Gulalives.com, JAKARTA – Panjangnya waiting list untuk melaksanakan ibadah Haji, masyarakat berduyun-duyun beralih melaksanakan perjalanan umrah sebelum pergi mengerjakan rukun Islam yang kelima. Namun, berumrah kian lama menjadi sebuah tren, hingga memperoleh label umrah wisata.

Anggota Dewan Syariah Nasional MUI, KH Cholil Nafis mengatakan bahwa masyarakat membentuk persepsi bahwa ibadah bukan lagi murni mengerjakan ibadah, akan tetapi ditambah dengan muatan liburan. “Lalu berkembang sebagai wahana riya atau pamer. Jadi, sisi ruhiyah perlu ditumbuh dan kuatkan lagi,” tutur KH Cholil Nafis, dalam seminar yang digelar Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI), Rabu (6/5) di Jakarta.

Animo masyarakat yang tinggi untuk melaksanakan ibadah umrah membuka peluang berdirinya biro-biro perjalanan umrah dan haji. Semakin banyak travel yang menawarkan beragam paket harga di bawah 15 juta, untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya calon jamaah.

Ditambahkan KH Cholil Nafis, persepsi masyarakat yang tadi mengemas umrah sebagai wisata, juga mendapat pengaruh dan bujukan dari gencarnya promosi biro perjalanan yang menawarkan umrah dan haji dengan harga murah.

Terkait dengan pentingnya edukasi kepada masyarakat supaya lebih berhati-hati dalam memilih agen perjalanan ibadah umrah, Ketua JPMI DKI Jaya, Bimo Prasetio mengemukakan, pihaknya telah melakukan action.

“Sosialisasi dimulai dengan menulis artikel untuk media dan melalui seminar. Kami sampaikan ke berbagai komunitas, organisasi masyarakat, Kemenag dan DPR, bahwa persoalan umrah dengan cara-cara ilegal ini menjadi masalah bersama. Apalagi sampai ada pengaduan dari jamaah yang uangnya dilarikan biro perjalanan yang tidak bertanggung-jawab,” terang Bimo.

Peran JPMI saat ini terus menampung aduan dan keluhan dari masyarakat terkait penyelenggaraan ibadah umrah. Sejumlah laporan terkait menunjukkan bahwa pelaksanaan perjalanan umrah dengan harga yang sangat murah berpotensi memiliki kejanggalan yang sangat besar dan berujung kerugian pada jamaah.

“Masih sering terjadi wanprestasi atau ingkar janji yang dilakukan oleh penyelenggara ibadah umrah terhadap jamaah. Oleh karena itu, JPMI akan tetap membuka posko pengaduan jamaah,” tandasnya. (WI)

LEAVE A REPLY