Inem Jogja, Si Penebar Kebahagiaan di Jalanan

Gulalives.co – Made Dyah Agustina adalah nama lengkap dari wanita yang saat ini dikenal sebagai Inem Jogja. Ia adalah sosok yang gemar jalan-jalan di kota Jogja, dengan tujuan bisa menebarkan kebahagiaan, dan menepikan kesedihan siapapun yang ia temui. Wajahnya selalu penuh dengan kebahagiaan. Ia selalu memberikan senyum sebagai awal dari pertemuannya dengan siapapun.

Related image

Meski niat awalnya hanya iseng dan ingin mengubah image Inem yang selama ini diekspresikan sebagai pelayan seksi, menjadi pelayan masyarakat yang peduli dengan sesama, serta penuh kesopanan. Inem tak menyangkan jika antusiasme warga sangat luar biasa untuknya.

Kegiatan Inem Jogja sangat beragam, dari memberikan nasi bungkus pada orang tak dikenal, hingga memungut sampah yang jatuh berserakan di jalan-jalan, dan membuangnya ke tempat sampah. Secara tidak langsung, Inem sudah memberikan contoh pada mereka yang melihat aksinya.

Awalnya, Inem hanya anak dari seorang tukang balon yang menjajakan dagangannya di alun-alun utara. Hidupnya pun susah, untuk makan saja, Inem pernah hanya menggunakan minyak dan garam yang diaduk menjadi satu, dan ia santap bersama keluarga.

“Saya dulu latar belakang keluarga tidak mampu, orangtua saya pedagang balon mencari makan nasi susah sekali,” tutur Made Dyah Agustina.

Inem juga menceritakan kalau dulu untuk bersekolah, ia mengalami kesulitan. Bahkan Inem tidak mempunyai sepeser uang pun untuk bisa membeli seragam serta membayar uang SPP sekolah.

Namun, di tengah keterpurukannya, Inem justru mencoba bangkit. Ia melakukan apa pun yang ia bisa, guna membantu meringankan beban kedua orangtuanya. Bakat menari yang ia miliki sejak lahir turun dari ayahnya, ia maksimalkan bakat tersebut untuk mencari sumber penghidupan. Sejak lahir, seni tari memang sudah melekat pada Inem.

“Bapak saya dari tahun 70 di kota Yogya, enggak beruntung mengembara ke Kota Jogja, tahun 1977 sampai sekarang ngontrak terus. Saya jualan bantu keluarga bayar sekolah. Saya hanya bisa nari, saya lakukan job tari. Saya masuk di rumah budaya ini, apa-apa saya dari nari. Bakat saya nari sendiri dimulai dari kecil, diajari bapak, orang Bali kan kalau upacara harus nari,” kenang Inem.

Dari hasil menari itulah ia bisa menempuh jalur pendidikan hingga kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2005, mengambil jurusan pendidikan tari, dan berhasil menyelesaikannya di tahun 2010. Setelahnya, ia melanjutkan kuliah di Institute Seni Indonesia Yogyakarta dengan jurusan manajemen pertunjukan, dan ia selesaikan di tahun 2013 lalu.

“Saya kuliah di UNY, lalu S2 saya di ISI jurusan Manajemen Pertunjukan, itu biaya saya sendiri,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta ini.

“Setelah lulus saya jadi dosen Seni Tari di Universita Terbuka dan Universitas Sanata Dharma dari 2014-2016,” tambahnya.

Tapi merasa kurang mendapatkan passion untuk mengajar, Inem memutuskan untuk berhenti menjadi dosen dan lanjut menjajaki karier di dunia seni, melalui sanggar yang ia kelola di Rumah Budaya Tembi hingga saat ini.

Baca Juga: 24 Tempat Makan di Jogja ini Murah dan Dijamin Kelezatannya

Made Dyah Agustina tentu tidak membayangkan jika Inem Jogja diterima banyak orang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk jalan-jalan di area Maliboro. Karena tingkah laku serta dandanannya, sindiran negatif pun mulai bermunculan, bahkan ia pernah diusir oleh keamanan Malioboro, juga pernah dianggap orang gila oleh para pedagang kaki lima di sana.

“Inem mulai awal januari 2018, saya viral pertama kali karena diusir waktu di Malioboro sama pengamannya, saya gak ngamen, gak perform, padahal saya sudah nunjukin KTP dengan gelar saya, tetap saja diusir entah kenapa. Terus saya dikatakan gila, tapi saya senang orang gak tahu apa yang saya lakukan, mending dilihat negatif dulu,” ujar Inem.

Dari kejadian itulah ia coba menceritakannya di akun sosial Facebook Info Cegatan Jogjakarta (ICJ), dan apa yang ia keluhkan ia sampaikan semuanya. Ia kaget saat melihat banyak komentar yang justru mendukung dirinya melakukan aktivitas kesenian tersebut.

“Saya upload pengusiran itu di grop ICJ, tiba-tiba viral, ternyata ada mahasiswa saya semua, tersebarlah, masa dosen edan dan jalan-jalan, hal itu kemudian viral,” jelas Inem.

“Saya ingin membuat sesauatu hal kesenian itu gak hanya profit, ekspresi jiwa kita sebagai seniman, seni bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar, di situ saya buat edukasi karena maraknya konten negatif, saya membuat sesuatu hiburan yang mengedukasi pengikut saya, saya ingin jadi pelayan masyakarat, saya angkat jadi Inem,” ujarnya.

“Saya ngapain saja di jalan, sederhana saja, saya ingin memanfaatkan bakat saya, saya melakukan hal positif, apa saja yang ditemui, saya bawa kresek ambil sampah, memberikan pelajaran unggah-ungguh ada anak kecil, ada pedagang sudah tua saya bantu, buruh gendong saya bantu, semua itu nilai kehidupan yang orang lain saja tidak banyak yang melakukannya. Berbagai canda tawa dengan orang pedagang yang capek terhibur, nah Inem ada untuk hal itu,” tutur Made Dyah.

Terakhir ia menyampaikan jika ia akan jadi Inem Jogja sampai kapanpun selama ia mampu, meskipun nanti ia sudah tidak memiliki penggemar, meskipun nanti kisahnya sudah tidak lagi dibicarakan banyak orang. Inem Jogja akan selalu ada.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by inem jalan2 💓 (@inemjogja) on

“Saya tidak ingin terkenal, saya tidak ingin viral, saya tidak ingin jauh dari keluarga suami, anak dan ortuku. Apa yg saya lakukan hanya mengisi waktu kosong saya dengan sebuah hobi yg bermanfaat. Kalau akhirnya terkenal dan viral itu bonus bagi saya, yang terpenting kehidupan saya tidak terganggu. Ego ingin meraih kesuksesan itu pasti ada tetapi aku ingin sukses bersama dengan orang2 yang mempunyai tujuan sama denganku berjalan di jalan kebaikan, tidak merugikan, bermanfaat terlebih lagi membantu. #inemjogja #suksesbersama #wargajogja Doaku selalu untuk kalian yg membantuku menyebarkan virus ini, jangan sia2kan waktumu saatnya menjadi manusia yg bermanfaat bagi sekitar,” tulis Inem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here