Inilah Zona Berbahaya untuk Anak di Dalam Mall

Orangtua patut mewaspadai zona berbahaya untuk anak di dalam mall (Foto: Coupons)

Gulalives.com, JAKARTA – Mall bukanlah tempat paling aman bagi anak-anak. Orangtua patut mewaspadai zona berbahaya untuk anak di dalam mall.

Mall menjadi tujuan berlibur para orangtua yang memilih untuk tidak bepergian ke luar kota saat akhir pekan panjang. Seluruh anggota keluarga menikmati berbagai fasilitas di dalamnya, hingga mall pun kini telah menjadi one stop entertainment masyarakat perkotaan.

Saat orangtua mengendarai mobil bersama anak-anak, mereka pasti tidak akan lupa memasangkan sabuk pengaman. Namun, bagaimana ketika anak-anak berada dalam kereta dorong atau keranjang belanja? Adakah orangtua selalu memegang tangannya saat melintasi jalan di dalam mall, lorong supermarket, maupun eskalator dan lift di mall? Inilah yang patut menjadi perhatian orangtua, bahwa mall memiliki zona berbahaya untuk anak-anak.

Di mall, anak-anak sangat mudah terjebak dalam ancaman, seperti kecelakaan mobil, mainan berbahaya, maupun peralatan arena bermain yang tidak aman untuk anak. Dan, seperti diketahui, kasus kecelakaan yang menimpa anak beberapa kali terjadi di dalam mall. Anak-anak tumbuh dengan keinginan besar untuk mengeskplorasi keadaan sekitarnya, karena itu orangtua harus mengetahui zona berbahaya untuk anak di dalam mall.

Berikut beberapa zona berbahaya untuk anak di dalam mall, diulas Parent:

1. Display toko

(Foto: Pinterest)
(Foto: Pinterest)

Toko kerap memajang produknya dalam bentuk mirip menara yang menjulang ke atas. Tujuannya untuk menarik perhatian anak-anak, tapi di sisi lain juga menjadi ancaman yang membahayakan mereka. Bahkan meski hanya memajang barang-barang kecil, tetap berbahaya untuk anak-anak.

Sebagai strategi keselamatan, jangan biarkan anak-anak mendekat ke barang-barang maupun manekin yang dipajang. Tidak semua toko mengamankan manekin dan produk yang mereka pajang sehingga dapat roboh dengan mudah.

Anak-anak berpikir bahwa merangkak di bawah barang-barang yang dipajang maupun manekin adalah hal menyenangkan. Yang membahayakan, tubuh mereka bisa tertimpa barang-barang berat. Karena itu, jangan biarkan mereka meraih sesuatu di atas meja atau apapun yang bisa dijangkaunya. Dia bisa menjatuhkan benda berat atau terkena sudut meja.

2. Eskalator

(Foto: Venusbuzz)
(Foto: Venusbuzz)

Anak-anak kecil seringkali ketakutan naik eskalator, tapi juga penasaran menjajalnya. Ribuan anak usia balita di seluruh dunia setiap tahunnya terluka saat akibat eskalator. Kebanyakan dari mereka cedera adalah karena jatuh, sisanya terjadi ketika tangan, kaki,, atau pakaian mereka terperangkap di bagian yang bergerak pada eskalator. Sementara, lainnya mengalami luka yang cukup ringan, seperti lecet dan memar, maupun luka jeratan yang dapat menghancurkan anggota badan, bahkan memerlukan amputasi.

Sebagai strategi keselamatan, pegang tangan anak sehingga orangtua dapat menuntun dan mematikan eskalator saat terjadi hal tidak diinginkan. Pastikan jari-jari mereka tidak terjebak pada jarak di antara pegangan eskalator. Beritahu si kecil untuk berdiri dan diam menghadap ke depan. Kalau dia duduk di tangga eskalator, jari tangan dan kakinya akan menjadi lebih dekat ke bagian yang berjalan di eskalator.

Jika orangtua membawa kereta dorong, sebaiknya naik lift yang biasanya hanya muat dua kereta dorong dalam sekali jalan sehingga lebih mudah dikendalikan jika terjadi sesuatu. Kalau terpaksa harus naik eskalator, minta seseorang untuk menahan kereta dorong saat menaiki eskalator.

Periksa juga pakaian anak. Pastikan tali sepatunya diikat, dan jangan biarkan anak menyeret mantel, jaket, atau scarf di tanah. Pakaian yang longgar bisa terjebak eskalator, dan menariknya ke bawah. Jika anak terjebak di eskalator, tekan tombol berhenti darurat eskalator yang biasanya terletak di bagian atas dan bawah eskalator. Berteriak juga pada siapapun untuk melakukannya jika orangtua tidak berada dekat tombol tersebut.

3. Keranjang belanja

(Foto: Huffingtonpost)
(Foto: Huffingtonpost)

Membiarkan anak-anak berada dalam keranjang atau kereta belanja tampaknya seperti kenyamanan, tidak berbahaya. Namun, kecelakaan saat belanja yang berhubungan dengan troli belanja mengirim hampir 21.000 anak di bawah usia 5 tahun ke ruang gawat darurat setiap tahunnya. Sebagian besar mengalami cedera kepala dan leher, menurut American Academy of Pediatrics.

Sebagian dari masalah terletak pada desain tidak seimbangnya roda dan stang kereta belanja. Kalau anak-anak berdiri di keranjang, berada di sisi samping atau belakang, mereka bisa dalam bahaya.

Sebagai strategi keselamatan, jauhkan anak-anak dari keranjang. Dudukkan dia pada kereta dorongnya dengan sabuk pengaman terpasang baik. Jika memungkinkan, pilih keranjang belanja yang didesain bersama kursi anak-anak berupa mobil-mobilan.

Jangan pernah biarkan anak-anak naik di samping atau belakang troli belanja tersebut. Membiarkan dia mendorongnya juga dapat menyebabkan kecelakaan. Pastikan anak-anak selalu dalam jangkauan tangan ketika orangtua berbelanja. Jika tidak waspada, hanya butuh waktu satu detik untuk dia jatuh atau terjungkal dari atas kereta belanja.

4. Lift

(Foto: Annietaophotography)
(Foto: Annietaophotography)

Hampir 2.000 anak-anak terluka akibat lift setiap tahunnya. Hal ini biasanya terjadi ketika tangan atau anggota tubuh mereka mengenai pintu llift. Kebanyakan pintu lift akan terbuka jika mendeteksi suatu sensor, tapi lengan anak atau jari anak bisa begitu kecil sehingga mungkin tidak terdeteksi.

Sebagai strategi keselamatan, jangan pernah mencoba untuk menghentikan pintu lift saat hendak menutup dengan lengan, kaki, tas, atau kereta dorong. Meskipun sebagian besar lift di mall dilengkapi dengan fitur keselamatan dan terpelihara dengan baik, mata fotoelektrik lift dapat rusak hingga menyebabkan pintu untuk menghancurkan apa yang terdeteksi olehnya.

Hati-hati jarak antara pintu lift dengan lantai. Pastikan lift telah benar-benar berada pada level yang sama dengan lantai sebelum anak dan orangtua keluar. Jika ini terjadi, kaki anak bisa terjebak di celah tersebut. Dan, jangan biarkan anak bersandar pada pintu lift, zona di mana sebagian besar cedera terjadi.

Tindakan pencegahan

(Foto: Dailymail)
(Foto: Dailymail)

Mall adalah tempat yang menarik untuk anak-anak, dan mereka tidak akan berpikir dua kali untuk melihat ataupun memainkan apa yang menarik di matanya. Berikut adalah tindakan pencegahan dari zona berbahaya untuk anak di dalam mall:

– Menjaga anak tidak bosan. Bawahlah mainan kecil serta buku-buku untuk menghibur anak saat orangtua berbelanja. Anak bosan lebih mungkin berkeliaran ketika orangtuanya asyik sendirian.

– Memberinya nomor ponsel. Kalau si kecil terlalu muda untuk mengingat nomor ponsel orangtuanya, maka tuliskan pada selembar kertas dan masukkan ke dalam saku baju ataupun celananya. Dengan cara ini, siapa saja yang menemukan dia akan dapat menghubungi orangtuanya.

– Memiliki rencana aksi. Pastikan anak tahu apa yang harus dilakukan jika ia kehilangan orangtuanya. Katakan padanya untuk tetap di tempat sambil memanggil-manggil nama orangtuanya. Jika belum juga ditemukan, anak harus meminta bantuan seorang karyawan toko. Orangtua harus lebih dahulu menjelaskan ciri-ciri karyawan toko, seperti memakai seragam dan tag nama, kepada anak. Cara lain, ajarkan dia untuk mencari ibu yang lain dan meminta bantuan. Ini terutama untuk anak yang masih sangat kecil.

– Jangan panik. Kalau orangtua kehilangan si kecil, keamanan mal maupun karyawan toko pasti memiliki prosedur untuk membantu menemukan anak hilang. Selain itu, orangtua sebaiknya kembali ke tempat terakhir di mana melihat anak sambil memanggil-manggil namanya.

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY