ruangmuslimah.co

Gulalives.co – Orang tua, sosok yang menjadi latar belakang kehadiran kita. Dari mereka kita mulai kehidupan, dilahirkan, dibesarkan, dididik, dan diberikan kasih sayang. Mereka tak pernah perhitungan untuk apa pun yang diberikan pada kita. Tapi, mengapa sampai hari ini masih saja banyak lansia yang mengalami pahitnya hidup di masa tua mereka? Bagaimana kisah mereka? Apa yang mereka alami? Di mana keluarga yang seharusnya menemani dan menanggung bersama beban hidup mereka? Berikut kisahnya:

Engkong Minggu: Penambal Ban Keliling

Image result for Engkong Minggu: Penambal Ban Keliling
idntimes.com

Kakek yang akrab disapa dengan sebutan Engkong ini sudah berusia 77 tahun, namun ia masih saja menjalankan kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang penambal ban. Semenjak istrinya meninggal, beliau memilih untuk hidup sendiri tanpa bergantung pada kelima anaknya. Setiap harinya, beliau berkeliling sekitaran bundaran Jababeka, Cikarang dengan sepeda tuanya yang dilengkapi dengan alat pompa dan alat tambal ban sederhana, yang ia simpan di dalam sebuah kotak merah kecil. Bukan meminta-minta, beliau hanya berharap setiap hari ada orang yang memakai jasanya. Meski jasa pompa ban hanya diupahi seribu atau dua ribu rupiah saja, tapi beliau tetap bersyukur, dan ingin terus berbuat baik kepada banyak orang.

Pak Aji: Peniup Seruling Jalanan

Image result for Pak Aji: Peniup Seruling Jalanan
idntimes.com

Pak Aji sudah berumur 70 tahun, namun ia masih bekerja sebagai pemain musik di kesenian topeng Sunda, ia menjadi peniup seruling di area CityWalk Jababeka, Cikarang. Semangatnya masih sangat tinggi, beliau bekerja demi keberlangsungan hidup istri dan dirinya. Memiliki seorang anak yang juga mempunyai keterbatasan ekonomi, membuat beliau terus semangat bekerja untuk memberikan uang kepada anak cucunya meski penghasilannya sebagai pemain musik dan peniup seruling tidaklah menentu. Pak Aji adalah salah satu contoh untuk kita tak pernah hidup dengan cara meminta, melainkan berusaha.

Abah: Pemulung Sampah Jalanan

Image result for Abah Anang: Pemulung Sampah Jalanan
idntimes.com

Abah Anang, seorang kakek yang masih harus bekerja sebagai pemulung sampah di sekitaran area CityWalk Jababeka, Cikarang demi melanjutkan kehidupannya. Sama seperti Engkong Minggu, Abah Anang juga memilih untuk hidup sendiri semenjak ditinggal istrinya karena tidak ingin merepotkan kelima anaknya. Tanpa kenal lelah, beliau mengumpulkan sampah-sampah yang kemudian ia dijual kembali pada tengkulak. Dari hasil penjualannya, beliau hanya mendapatkan Rp 17.000/hari. Namun, apa ia sibuk mengeluh? Tidak, Abah Anang jauh lebih pandai mensyukuri hidupnya dibanding kita yang mungkin masih kerap mengeluh dengan hidup yang jauh lebih mudah.

Ma Opong: Penjual Kacang Rebus

idntimes.com

Ma Opong, seorang nenek yang sudah lanjut usia tapi masih berjualan kacang rebus di tepi jalan. Setiap harinya, beliau berjualan kacang rebus di depan Ruko Pasar Modern, Deltamas, Lippo Cikarang. Tak kenal panas dan hujan, beliau selalu dengan sabar duduk di pojok ruko menanti pembeli. Selain mereka yang masih terus berjuang untuk bertahan hidup, ada juga beberapa lansia yang mempunyai kisah memilukan. Mulai dari kisah nenek yang diusir anak-anaknya, hingga kisah perjuangan seorang kakek yang merantau demi istrinya tercinta. Mulai dari kisah yang menguras air mata, hingga cerita yang layak untuk dijadikan keteladanan, karena gigihnya perjuangan yang mereka lakukan untuk menghadapi kerasnya kehidupan.

Nenek Sumini: Sebatang Kara

Image result for Nenek Sumini: Sebatang Kara
tribunnews.com

Hidup sebatangkara di rumah sendiri di RT 05 RW 01 Dusun Pengasih Kecamatan Pengasih, Kulonprogo. Seorang lansia bernama Sumini (72) hanya bisa mengandalkan uluran tangan dari tetangganya. Nenek yang sudah tak bisa berjalan lagi karena kondisinya yang sakit-sakitan ini telantar tanpa kerabat pun keluarganya. Tak sedikit warga yang merasa prihatin dengan kondisi tersebut, hingga akhirnya rela untuk memperhatikannya. Mulai dari soal makan dan minum, bersih-bersih di rumahnya, hingga memandikan sang nenek juga dibantu oleh warga sekitar. Pakaian dan selimut yang dikenakannya juga merupakan bantuan warga. Lantas di mana keluarganya?

“Katanya mereka mau pulang setelah lebaran tapi kok tidak pulang,” katanya sambil terbaring.

Warga sekitar yang selalu mengirim makanan dan minuman setiap hari, Rini Kristanti (38), mengatakan Sumini semula tinggal bersama adiknya, Suminah. Namun, adiknya itu beberapa waktu lalu meninggal dunia. Sementara anak-anak Suminah atau keponakan Sumini telah meninggalkannya untuk merantau ke Jakarta. Jadi, Sumini yang juga tak bersuami itu kini tinggal sendirian di rumahnya. Kita bisa terus berdoa atau bahkan ikut membantu nenek agar jauh lebih menikmati hidup yang sebenarnya indah ini. Jangan ragu untuk berbagi, ya.

Ibu di Sedayu: Tinggal di Gubuk Reyot Bersama Dua Anaknya

Image result for Zumiatun Tinggal di Gubuk Reyot Bersama Dua Anaknya
tribunnews.com

Di gubuk berlantai tanah tanpa pintu tersebut, hanya ada satu buah kasur lapuk tanpa dipan yang digunakan Atun dan kedua anaknya melepas lelah. Sementara itu, beberapa helai baju juga dibiarkan berserakan di atas kasur. Atun menceritakan bahwa gubuk tempat tinggalnya itu dibuat oleh dirinya sendiri. Zuniatun (35) warga Dusun Tapen RT 14, Argorejo, Sedayu yang tinggal di gubuk reyot bersama dua anaknya ini mengaku jika gubuk tersebut berdiri di atas lahan milik ayahnya yang juga tempat di mana ia dilahirkan.

Sebenarnya Atun sempat merantau ke Malaysia untuk bekerja dan di perantauan Atun bertemu Gabriel, seorang pria asal NTT yang menikahinya secara siri. Bersama suaminya itu, Atun sempat tinggal di Polaman dan memiliki tiga anak. Namun, setelah hidup bersama sekian tahun dan tidak berhasil mengurus pernikahannya secara resmi, keduanya memutuskan untuk hidup sendiri-sendiri. Atun pun kemudian ingin tinggal di rumah sendiri di bekas rumahnya dulu yang telah ambruk di Tapen. Ambruk karena sempat gempa di tahun 2006 silam.

Karena kurangnya dana, Atun belum bisa membangun rumah secara permanen. Adapun, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Atun yang kini hanya sibuk mengasuh kedua anaknya dan tidak bekerja ini, hanya bisa mengandalkan bantuan makanan dan kebutuhan sehari-hari dari tetangga dan warga dusun Tapen. Beruntung, beberapa waktu kemudian, warga setempat dilaporkan membantu Atun untuk menyelesaikan rumahnya.

Nenek Tetty: Tidur di Pos Ronda Setelah Diusir Anak Kandung

Related image
kompas.com

Hidup sebatang kara setelah “diusir” oleh anak-anaknya, membuat hati seorang nenek bernama Tetty Mudjiati, hancur. Roda kehidupan yang terus berputar pun membuat dirinya semakin tak berdaya. Wajah keriput perempuan yang akrab disapa Tetty itu menunjukkan usia yang tak lagi muda. Di hadapan nenek tua itu, teronggok beberapa perkakas yang dibungkus dalam plastik warna hitam. Ada juga beberapa koran bekas, triplek, kardus, yang menjadi teman setia nenek berusia 78 tahun ini, hanya itu yang bisa ia gunakan untuk membaringkan tubuhnya di Poskamling Perumahan Rejo Indah PGRI, Desa Japunan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Tetty harus ikhlas menikmati usia senjanya dengan hidup sebatang kara di bekas poskamling berukuran sekitar 3×3,2 meter itu. Bangunan tanpa pintu dan jendela, yang hanya beratap seng keropos dan kotor itu, sebenarnya sangat tidak layak untuk ditinggali. Namun, Tetty sudah terbiasa hidup meringkuk seorang diri tanpa bisa melihat tayangan televisi, bercengkrama bersama keluarganya, apalagi menikmati kudapan yang disediakan anak cucunya. Kebahagiaan sederhana itu sirna sudah, bersamaan dengan rasa kedinginan, kepanasan, dan bocornya air hujan dari atap seng tempatnya tinggal sekarang.

“Saya tidur pakai triplek sama gulungan koran untuk bantal. Kalau kasur ini tidak saya pakai, takut kotor,” ujarnya, sembari menahan isak tangis saat sejumlah wartawan mengunjunginya.

Untuk sekadar makan, dia mendapatkan belas kasihan dari warga sekitar yang memberinya makan, minum, dan uang sekadarnya. Sementara, untuk mandi dan buang air besar, Tetty biasanya pergi ke toilet di sebuah masjid yang tidak jauh dari poskamling itu. Sakit kah hatimu membaca cerita nenek satu ini?

Mbah Jirah: Tinggal di Gubuk Bersama Seekor Anjing

Related image
merdeka.com

Di gubuk berukuran 2×3 meter di lereng Gunug Merapi, tepatnya di dusun Turgo, Purwobinangun, hidup seorang nenek berusia 90 tahun bernama Jirah. Ia hanya hidup seorang diri dan hanya ditemani seekor anjing bernama Semut. Gubuk tersebut hanya berdindingkan bambu dan spanduk bekas. Tentu saja tak bisa melindunginya dari dinginnya udara lereng merapi kala malam. Di dalam rumah pun hanya terdapat meja dan kursi yang sudah usang. Sementara untuk tidur? Ia hanya gunakan tikar untuk dijadikan alas, dan menjadikan baju-baju yang ada untuk membungkus tubuh tuanya. Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari Mbah Jirah?

Ia memilih untuk memanfaatkan alam. Ia menanam salak dan sukun tak jauh dari rumahnya. Untuk memasak, ia memanfaatkan anglo yang ia letakkan di depan tempat tinggalnya. Sehari-hari ia berbagi makanan dengan Semut satu-satunya makhluk hidup yang setia menemaninya selama ini. Beruntung hati warga sekitar pun tergerak untuk bantu kebutuhan mbah Jirah, dengan sesakali memberikan beras untuknya. Karena bagaiamanapun juga, ia sudah tak sanggup merawat kebun salak dengan kondisinya yang semakin menua.

Mbah Tumirah: Penjual Kacang Sangray di Stasiun Tugu

Related image
kompas.com

Nenek bernama Tumirah ini memang miliki tubuh yang sudah renta, tapi semangat hidupnya patut ditiru. Setiap hari ia menggelar lapak dagangan kacang sangraynya di antara motor yang parkir di Stasiun Tugu. Alasnya hanya berupa kain dan dipasang payung lusuh untuk menjaga dagangannya. Kacang-kacang yang sudah dibungkus, ia tata rapi di atas nampan usang. Ia menatanya agar para calon pembeli tertarik dengan dagangannya. Namun kenyataannya, tidak banyak yang tertarik. Bahkan dilirik saja tidak.

Tapi jika sedang bernasib baik, 10 kilogram kacang sangrai yang ia bawa biasanya habis saat menjelang maghrib atau isya. Mbah Tumirah sudah berjualan kacang sangrai di parkir selatan Stasiun Tugu Yogyakarta sejak beberapa tahun belakangan ini. Lantaran usianya yang semakin lanjut, ia kerap kesulitan untuk berjalan. Lantas, apa yang membuatnya tetap semangat berjualan? Ternyata warga Sosrowijayan, Gedong Tengen, Yogyakarta ini tak mau merepotkan siapapun. Selagi mampu, ia ingin terus mencari uang sendiri. Salut!

Suripto: Kakek Tunanetra Pantang Menyerah Mencari Nafkah

Image result for Suripto: Kakek Tunanetra
tribunnews.com

Meski tak lagi bisa melihat, Suripto (60), tetap berupaya melanjutkan hidupnya dengan cara berdagang kipas anyaman bambu dan besek (wadah makanan anyaman bambu). Setiap hari ia berkeliling di sekitaran Kotagede Yogyakarta. Tak mudah bagi seorang tuna netra seperti Suripto untuk melintasi jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Namun, saat menjajakkan dagangan, tak jarang pula warga Minggir Sleman ini harus menabrak mobil atau motor yang diparkir di tepi jalan. Petunjuk arah dari orang-orang pun ia jadikan penuntun langkahnya. Suripto percaya Tuhan menyayanginya, maka dengan tak berpangku tangan, hasil berjualan kipas dan besek pun bisa menghidupi istrinya yang setia menunggu di rumah.

Itulah kisah 10 lansia yang menyayat hati, cerita dari mereka membuat kita terus ingat akan jasa-jasa orang tua kita, terus semangat menjalani hidup, terus bersyukur atas segala yang Tuhan beri, dan berjuang untuk menjadi lebih baik dari orang tua kita di masa lalunya. Untuk apa? Untuk bisa membahagiakan mereka di jalan yang benar. Mudah-mudahan kita bisa membantu dan membahagiakan orang lebih banyak lagi, dan semoga masa tua orang tua kita tercinta tak berujung pilu. Aamiin.

LEAVE A REPLY