Ibu Hamil Mesti Jauhi Parasetamol, Ini Alasannya

0
131
Parasetamol sebaiknya tak dikonsumsi ibu hamil.

Gulalives.com, JAKARTA – Ibu hamil sebaiknya hati-hati dan penuh pertimbangan dalam mengonsumsi obat, dalam hal ini obat bebas yang bisa dibeli tanpa resep dokter.

Pasalnya penggunaan obat pereda nyeri parasetamol dan penghilang rasa sakit lain dalam jangka panjang selama kehamilan dapat menimbulkan risiko kesehatan pada bayi laki-laki, demikian diingatkan para pakar.

Penelitian di Denmark menegaskan obat tersebut meningkatkan risiko buah zakar yang tidak turun pada bayi laki-laki, sebuah kondisi yang dikaitkan dengan infertilitas dan kanker saat mereka dewasa.

Parasetamol sebaiknya tak dikonsumsi ibu hamil tanpa konsultasi dengan dokter. Foto: thetelegraph.
Parasetamol sebaiknya tak dikonsumsi ibu hamil tanpa konsultasi dengan dokter. Foto: thetelegraph.

Para dokter sudah menasihati ibu hamil untuk menghindari minum obat penghilang rasa sakit sebisa mungkin guna melindungi janin di dalam kandungan. Para pakar mengatakan pada publikasi jurnal Human Reproduction temuan itu membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Namun para peneliti meyakinkan perempuan yang hanya sesekali mengonsumsi obat penghilang rasa sakit untuk sakit kepala tidak akan berbahaya.

Saran dari NHS  adalah agar perempuan menghindari mengonsumsi obat saat hamil, namun parasetamol dipertimbangkan aman jika digunakan dalam dosis rendah dan untuk meredakan sakit dalam jangka pendek.

Parasetamol dan obat nyeri lainnya meningkatkan risiko buah zakar yang tidak turun pada bayi laki-laki. Foto: foamem.
Parasetamol dan obat nyeri lainnya meningkatkan risiko buah zakar yang tidak turun pada bayi laki-laki. Foto: foamem.

Lebih dari separuh perempuan hamil di Eropa dan Amerika Serikat dilaporkan mengonsumsi penghilang rasa sakit dalam dosis rendah.

Pada penelitian terakhir tersebut, para peneliti dari Denmark, Finlandia dan Perancis mengamati lebih dari 2.000 ibu hamil dan bayinya.

Mereka menemukan bahwa perempuan yang sering menggunakan penghilang rasa sakit secara bersamaan (simultan), seperti parasetamol dan ibuprofen, memiliki risiko tujuh kali lipat lebih besar melahirkan bayi laki-laki dengan buah zakar yang tidak turun (cryptorchidism) dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengonsumsi apapun untuk meredakan rasa nyeri.

Pada trimester kedua,  kehamilan 14-27 minggu, tampaknya menjadi waktu yang paling peka.

Penggunaan analgesik pada titik ini dimasa kehamilan dikaitkan dengan risiko dua kali lipat janin laki-laki akan mengalami cryptorchidism.

Penggunaan analgesik pada titik ini dimasa kehamilan dikaitkan dengan risiko dua kali lipat janin laki-laki akan mengalami cryptorchidism (buah zakar yang tidak turun).
Penggunaan analgesik pada titik ini dimasa kehamilan dikaitkan dengan risiko dua kali lipat janin laki-laki akan mengalami cryptorchidism (buah zakar yang tidak turun).

Sebagai penghilang rasa sakit individu,  ibuprofen dan aspirin dikaitkan dengan peningkatan risiko empat kali lipat. Parasetamol sendiri tampaknya juga meningkatkan risiko, meskipun hasilnya secara statistik tidak bermakna.

Penggunaan simultan (bersama-sama) lebih dari satu penghilang rasa sakit, termasuk parasetamol, selama trimester kedua meningkatkan risiko hingga 16 kali lipat. Mengonsumsi penghilang rasa sakit lebih dari dua minggu tampaknya juga meningkatkan risiko secara signifikan.

Obat penghilang rasa sakit mengubah keseimbangan alami hormon laki-laki yang bekerja pada janin laki-laki.
Obat penghilang rasa sakit mengubah keseimbangan alami hormon laki-laki yang bekerja pada janin laki-laki.

Para peneliti menduga bahwa penghilang rasa sakit mengubah keseimbangan alami hormon laki-laki yang bekerja pada janin laki-laki sehingga menghambat perkembangan normalnya. Studi pada tikus mendukung teori ini.

Namun para perempuan hamil harus mendapatkan penjelasan yang lebih jelas soal ini, yaitu studi ini hanya memiliki efek untuk penggunaan penghilang rasa sakit dalam jangka panjang, sebagian besar perempuan yang menggunakan parasetamol dalam studi ini tidak memiliki bayi dengan kelainan cryptorchidism.

Meskipun ada sejumlah keterbatasan pada studi tersebut, tidak semua perempuan memiliki ingatan akurat tentang seberapa sering mereka mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, para peneliti mengatakan temuan tersebut menegaskan bahwa saran perempuan hamil atas penggunaan analgesik harus dipertimbangkan kembali.

Poin pentingnya adalah, ibu hamil jangan mengonsumsi obat sembarangan meski itu obat warung yang sekilas terlihat aman. (VW)

LEAVE A REPLY