merdeka.com

Gulalives.co – Siapa yang menyangka jika lewat buku-buku bekas, seorang ibu bisa bertahan membesarkan anak-anaknya dan berangkat ke tanah suci? Namun, pada kenyataannya semua memang mungkin terjadi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh seorang wanita bernama Siti Solihah Hasan sejak 1969 ini, ia memulai usahanya dengan berjualan buku loak di area Pasar Pereng Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.

Related image
mozaikislam.org

Dan, bisa dikatakan, ia adalah satu-satunya pedagang buku loak yang ada di kota khas mendoan satu ini. Namun, di sisi lain, Ibu Solihah menyimpan begitu banyak cerita yang menginspirasi kita. Karena sebagai seorang ibu, ia sukses membesarkan keenam anaknya lewat usaha yang mungkin bagi sebagian orang justru tidak memiliki peluang. Luar biasanya lagi adalah saat kebanyakan pekerja kantoran sibuk dengan pelesiran mencari hiburan, Ibu Solihah justru memilih untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk pergi ke tanah suci.

Solihah menjual buku loak semenjak usianya masih 16 tahun. Kini di usia yang sudah kepala enam, dia mengatakan, kios buku bekasnya seumpama pohon yang terus berbuah. Penghasilannya dari menjual buku loak telah mengantarkan 3 putra dan 3 putrinya menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi. Lewat buku pula, dia menabung sampai akhirnya mampu memenuhi harapannya untuk berangkat haji di 2015 silam.

“Kios buku ini sampai kapanpun akan tetap saya pertahankan. Pada anak-anak, saya mengatakan lewat jualan buku sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi asal, kita mampu hidup prihatin,” tutur Ibu Solihah.

Sebagaimana seorang ibu yang kasih sayangnya pada anaknya tak pernah luntur, Solihah bertahan menjual buku karena lembar-lembar pengetahuan di dalamnya tak pernah busuk. Maksudnya, buku seusang apa pun akan tetap dicari sebab pengetahuan di dalamnya tak akan pernah hilang manfaatnya. Solihah memercayai, dari berbagai pengalaman, banyak pembeli-pembeli yang datang ke toko buku loaknya mencari majalah-majalah atau buku-buku lama. Tujuannya untuk penelitian bahkan ada juga yang sekadar mengenang kembali bacaan di masa silam.

Di usianya yang semakin renta dan tak lagi sepenuhnya bugar, tak jarang anak-anaknya meminta Solihah untuk pensiun. Namun, pada anak-anaknya dia menjelaskan, kios bukunya adalah sumber penghidupan keluarga yang berperan penting ikut membesarkan mereka. Di sisi lain, dia sadar sejak beberapa tahun terakhir para pembeli semakin minim. Tapi pendapatan lima ratus ribu sebulan, sudah sangat cukup baginya.

“Kios ini saya kontrak setahun Rp 2 juta. Sekarang memang lebih sepi pembeli, tapi saya harus mencari kesibukan daripada diam di rumah. Setidaknya saat sepi, di kios ini saya bisa wiridan atau membaca Alquran,” ujar Solihah.

Masa kejayaan toko buku loaknya, berada di kisaran tahun 70-an sampai 80-an. Seiring banyaknya taman bacaan di Purwokerto, buku-buku bekas cerita silat seperti karya Kho Ping Ho atau Wiro Sableng karya Bastian Tito ramai dicari orang. Selain itu buku-buku paket pelajaran sekolah juga masih banyak dicari oleh para pelajar. Hanya di toko buku loaklah, transaksi penawaran bisa terjadi dengan sangat nyaman, dan ini menjadi modal serta bekal utama calon pembaca untuk mendapat buku dengan harga yang murah.

“Saya sendiri yang setiap satu tahun sekali mencari buku di pasar Senin, Jakarta. Biasanya sepuluh karung dan saya naik kereta api. Dulu ditemani almarhum suami saya. Sekarang saya selalu minta ditemani oleh anak saya,” katanya.

Related image
bukalapak.com

Belajar dari kisah Ibu Solihah dan toko buku loaknya, tak hanya tentang bagaimana seseorang di balik buku yang selalu menyimpan jendela pengetahuan. Namun, juga buku-buku yang tergeletak di toko ini menggambarkan, seusang apa pun juga, tetap menyimpan jejak riwayat seorang ibu, yang kasih sayang yang tak mengenal kata luntur, seumpama buku yang tak akan pernah usang menjadi pengajar bagi setiap pembacanya agar terbentuk menjadi pribadi yang baik.

LEAVE A REPLY