Mengapa Generasi Milenial Lebih Gampang Depresi?

0
73 views
olympicresidence-sentul.com

Gulalives.co – Pola hidup dan kebiasaan generasi milenial kerap menjadi headline di berbagai media massa. Dan, salah satu isu yang sering muncul adalah tingginya angka depresi yang menjerat generasi milenial. Ditemukan fakta menarik untuk penelitian ini, dalam jurnal yang dipublikasikan Psychological Bulletin, mereka menyatakan bahwa generasi milenial lebih gampang depresi. Tingkat depresi, kecemasan, hingga berpikiran untuk bunuh diri, generasi milenial saat ini dua kali lebih tinggi dari sepuluh tahun lalu.

Image result for generasi milenial
gogirl.id

Lewat tulisannya di Psychology Today, Russ Federman, psikolog senior dari Virginia, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa fenomena ini bukanlah tentang apa yang salah dari budaya masyarakat modern, melainkan sebuah refleksi dari tren sosial, dan norma yang terus berkembang. Teknologi dan ekonomi membawa pengaruh terbesar dalam evolusi ini. Lantas, mengapa generasi milenial lebih gampang depresi?

Pola Tidur Buruk

Pola tidur yang buruk yakni kebiasaan begadang, cukup melekat pada generasi milenial, khususnya mereka yang dikejar waktu untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. Studi dari University of California, Berkeley, mengatakan jika kurang tidur dapat mengganggu produktivitas seseorang keesokan harinya, sehingga mereka mudah gelisah, sulit menuntaskan pekerjaan, dan berujung pada stres.

Jadwal Makan Berantakan

“Menunda waktu makan atau tak menyempatkan diri untuk sarapan, dapat menyebabkan kadar gula darah tidak stabil. Akibatnya kamu jadi lebih mudah gelisah, pusing, bingung, dan sulit bicara,” tulis Body and Health.

Mager

Mager atau malas gerak, sudah menjadi kebiasaan buruk yang sering dilakukan generasi milenial. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk duduk atau tidur berjam-jam lamanya sambil bermain gadget, padahal jelas-jelas hal ini dapat meningkatkan risiko kecemasan dan kegelisahan, lho!

Perfeksionis

Perubahan budaya dan tingkat perfeksionisme mahasiswa antara tahun 1989 sampai 2016 di Amerika, Kanada, dan Inggris sangat berkaitan. Ditemukan bahwa skala perfeksionisme meningkat selama 27 tahun.

Penelitian juga mengindikasikan bahwa generasi muda cenderung memiliki tuntutan lebih tinggi terhadap orang lain dan diri mereka sendiri, mereka juga kerap menganggap bahwa orang lain memiliki tuntutan yang tinggi terhadap mereka.

Akibatnya, muncul ilusi kompetisi yang akhirnya membuat generasi milenial terdorong untuk mengejar hal yang tak mungkin mereka capai, yaitu kesempurnaan. Siklus ini yang akhirnya bisa menyebabkan depresi.

Terisolasi Media Sosial

Salah satu yang sangat identik dengan generasi milenial adalah media sosial. Selain menghibur, media sosial memudahkan mereka terkoneksi dengan teman, keluarga, dan kerabat.

Ironisnya, menggunakan media sosial secara berlebihan justru membuat penggunanya merasa terisolasi dan kesepian. Karena mereka yang menggunakan media sosial lebih dari dua jam per hari, memiliki kecenderungan untuk merasa terisolasi, dibandingkan dengan yang menggunakan media sosial kurang dari 30 menit per hari.

Baca Juga: 10 Bahaya Media Sosial

Selain itu, terdapat pula studi dari The Oregon Health & Science University yang membuktikan bahwa interaksi tatap muka bisa mengurangi risiko seseorang terkena depresi. Karena itu, menggunakan media sosial secara berlebihan, membuat milenial gampang mengalami depresi.

Masalah Ekonomi

Generasi milenial kerap menghadapi masalah ekonomi. Lapangan kerja yang hanya terpusat di kota-kota besar, membuat persaingan kerja bagi generasi milenial saat ini makin kompetitif. Sistem pendidikan saat ini pun tidak bisa sepenuhnya menjawab tantangan persaingan mereka.

Belum lagi, mereka terancam tak bisa memiliki rumah karena ketimpangan antara harga rumah dan kemampuan finansial. Berbagai tantangan ekonomi ini kerap menjadi tekanan bagi mereka, hingga memicu stres, dan akhirnya berisiko menjadi depresi.

Hoax

Dengan internet, generasi milenial memang bisa mendapat informasi dengan cepat. Namun, artinya mereka juga menjadi lebih rentan terpapar berbagai informasi negatif dari seluruh dunia dalam waktu bersamaan, termasuk hoax.

Media massa turut berperan sebagai faktor pemicu depresi, terutama media yang kerap memberitakan peristiwa negatif. Dan, jika seseorang terpapar informasi negatif secara terus menerus, bukan tidak mungkin dia akan lebih rentan stres hingga depresi.

Terlalu Banyak Kopi

Minum kopi sudah menjadi tren bagi mereka. Sayangnya, jika kopi diminum secara berlebihan dapat membuat kamu mudah gelisah. Konsumsi kopi terlalu banyak dapat membuat orang mudah gelisah, tersinggung, gugup, dan lebih cemas. Sensitivitas terhadap kafein akan mudah meningkat pada orang dengan gangguan panik.

Salah Curhat

Mereka terbiasa mengeluarkan seluruh isi hatinya, pada orang yang memiliki masalah serupa. Nah, hal ini membuat mereka tidak akan mendapatkan solusi, dan bukan tidak mungkin mereka justru akan semakin stres.

Related image
ruangmahasiswa.com

Jadi, itulah penyebab mengapa generasi milenial menjadi sekumpulan orang yang lebih mudah terserang depresi.

LEAVE A REPLY