Gulalives.com, JAKARTA – Dampak kebakaran hutan, bukan hanya terancamnya kesehatan masyarakat. Yang paling utama, kebakaran itu mengancam kualitas lingkungan. Paparan api hutan menghasilkan komponen gas rumah kaca, yang memicu pemanasan global. Di titik ini lah kualitas lingkungan terancam.

Mom dan Ladies, pemanasan global terjadi karena efek rumah kaca. Efek ini menjadikan panas matahari, yang seharusnya menguap setelah terserap bumi, jusru terpantul kembali ke bumi. Pantulan ini menyerupai pantulan panas di dalam rumah kaca. Tahu nggak, panas yang terpantul kembali ke bumi itu sebesar 30 watt per meter persegi. Pantulan ini lah yang membuat suhu bumi, atmosfer, dan lingkungan memanas.

Rumah kaca yang menyebabkan pantulan panas itu terbangun oleh gas rumah kaca (GRK) yang menyelimuti bumi. Nah, GRK terbentuk oleh beberapa partikel gas. Yakni, CO2 (karbon dioksida), CH4 (methana),N2O (nitroigen oksida), CFC (chloro fluoro karbon), HFC (hidro fluoro karbon), PFC (perfluoro karbon), serta SF6 (sulphur heksafluoro).

Mom dan Ladies, dibaca pelan – pelan saja ya. Tidak perlu terlalu serius, sampai mengernyitkan kening. Ini penting agar wawasan Mom dan Ladies soal lingkungan semakin luas dan sempurna.

Baiklah, mari lanjutkan lagi. Seperti dikutip dari buku “Dampak Pemanasan Global”, yang ditulis oleh pakar lingkungan hidup Wisnu Arya Wardhana, gas rumah kaca juga dihasilkan oleh aktivitas manusia. Yakni aktivitas di bidang transportasi, industri, pembuangan sampah, pembakaran stasioner, dan lain – lain.

Wisnu memasukkan kebakaran hutan ke dalam kategori lain – lain. Emisi gas dari kebakaran hutan merupakan pemicu potensail terjadinya pemanasan global. Duh!

Apakah Mom dan Ladies tahu, mengapa kebakaran hutan bisa memicu pemanasan global? Itu karena banyaknya partikel methan (CH4) saat hutan terbakar. Masih ingat kan, sebelumnya disebutkan bahwa salah satu partikel pembentuk Gas Rumah Kaca (GRK) adalah methan.

Mirisnya, selain memicu pemanasan global, methan justru membuat hutan rentan kebakaran. Dengan kata lain, methan mengakibatkan hutan mudah terbakar, sekaligus mendorong terjadinya pemanasan global.

Dalam bukunya, Wisnu mengatakan, kebakaran hutan secara umum akan mudah terjadi apabila lahan hutan mengeluarkan methan. Partikel ini berasal dari pembusukan anaerob alami sampah organik. Mom dan ladies tentu tahu kan, bahwa sampah organik di hutan berasal dari daun – daun yang berguguran.

Situasi semakin buruk ketika lokasi hutan yang terbakar dekat dengan lahan gambut. Mengapa? karena lahan gambut, biasanya juga mengeluarkan gas methan (CH4), yang sangat mudah terbakar. Lahan gambut sangat sensitif terhadap api karena dia adalah senyawa hidrokarbon, yang menyerupai batu bara muda.

Oke, semoga uraian ringkas ini menyempurnakan wawasan Mom dan Ladies soal kebakaran hutan. (AA/SY)

LEAVE A REPLY