Gulalives.com, JAKARTA–Kain tenun songket Sumatera, mulai dari Aceh hingga Lampung, memang indah dan terkesan mewah. Sayangnya, karena bahannya berat, panas, dan benang emasnya kerap membuat kulit jadi gatal, penggunaannya baru sebatas sebagai kain yang dipadu dengan blus atau kebaya.

Eksplorasi lebih lanjut songket menjadi gaun terusan atau blus, hampir tak mungkin. Memang, ada desainer yang pernah mencoba membuat songket dari benang sutera sehingga halus dan ringan serta enak dipakai ketika didesain menjadi gaun. Tapi harga busananya tentu menjadi lebih mahal.

Hal yang mungkin dilakukan adalah mengambil motif-motif songket untuk dicetak ke berbagai bahan. Inilah yang dilakukan perancang busana Itang Yunazs untuk koleksi Kamilaa dan Preview.

“Saya merangkai keindahan yang saya rekam dalam benak saat berkunjung ke pulau Sumatera. Andalas menyimpan kekayaan ragam songket dari ujung Aceh hingga Palembang, yang saya terjemahkan ke dalam gaya busana era tahun 80an, namun dengan gaya terkini untuk trend mendatang ”, ujar Itang Yunasz saat jumpa pers sesaat sebelum peragaan busana bertema “Puspa Ragam Andalas” yang digelar di tengah Pusat Grosir Blok B Tanah Abang, Innercourt Lantai LG, pada Kamis (29/4).

Dalam hal ini, Itang mengadopsi motif songket yang dicetak di atas bahan. Dia juga mengangkat motif sulaman dan bordir hingga pantas berkesan kaya motif. Selanjutnya, perancang berdarah Sumatera Barat itu mendesain bahan bermotif songket menjadi busana yang pas dikenakan di Hari Raya Iedul Fitri.

Koleksi Kamilaa, lini untuk wanita, menggambarkan wanita muda masa kini sebagai sosok kuat yang semakin sadar untuk menampilkan gaya personal. Gaya ini membuat pemakaiannya berpenampilan feminin dan elegan. Bisa juga tampil unik, atau aneka karakter lain yang sesuai dengan dirinya.

Variasi gaya wanita itu tergambar melalui karakter desain yang juga beragam, mulai terusan ringan berkesan muda, busana berkonstruksi kuat, terusan berdraperi, atau bahkan gaun mewah kaya ornamen. Koleksi yang ditawarkan sangat kaya ragam, kaya warna dan kaya motif. Dalam koleksi Kamilaa, motif cetak menjadi primadona. Itang mengedepankan siluet sederhana namun kaya, misalnya pada rok lurus yang diwiru rapat, atau rok melebar yang disusun dari pecahan bahan bermotif patchwork.

Koleksi menghidupkan kembali gaya busana era tahun 80an lewat palet warna terang yang merentang lebar, mulai dari biru, turquoise, hijau, kuning kenari, merah marun, shocking pink, hingga oranye. Bahkan model gaya serba kaya itu masih ditambah dengan tampilan baju bertumpuk, melebar, dan tumpang-tindih.

Itang juga memberi sentuhan dan tawaran baru pada styling. Di tangan dinginnya, bersama tim penata gaya yang kuat, busana berpotongan sederhana seperti kaftan yang lurus diubah menjadi blouson yang bervolume, atau selembar kain tipis yang dililitkan di atas rok bermotif, lalu lilitan dinaikkan ke atas kepala menutupi turban, membuat busana-busana itu berubah rupa menjadi sebuah penampilan baru. Pendek kata, di tengah koleksi Kamilaa yang kaya ragam itu, Itang mengajak kaum muda untuk pandai-pandai memainkan padu padan hingga mendapat gaya yang pas.

Nah, dengan koleksi yang terinpirasi songket Sumatera, Andapun siap tampi memikat di hari raya Iedul Fitri.(MK)

LEAVE A REPLY