Kopi, Tentang Rasa dan Asa

0
169 views

 

Yogyakarta – Rabu malam (6/9) tampak pemandangan yang istimewa di Rembug Kopi, sebuah warung kopi yang memfasilitasi pengunjungnya untuk ngopi sekaligus berembug (diskusi, meeting, rapat, dll) di Kota Jogja.

Terlihat Cahyadi Takariawan, konselor keluarga dan penulis buku duduk di samping Ustadz Salim A Fillah, da’i yang dulu buku dan kajian-kajiannya tak jauh-jauh dari tema ‘merah jambu’ dan kini giat menyampaikan tentang sejarah Islam baik skala dunia maupun Nusantara, yang menunjukan betapa luas wawasannya. Terlihat juga sosok seorang wanita, Mega Trishuta Pathiassana, Mahasiswi Pascasarjana IMPA NCH Taiwan, Prodi Hortikultura dan Pembangunan Desa.

Mereka bertiga berbicara dalam sebuah acara diskusi bertajuk¬†“The Untold Story of Coffee : Memahami Filosofi Kopi”.

Dengan latar belakang ketiganya tentu sangat menimbulkan rasa penasaran, apa yang akan dibincang dan disampaikan ketiganya tentang Kopi?

Mega menceritakan tentang kopi berdasar kepakaran studinya. Dia menyampaikan Kopi sebagai tanaman, dengan segala hal di sekitarnya, mulai dari lahan sampai para petani yang tiap tahun jumlahnya bisa berkurang sampai 500.000 orang. Salah satu yang menarik adalah ternyata kopi sudah menjadi ciri atau identitas sebuah bangsa dan negara, dan Indonesia ternyata sudah dikenal dunia lewat Kopi Luwaknya.

Kopi (foto: bappeda.ngawikab.go.id)

Pak Cah, panggilan akrab Cahyadi Takariawan yang menjadi pembicara sekaligus moderator diskusi membenarkan sekaligus menambahkan apa yang disampaikan oleh Mega. Pak Cah menyampaikan tentang Kopi Gunung Puntang, kopi Jawa Barat yang telah mencapai prestasi Juara Dunia dalam Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo di Atlanta, Amerika Serikat, April 2016 lalu. Info tersebut langsung didapat langsung dari Gubernur Jawa Barat, Kang Aher.

Dengan segala kondisi bangsa dan negara yang seringkali menimbulkan rasa miris, masih ada asa Indonesia berbangga di mata dunia. Dan asa itu salah satunya tidak banyak diduga hadir menyemburat lewat Kopi. Perihal Kopi Gunung Puntang, ternyata tidak banyak tersedia di toko-toko karena sudah habis terbeli langsung di kebun. Karena produksinya masih sedikit, para penggemar kopi dari berbagai negara langsung datang menyerbu ke kebun kopi, luar biasa.

Kemudian Ustadz Salim mengajak para peserta diskusi untuk memaknai kopi lebih dalam, bukan hanya sekedar sebagai minuman tapi juga sarana untuk bertafakur. Betapa senang dan ada kebanggan tersendiri ketika penikmat kopi tahu darimana asal kopi yang sedang dinikmatinya dan bagaimana prosesnya mulai dari penanaman sampai tersaji di hadapannya. Seharusnya bisa lebih jauh lagi mentafakurinya, ujar Ustadz Salim yang malam itu memakai topi pet (flatcap) khas para seniman atau pelukis.

(Foto: Innovativeos)

Merenungi bagaimana Allah menggerakan para petani untuk menanam kopi, menggerakan segalanya, hingga bisa ada secangkir kopi bisa kita nikmati, lanjutnya. Semacam mengolah rasa. Bukan hanya menikmati rasa kopi yang tercipta, tapi juga rasa kedekatan kepada Sang Maha Pencipta.

Pak Cah mengakhiri diskusi dengan menyampaikan hikmah di sebuah film yang dijadikan bagian nama dari acara diskusi, Filosofi Kopi. Di film itu, intinya adalah kenikmatan dan keenakan kopi bukan darimana kopi itu berasal. Tapi bagaimana kopi itu dijaga, dirawat dan dikelola, pungkas peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014” itu.

Menjaga, merawat, mengelola rasa kopi.

Menjaga, merawat, mengelola asa para pekerja kopi, mulai dari barista, pegawai kedai kopi, distributor, sampai para petani kopi, dan tentunya juga para penikmat kopi.

LEAVE A REPLY