Bukan Pilek atau Alergi, ini Tanda Kamu Mengalami Kebocoran Otak!

0
234 views
healthline.com

Gulalives.co – Jangan sepelekan kondisimu jika hidung yang mengeluarkan cairan seperti sedang pilek dan alergi, karena bisa jadi ini bukan bagian dari pilek, flu, alergi, atau sinusitis biasa. Karena, gejala tersebut merupakan salah satu tanda seseorang mengalami kebocoran otak. Lantas, apa hubungannya seseorang mengalami kebocoran cairan otak dengan hidung yang meler?

Related image
healthline.com

Dilansir dari Healthline, seorang wanita bernama Kendra Jackson yang berusia 52 tahun di Nebraska, Amerika Serikat (AS), menderita sakit kepala dan hidung berair. Awalnya, dokter menjatuhkan diagnosis bahwa wanita tersebut memiliki alergi.

Namun, kondisinya tak kunjung membaik setelah bertahun-tahun. Hingga seorang dokter spesialis memberikan diagnosis bahwa, sakit kepala dan hidung yang ia derita bukan disebabkan oleh alergi, melainkan kebocoran otak (kebocoran cairan serebrospinal (CSF) pada otak).

Baca Juga: 6 Makanan dan Minuman ini Berbahaya untuk Kesehatan Otak

Cairan yang keluar tersebut bisa jadi merupakan lendir berlebihan akibat infeksi virus, bakteri, dan alergen. Bisa juga cairan itu keluar karena orang tersebut mengalami kebocoran otak. Meski begitu, kebocoran otak sangat jarang terjadi. Lantas, bagaimana cara membedakan hidung meler biasa dengan yang diakibatkan oleh kebocoran otak?

Biasanya, gejala hidung meler akibat pilek, flu, alergi, atau sinusitis akan sembuh setelah diobati, dan menghindari pemicunya. Berbeda dengan kebocoran otak yang akan terus bertahan, dan tidak bisa membaik dengan pengobatan biasa. Selain itu, masih ada gejala lain yang terjadi pada kebocoran otak, dan sangat perlu untuk kamu waspadai, seperti:

  • Sakit kepala,
  • Telinga berdenging,
  • Gangguan penglihatan; mata sakit dan pandangan kabur,
  • Leher kaku,
  • Mual dan muntah, hingga
  • Kejang.

Namun, setiap pasien dengan kondisi ini memiliki gejala yang berbeda-beda. Biasanya, kepala akan terasa sangat sakit saat:

  • Menundukkan kepala,
  • Bangun dari posisi duduk, dan sebaliknya.

Sementara, cairan berwarna jernih yang keluar akan semakin banyak, saat memiringkan kepala, menundukkan kepala, atau ketika mengejan.

Lantas, bagaimana dokter mendiagnosis kebocoran cairan otak?

Kebocoran cairan serebrospinal pada otak disebabkan oleh robekan pada jaringan lunak yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang, yang disebut dura meter. Cairan yang keluar tersebut menyebabkan penurunan volume dan memberi tekanan pada otak. Akhirnya?

Cairan ini dapat mengalir ke hidung, telinga, atau bagian belakang tenggorokan. Rata-rata orang dengan kondisi ini pernah mengalami trauma di kepala, operasi di kepala, atau memiliki tumor di otak. Dan, cairan yang keluar dari hidung ini akan diuji di laboratorium, untuk memastikan bahwa cairan tersebut memang cairan serebrospinal pada otak.

Kemudian, untuk mengetahui dari mana cairan yang keluar dari hidung akibat kebocoran otak bukanlah hal yang mudah. Sebab, pasien harus menjalani berbagai tes (scan) resolusi tinggi, untuk melihat aliran cairan otak. Atau dengan menyuntikkan pewarna fluorescent yang memungkinkan ahli bedah untuk menentukan di mana lokasi kebocoran tersebut.

Jika sudah terjadi, bagaimana cara mengatasi kebocoran cairan otak ini?

Mengatasi kebocoran cairan otak dapat dilakukan dengan dua cara, tergantung dari tingkat keparahan kondisinya. Pertama, dengan melakukan pembedahan, memasukkan saluran kecil yang disebut shunt, untuk menguras sebagian cairan.

Kemudian, dokter akan merekomendasikan pasien untuk beristirahat penuh (bed rest) agar jaringan yang robek dapat pulih dengan sendirinya. Kedua, jika kebocoran yang terjadi lebih besar, maka akan dilakukan penambalan pada bagian yang mengalami kebocoran, dengan jaringan lain sejenis yang ada pada tubuh pasien.

Secara umum seseorang yang mengalami kebocoran cairan otak akan menunjukkan tanda seperti:

Related image
latestly.com
  • Berperilaku tidak seperti biasanya,
  • Menangis berlebihan, apalagi sampai melengking,
  • Lesu, lemas, tidak aktif,
  • Tidak lagi dekat dengan hobi,
  • Muntah,
  • Sulit dibanguinkan, terlalu banyak tidur, seperti tidak sadar
  • Sulit diajak komunikasi, dan
  • Kejang.

Jadi, kalau kondisimu atau orang terdekat seperti yang dijelaskan di atas, sangat dianjurkan untuk segera konsultasi dengan dokter, ya!

LEAVE A REPLY