Gulalives.com, JAKARTA – Prinsip tidak mengenal adanya bunga, larangan tindakan gharar atau spekulasi dalam menjalankan usaha dan adanya profit and lost sharing membuat syariah finance tumbuh baik dan subur dalam industri perbankan di Indonesia. Setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia sebagai Islamic Banking pertama Indonesia pada tahun 1992, dan tegarnya BMI dalam menghadapi krisis moneter tahun 1998 membuktikan posisi syariah finance sebagai solusi terbaik dalam melindungi kepentingan kreditor maupun debitor.

Dalam data 5 tahun terakhir industri Islamic Bank (IB) berkembang 2 kali lipat dibandingkan dengan pertumbuhan IB secara global, yang tumbuh hanya 10% hingga 20% per tahun. Hal ini tentunya ditunjang oleh mayoritas penduduk Indonesia yang sebagian besar memeluk agama Islam. Data terakhir menyatakan 13% dari total penduduk muslim dunia berada di Indonesia.

Selain peluang market share yang besar, IB menghadapi banyak tantangan dalam proses perkembangannya di Indonesia. Misal kurangnya perhatian pemerintah dalam industri ini, adanya ketidak pastian hukum, Sumber Daya Manusia yang kurang berkualitas hingga kurangnya kemampuan pengembangan produk perbankan syariah. Berbeda dengan negara tetangga Malaysia yang sangat mendukung pertumbuhan syariah finance di negara mereka dengan melakukan terobosan yang memfasilitasi industri yang sedang berkembang. Malaysia sadar dan melihat bahwa perkembangan industri ini dapat membantu pertumbuhan ekonomi mereka secara global.

Melihat kondisi ini ketua Otoritas Jasa Keuangan yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muliaman D. Hadad, beberapa waktu lalu ketika ditemui di Jakarta berjanji akan mengeluarkan “5 years roadmap” yang akan membantu proses pertumbuhan Islamic Banking di Indonesia. Hadad juga memastikan akan mengawal proses merger unit syariah compliant dari ketiga Bank BUMN yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Negara Indonesia yang tentunya akan melipat gandakan market share IB di Indonesia. Nilai dari proses merger tersebut akan menghasilkan Bank bernilai USD $8 billion yang merupakan 40% dari total industri IB di Indonesia.

Dilihat dari data International Monetary Fund, aset Islamic Finance di seluruh dunia terus berkembang pesat hingga mencapai USD $2.5 trilliun namun masih terkonsentrasi di wilayah Timur Tengah dan negara tetangga kita Malaysia. – HZ

LEAVE A REPLY