europeanpharmaceuticalreview.com

Gulalives.co – Berhubungan intim saat hamil bukanlah sesuatu yang dilarang. Karena, berhubungan intim justru dapat memberi banyak manfaat bagi ibu hamil. Tapi ada banyak pasangan yang ragu untuk melakukan hubungan intim saat hamil. Apalagi, sempat beredar pemikiran jika sperma masuk ke dalam kandungan, bisa membahayakan janin. Namun, benarkah demikian?

Related image
deccanchronicle.com

Berhubungan intim sebenarnya merupakan salah satu aktivitas yang aman dilakukan saat hamil, dan tidak memberi dampak buruk bagi janin, selama dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan aman. Namun, katanya ejakulasi di dalam Miss V bisa membahayakan janin.

Karena sperma masuk ke dalam kandungan itu mengandung suatu zat tertentu yang bisa memicu reaksi sensitif pada mulut rahim. Karena itu, para suami disarankan untuk mengeluarkan sperma di luar Miss V, atau menggunakan pengaman, saat ingin berhubungan intim dengan istri yang sedang hamil.

Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar, lho. Ejakulasi di dalam Miss V merupakan hal yang aman, karena janin sudah dilindungi oleh selaput dan cairan ketuban. Sperma yang masuk ke dalam rahim juga tidak berbahaya untuk janin, kecuali jika suami mengidap infeksi alat kelamin atau AIDS.

Baca Juga: Dampak yang Terjadi pada Janin Jika Ibu Hamil Menangis

Namun, untuk ibu yang sedang hamil muda atau memiliki kondisi kehamilan yang lemah, sebaiknya tidak menumpahkan sperma dalam jumlah yang banyak di dalam Miss V, ya. Karena, saat sperma masuk ke dalam kandungan, dan mengandung zat prostaglandin, akan dapat memicu reaksi kontraksi pada rahim dan kram perut.

Sehingga bisa menyebabkan kelahiran prematur, atau bahkan keguguran jika usia kehamilan masih muda. Beda cerita jika kehamilan ibu sehat, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari ejakulasi di dalam Miss V. Walaupun tergolong aman, berhubungan intim saat hamil tetap memiliki risiko, antara lain:

  • Keguguran akibat adanya kromosom yang tidak normal atau kondisi lainnya.
  • Kontraksi uterus. Namun, jenis kontraksi ini berbeda dengan kontraksi menjelang kelahiran bayi.
  • Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak berhubungan intim dulu untuk sementara jika mengalami kondisi berikut:
  1. Mengalami pendarahan yang tidak jelas penyebabnya.
  2. Saat air ketuban bocor.
  3. Memiliki riwayat persalinan prematur.
  4. Memiliki kondisi kehamilan yang berisiko. Pada beberapa kehamilan yang kondisinya lemah atau berisiko, berhubungan intim sekalipun menggunakan pengaman akan tetap menimbulkan risiko seperti flek atau rasa mulas. Flek merupakan tanda adanya masalah dengan janin ibu, sedangkan rasa mulas bisa menandakan adanya kontraksi rahim dini yang bisa menyebabkan terjadinya keguguran atau kelahiran prematur.
  5. Mengalami plasenta previa, yakni saat plasenta menempel di bawah rahim, hingga menutup jalan lahir bagi janin yang akan lahir.
  6. Leher rahim terbuka terlalu awal.

Jadi, untuk ibu yang memiliki kondisi kehamilan sehat, berhubungan intim pada awal kehamilan justru dapat mengurangi ketegangan dan stres akibat perubahan hormon.

Sedangkan, pada trimester ketiga, berhubungan intim sangat disarankan untuk membantu merangsang kontraksi. Namun, di akhir semester kehamilan, perut ibu sudah sangat besar, sehingga mungkin akan lebih sulit untuk berhubungan intim, dan berisiko menekan perut sehingga berbahaya bagi janin.

Pada usia kehamilan cukup bulan (37 hingga 42 minggu) di mana kepala janin sudah memasuki rongga panggul, tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual, karena dikhawatirkan dapat menyebabkan perdarahan atau persalinan dini.

Related image
hellobaby.hu

Jika terdapat keputihan yang abnormal, sebaiknya kamu dan pasangan tidak melakukan hubungan intim. Dan, jika terjadi keluhan, segera konsultasi dengan dokter kandunganmu, sebelum terlambat.

LEAVE A REPLY