Mengulik Tentang Penyakit Emboli yang Rentan Menyerang Ibu Hamil

healthreflect.com

Gulalives.co – Perubahan hormon dan berbagai risiko penyakit mengintai, karena ada banyak hal dalam tubuh wanita yang akan berubah selama masa kehamilan. Dan, tentu ini menjadi hal yang kerap membuat kehamilan bagai masa yang penuh dengan tantangan. Salah satu yang mengintai wanita selama kehamilan pun saat melahirkan adalah risiko penyakit Emboli. Terdapat dua jenis penyakit Emboli yang risikonya lebih besar terjadi, saat wanita sedang mengandung. Berikut penjelasan Gulalives:

Related image
imagingpathways.health.wa.gov.au

Penyakit Emboli Paru

Emboli paru merupakan suatu kondisi yang terjadi saat pembuluh darah arteri pada paru-paru tersumbat secara tiba-tiba. Penyebabnya adalah pecahnya gumpalan darah beku pada pembuluh darah kaki, yang kemudian bergerak ke pembuluh arteri pada paru-paru, dan menghalangi aliran darah.

Kondisi ini bisa menjadi sangat serius, dan risikonya jauh lebih besar untuk terjadi pada ibu hamil. Karena saat hamil, wanita mengalami berbagai perubahan dalam tubuhnya, seperti:

  • Perubahan hormon dan komposisi darah dalam tubuh yang mempengaruhi pembekuan darah.
  • Berkurangnya aliran darah pada bagian kaki, akibat berat tubuh janin yang menekan pembuluh-pembuluh darah.
  • Terjadinya cedera pada pembuluh darah saat melahirkan normal pun dengan bantuan operasi.

Perlu diketahui juga bahwa wanita yang hamil pada usia di atas 35 tahun atau mengalami obesitas saat hamil, memiliki risiko yang lebih besar lagi, akan terjadinya penggumpalan darah yang bisa memicu emboli paru.

Namun, setelah melahirkan, risiko terjadinya emboli paru pun akan berkurang secara perlahan. Maka, selalu mengupayakan diri ada dalam gaya hidup sehat bisa menjadi cara mengurangi risiko tersebut, saat kamu tidak mengalami obesitas.

Baca Juga: Dampak yang Terjadi pada Janin Jika Ibu Hamil Menangis

Penyakit Emboli Cairan Amniotik

Emboli yang kedua adalah jenis yang terbilang cukup langka, tapi jika terjadi, maka akan menimbulkan kondisi yang cukup serius. Emboli cairan amniotik merupakan kondisi ketika cairan amniotik (cairan yang mengelilingi janin dalam rahim), atau material lain yang berhubungan dengan janin, masuk ke dalam aliran darah si ibu.

Kondisi ini kemungkinan besar terjadi saat proses melahirkan, atau sesaat setelahnya, dan bisa juga dipicu oleh trauma, benturan, atau kecelakaan yang terjadi selama kehamilan. Emboli cairan amniotik merupakan salah satu kondisi yang sulit untuk didiagnosis, bahkan bisa berkembang secara tiba-tiba, dengan begitu cepat. Lantas, apa saja tanda-tandanya?

  • Sesak napas,
  • Terdapat cairan yang berlebihan pada paru-paru,
  • Kegagalan jantung untuk memompa darah,
  • Menurunnya tekanan darah secara mendadak,
  • Kedinginan,
  • Meningkatnya denyut jantung atau adanya gangguan pada ritme detak jantung,
  • Janin mengalami penurunan denyut jantung, atau kondisi detak jantung yang tidak normal,
  • Kejang-kejang, hingga
  • Koma.

Penyakit Emboli cairan amniotik biasanya juga terjadi karena beberapa faktor risiko, seperti:

Related image
wap.91160.com
  • Usia ibu hamil di atas 35 tahun, akan berisiko lebih besar mengalami emboli cairan amniotik.
  • Jika terdapat masalah abnormal pada plasenta, risiko terjadinya emboli cairan amniotik pun akan meningkat.
  • Kelahiran dengan operasi caesar, karena prosedur operasi ini juga bisa memecah penghalang fisik antara ibu dan janin.
  • Pre-eklampsia, yakni suatu kondisi di mana tingginya tekanan darah dan adanya kandungan protein yang berlebihan di dalam urine, setelah minggu ke-20 kehamilan.
  • Terakhir adalah polyhydramnios, yakni suatu kondisi di mana terlalu banyaknya cairan amniotik yang mengelilingi janin dalam rahim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here