnya. Kekurangan iodium atau yang biasa disebut GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) memang bukanlah satu-satunya penyebab kadar tiroid dalam tubuh menjadi rendah.

Namun, kekurangan iodium dapat menyebabkan pembesaran abnormal kelenjar tiroid, yang lebih dikenal dengan gondok. Nah, untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah telah mewajibkan semua garam yang beredar di pasaran, harus mengandung iodium sedikitnya 30 ppm. Kamu sudah menggunakan garam beryodium, kan?

Masalah yang Belum Terselesaikan

Stunting

Image result for Stunting
okezone.com

Apa itu Stunting? Permasalahan ini merupakan kondisi malnutrisi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, biasanya terjadi karena pemberian makanan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi sejak dalam kandungan, dan baru akan terdeteksi saat anak berusia dua tahun. Gejala-gejala stunting di antaranya:

  • Postur anak lebih pendek dari anak seusianya,
  • Proporsi tubuh cenderung normal, tetapi anak tampak lebih muda atau kecil untuk usianya,
  • Berat badan rendah untuk anak seusianya, dan
  • Pertumbuhan tulang tertunda.

Di tahun 2013, sebanyak 37,2 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Kondisi ini seringkali dianggap normal karena alasan keturunan. Padahal, stunting bisa sangat memengaruhi perkembangan otak, mengurangi produktivitas seseorang saat usianya masih sangat muda, dan meningkatkan risiko pengembangan penyakit tidak menular di usia lanjut.

Stunting juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko seseorang terkena diabetes, hipertensi, obesitas, dan kematian akibat infeksi. Dan, waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah sejak awal kehamilan, hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Maka, kebutuhan gizi ibu hamil benar-benar harus terpenuhi, untuk mengoptimalkan perkembangan janin. Selain itu, pemberian ASI eksklusif dan gizi seimbang pada balita juga perlu menjadi perhatian khusus, agar anak tidak tumbuh pendek atau stunting.

Kurang Gizi

Image result for Kurang Gizi
klikdokter.com

Tubuh kurus akibat gizi yang kurang sering dinilai lebih baik daripada tubuh gemuk akibat gizi lebih, padahal kenyataannya tidak. Sama seperti obesitas, baik anak-anak pun remaja dengan gizi kurang, memiliki risiko pada kesehatannya. Kamu bisa mengukur kategori status gizi melalui kalkulator BMI.

Di mana bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) biasanya akan mengalami kehidupan di masa depan yang kurang baik. Karena, kebutuhan zat gizi mereka tidak terpenuhi, dalam masa pertumbuhan balita akan meningkatkan kerentanannya terhadap penyakit infeksi pada awal-awal kehidupannya, dan berlangsung hingga ia dewasa. Beberapa risiko kurang gizi di antaranya:

  • Malnutrisi, defisiensi vitamin, atau anemia,
  • Osteoporosis,
  • Penurunan fungsi kekebalan tubuh,
  • Masalah kesuburan yang disebabkan oleh siklus menstruasi yang tidak teratur, dan
  • Masalah pertumbuhan pun perkembangan, terutama pada anak juga remaja.

Masalah Gizi yang Sangat Mengancam Kesehatan

Related image
bangsaonline.com

Berdasarkan Global Nutrition Report di tahun 2014, Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan gizi dalam waktu yang bersamaan, antara lain:

  • Stunting (pendek),
  • Wasting (kurus), dan
  • Overweight (obesitas).

Di mana obesitas atau kelebihan gizi termasuk dalam masalah gizi yang mengancam kesehatan masyarakat kita. Kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan adiposa ini sangat bisa mengganggu kesehatan. Maka, cek kategori status gizi kita masing-masing, dengan menggunakan kalkulator BMI, agar kamu tahu apakah kamu termasuk ke dalam manusia dengan gizi lebih atau tidak.

Karena penyebab kelebihan gizi yang paling mendasar adalah ketidakseimbangan energi dan kalori yang dikonsumsi dengan jumlah yang dikeluarkan. Entah itu terjadi pada anak-anak, remaja, pun dewasa, prevalensi gizi lebih ini terus meningkat hampir satu persen di setiap tahunnya.

Jika seorang anak sudah mengalami obesitas sejak balita, maka mereka akan lebih rentan terkena penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes dan jantung. Untuk menjaga berat badan tetap seimbang dan ideal, kita sangat perlu mengubah pola hidup sehat dengan membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, dengan meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY