Inspiratif! Ida Ayu Riski Susilowati, Jualan Cilok Demi bisa Sekolah!

tempo.co

Gulalives.co – Kehidupan Ida Ayu Riski Susilowati, siswi kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Bhakti Karya Karanganyar, belakangan ini menjadi sorotan, karena kisah inspiratif yang ia lahirkan. Banyak yang tersadar tentang asam garam kehidupan, setelah memahami perjalanan hidup gadis ini. Jika biasanya anak sekolah hanya fokus belajar dan sesekali bermain bersama teman-teman, Ida Ayu justru harus bekerja, demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Image result for ida ayu riski susilowati
tempo.co

Ida Ayu tinggal di Karanganyar bersama seorang adiknya yang juga masih bersekolah. Sukirno, Ayah Ida Ayu, sudah meninggal dua tahun lalu. Adapun ibunya, Sumiyati, berdagang makanan matang di Bekasi, Jawa Barat.

Setelah tamat dari sekolah menangah pertama, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara ini memutuskan tinggal di Karanganyar, bersama neneknya. Namun, neneknya pun sudah berpulang ke pangkuan-Nya.

Ia tampak tergesa-gesa mengayuh sepedanya. Dua menit lagi, gerbang SMK Bhakti Karya Karanganyar ditutup. Dari kejauhan, Ida terlihat berbeda dari murid sekolahan pada umumnya.

Dia mengenakan caping, sepedanya pun dilengkapi dengan kotak untuk berjualan cilok. Sebelum memasuki gerbang, ia tak pernah lupa Ida mencium tangan gurunya yang berjaga di luar sekolah. Ia juga bergegas menyapu lantai, tiap kali mendapati jatah piket.

“Ini tadi di jalan dicegat orang-orang mau beli cilok, untung tidak terlambat,” ceritanya pada Jumat, 26 Oktober 2018 kemarin.

Setelah menyelesaikan tugas piket, Ida menuju ke sepedanya untuk melayani teman-temannya yang ingin membeli cilok. Namun, ia harus terlebih dahulu menyisihkan beberapa cilok yang sudah dipesan guru-gurnya sejak kemarin. Satu per satu pembeli pun ia layani dengan ramah. Belum juga ada 30 menit, cilok di dalam dandang sudah ludes terjual.

“Ya kadang habis, kadang ada sisa. Kalau sisa nanti buat makan sendiri di rumah,” katanya.

Cilok buatannya memang spesial, dengan harga Rp 5.00 per biji, ukuran ciloknya relatif besar, dan memiliki rasa yang enak. Jadi, wajar jika dagangannya sering habis sebelum jam sekolah usai.

“Saya dari dulu pengin beli, tapi enggak pernah kebagian, baru sekarang bisa beli,” kata Astri, siswi kelas XI.

Teman sekelasnya, Niken, menilai Ida Ayu memang seorang pekerja keras. Dia dan kawan-kawan salut dengan kegigihan Ayu yang tetap sekolah sembari berjualan cilok.

“Orangnya ramah, mau bekerja keras untuk membiayai sekolah. Seusia kita kan biasanya malu, gengsi berjualan,” ujar Niken.

Gadis yang dibesarkan di Bekasi ini menggunakan penghasilannya untuk membayar biaya sekolah ia dan adiknya, yang kebetulan bersekolah di sekolah yang sama. Usianya kini memang sudah 20 tahun, jauh lebih tua dari teman sebayanya.

Karena, setelah lulus SMP di Bekasi dulu, dia sempat berhenti sekolah selama empat tahun, karena kendala biaya. Hingga akhirnya ia pindah ke Karanganyar, karena mendapat kesempatan sekolah gratis di SMK Bhakti Karya.

“Sejak kelas 1 dan 2 saya sekolah gratis. Baru kelas 3 (XII) ini bayar, makanya jualan cilok. Sehari bisa untung Rp 40 ribu, itu untuk nyicil SPP, nabung, sama untuk sehari-hari,” ujar Ida Ayu.

Ia juga mengaku tidak pernah mendapat kiriman uang dari ibunya. Dan, ia pun tidak pernah mengharapkan hal tersebut, karena kondisi ekonomi keluarganya memang tidak cukup baik.

“Dulu sempat mau sekolah, tapi karena mahal, saya tidak mau (kemudian sempat berhenti sekolah). Sebenarnya ibu bilang boleh, tapi saya tidak mau karena mahal. Sekarang pun ibu masih harus menanggung adik saya yang ada di sana,” ujarnya.

Ida Ayu juga berbagi pengalaman suka duka yang ia alami selama berjualan cilok.

“Dukanya, pernah di-bully sampai kehujanan saat jualan. Kalau di-bully saya tidak tanggapi. Saya biasa saja. Tapi sukanya, saya senang bisa mendapat uang sendiri tanpa harus minta orang tua,” kata Ayu.

Ayu membagi waktunya untuk belajar dan berjualan cilok, ia menyetel alarm di handphone-nya. Jika waktu belajar tiba, alarm di handphone-nya akan berbunyi. Meski sedang berjualan sekalipun. Ayu juga memiliki cita-cita yang unik. Sejak kecil, ia bercita-cita ingin menjadi seorang petinju.

“Aku ingin jadi petinju, tapi tidak dibolehkan sama ayah. Kalau aku jadi petinju, biar kalau ada yang gangguin mama, biar aku tinju aja,” ucapnya.

Ayu belum punya gambaran, apa yang akan dilakukannya setelah lulus nanti. Dia juga belum pernah bergabung dengan klub tinju atau sejenisnya. Namun, dia mengikuti setiap agenda olahraga tinju, ia juga tahu siapa-siapa saja tokoh tinju, dan suka menyaksikan tayangan tinju di televisi.

“Di rumah juga suka menirukan gerakan petinju,” kata dia.

Ayu mengaku punya samsak sebagai sarana latihan, sekaligus sasaran pukulan di rumah.

“Itu samsak buatan sendiri,” kata dia.

Di halaman rumahnya juga ada beberapa pohon pisang yang menjadi ajang latihan tinjunya. Alasan Ayu ingin menjadi petinju cukup menarik. Dia ingin memiliki kemampuan bela diri, sebagai bekal jika suatu hari harus menghadapi kejahatan di depan mata kepalanya sendiri. Keinginan itu muncul, setelah banyak berita tindak kekerasan dan kriminalitas yang sebagian besar menyasar pada perempuan.

Baca Juga: 6 Kisah Inspiratif dari Mereka yang Terlihat Sempurna Dalam Ketidaksempurnaan ini Akan Membuatmu Berhenti Mengeluh Tentang Kehidupan

Di waktu senggang, ia juga banyak menulis cerita pendek dan puisi. Meski hobi membuat cerita pendek pun puisi, Ayu belum pernah mengikuti lomba. Sedangkan perjuangannya sebagai pedagang cilok, selalu ia lalui sejak pukul 02.00 WIB. Di saat mayoritas anak sekolah masih terlelap dalam mimpi, Ayu sudah harus bangun, untuk menyiapkan cilok dagangannya.

“Setiap pagi, pukul 02.00, saya harus bangun, bikin cilok. Setelah selesai menyiapkan sarapan, baru mandi dan berangkat sekolah,” papar Ida.

Rasa kantuk, lelah, dan keringat pun sudah tidak ia hiraukan. Dengan mengayuh sepeda berwarna biru dan membawa gerobak ciloknya, Ayu berangkat ke sekolah, tujuannya dua, yakni mencari ilmu, dan berdagang untuk mencari rezeki.

Jarak tempuh dari rumah ke sekolahnya sekitar 10 kilometer. Aktivitas tersebut dilakoninya hampir setiap hari. Untuk makan sehari-hari, kadang ia masak sendiri, atau membeli di luar, pun sebagian kerabatnya yang memberi.

“Sudah setahun ini saya jualan cilok untuk biaya hidup dan sekolah saya dan adik. Dulu masih ada nenek, sekarang sudah meninggal,” ucapnya.

Sejak SMP, saat masih tinggal di Bekasi, ia sudah kerja paruh waktu sebagai cleaning service di salah satu pusat perbelanjaan besar di Bekasi.

“Dulu pernah juga kerja jadi cleaning service paruh waktu, dengan gaji Rp 500,000 per bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, wali kelas Ayu, Henri Kismita, menyampaikan bahwa muridnya tersebut termasuk anak yang pandai. Ia masuk ke dalam peringkat 10 besar di kelasnya. Semangat juangnya juga tinggi, dia ingin prestasinya sama seperti yang lain. Dulu, saat kelas 2, ia sempat mau putus sekolah karena tidak ada biaya.

“Sempat dia cerita ingin keluar karena tidak ada biaya. Namun, saya katakan perjuangan dia sudah sangat jauh, sayang kalau harus berhenti di tengah jalan,” jelas Henri Kismita.

Bahkan, dirinya sempat terharu saat Ayu menanyakan apakah boleh sekolah dulu, baru kemudian membayar biayanya, ketika sudah lulus dan bekerja nanti. Untungnya, beberapa waktu lalu ia sempat mendapat bantuan beasiswa PIP sebesar Rp 1,000,000 yang digunakan untuk membayar biaya sekolah.

“Yang membuat saya terenyuh, dia sempat bilang, boleh enggak bayarnya nanti setelah saya kerja. Nanti saya balik lagi untuk bayar biayanya,” ucap Kismita menirukan ucapan sang murid.

Kismita juga menyampaikan jika sebelumnya, untuk berangkat sekolah, Ayu harus berjalan kaki, baru belakangan ini ia bisa menggunakan sepeda, sambil membawa dagangan. Bahkan gerobak kaleng yang ia gunakan pun dibuatnya sendiri, untuk menghemat biaya.

Sejak kisahnya menjadi viral di media sosial, banyak sekali tawaran yang datang pada Ayu untuk bekerja. Namun, kecintaannya untuk berjualan cilok, membuat gadis ini tidak langsung menerima tawaran tersebut.

Image result for ida ayu riski susilowati
antarafoto.com

Tapi apa pun itu, semoga semua nilai positif yang Ayu bagikan bisa kita pelajari. Dan, berpikir dua kali untuk mengeluh, serta lebih memilih untuk melanjutkan perjuangan hidup. Semangat Ayu, semangat juga untuk kita semua!

SHARE

Warning: A non-numeric value encountered in /srv/users/serverpilot/apps/gulalivesco/public/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

LEAVE A REPLY